Efek Psikologis Pelatih yang Buruk


Melatih merupakan aktivitas yang melibatkan transfer berbagai macam hal kepada para atlet dari seorang pelatih. Tujuan utama dari proses latihan adalah meningkatkan kemampuan semua aspek olahraga dari para atlet, mulai dari aspek fisik, teknik-taktik dan aspek mental. Oleh karena itulah, seorang pelatih harus membekali diri dengan semua keterampilan yang dibutuhkan dalam rangka proses transfer tadi.

Di dalam beberapa penelitian sebelumnya, ditemukan beberapa indikator berkaitan dengan kualitas pelatih yang baik, antara : sangat menguasai teknik dan taktik olahraganya, bisa membuat rencana dengan baik, mampu meningkatkan persepsi kepercayaan diri dan motivasi pemain, serta mampu membangun komunikasi dan hubungan interpersonal yang baik dengan atlet. Indikator-indikator tersebut merupakan hasil dari beberapa penelitian yang mencoba memetakan bagaimana sikap dan perilaku pelatih yang baik tersebut.

Namun, ada kalanya seorang pelatih gagal memberikan situasi yang memadai kepada para atletnya. Efeknya, proses yang seharusnya berlangsung dengan baik justru berubah menjadi sesuatu yang merugikan untuk keseluruhan elemen. Penelitian dari Gearity & Murray (2011) membuktikan hal itu. Penelitian bermetode kualitatif tersebut memaparkan bagaimana efek psikologis yang timbul akibat buruknya cara melatih dari seorang pelatih.

Penelitian ini dilakukan pada 16 orang atlet dengan menggunakan metode fenomenologi eksistensialis. Peneliti melakukan wawancara yang mendalam terhadap 16 orang partisipan tersebut berkaitan dengan efek yang muncul jika dilatih oleh seorang pelatih yang buruk. Hasilnya, ada lima tema utama yang muncul berkaitan dengan cara melatih yang buruk ini. Kelima tema itu adalah kualitas melatih yang buruk, tidak perhatian, tidak adil, menghambat keterampilan mental atlet, dan koping atlet. Selanjutnya, akan dibahas dua temuan terakhir yang sejalan dengan konstruk-kontruk dalam teori psikologi olahraga.

Hal-hal yang menyusun tema menghambat keterampilan atlet adalah mengganggu konsentrasi (distracting), memunculkan rasa ragu, demotivasi, dan memecah belah tim. Hal ini jelas terlihat bahwa secara psikologis peran pelatih sangat diharapkan mampu memberi motivasi dan menjadi model bagi para atlet. Pelatih yang buruk ternyata justru membuat kondisi mental menjadi bertambah buruk bagi para atlet.

Sedangkan tema Koping terhadap tekanan dari para atlet muncul karena sebenarnya para atlet sendiri merasakan tekanan di dalam tim yang justru berasal dari para pelatih yang dipersepsi buruk oleh atletnya. Kondisi ini juga jelas mengindikasikan bahwa pelatih justru menjadi sumber stress dari para atlet.

Berdasarkan penelitian tersebut, jelas sekali terlihat bahwa seorang pelatih memegang peranan yang sangat penting bagi kemajuan dan perkembangan para atlet atau pemainnya. Pelatih yang tidak menguasai materi dengan baik akan dipersepsi sebagai pelatih yang tidak cukup mampu melatih. Begitu juga jika pelatih tidak mampu membangun hubungan interpersonal dengan baik, maka juga akan meningkatkan ketegangan dalam proses latihan.

Implikasi untuk para pelatih adalah mereka harus betul-betul menguasai teknik dan taktik dan semua hal yang berkaitan dengan olahraga yang digeluti. Banyak sekali kasus di Indonesia, seorang pelatih masih hanya mengandalkan pengalaman sebagai pemain dahulu. Pengalaman memang sesuatu yang sangat penting, tapi ilmu kepelatihan selalu berkembang dan bergerak maju dengan sangat cepat. Oleh karena itulah, untuk para pelatih, jangan puas dengan bermodal pengalaman. Belajar adalah hal yang sangat penting untuk seorang pelatih.

Hal kedua, masih banyak ditemui para pelatih mengandalkan pendekatan tangan besi dan kekerasan untuk mendisiplinkan para atletnya. Di satu sisi, pelatih seperti ini akan memunculkan atlet-atlet yang sangat patuh terhadapnya. Tetapi di sisi lain, kondisi latihan maupun pertandingan tidak akan pernah kondusif untuk para pemain, karena para pemain hanya diliputi kecemasan dan ketakutan terhadap pelatih.

Ketiga, pelatih harus menguasai betul ilmu psikologi agar pendekatan yang digunakan benar-benar sesuai dengan kondisi para atlet. Bukan berarti harus selalu menyesuaikan dengan para atlet, tapi pelatih harus tahu betul menangani kondisi atletnya satu persatu dan membangun hubungan yang sehat dengan para atletnya. Pelatih harus punya sistem yang baku, selanjutnya penerapan atas sistem tersebut yang memerlukan banyak sekali kompromi dan variasi.

Selamat berlatih.

Gearity, B.T., & Murray, M.A. (2011) Athletes’ experiences of the psychological effects of poor coaching. Psychology of Sport and Exercise, 12, 213-221

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s