Orang tua, Mari Tingkatkan Motivasi Anak!


Image

Motivasi merupakan salah satu elemen sangat penting dalam konteks berolahraga. Seperti halnya faktor-faktor mental lainnya, motivasi seringkali mengalami fluktuasi. Satu hal yang bisa menjadi faktor penentu peningkatan motivasi adalah peran orang tua. Hubungan yang positif dengan anak terbukti memberi efek yang positif terhadap peningkatan motivasi anak dalam berolahraga.

Sarah Ullrich-French & Alan Smith (2006) mencoba memprediksikan hubungan dengan orang tua serta teman sebaya dalam kaitannya dengan peningkatan motivasi dari anak-anak dalam berolahraga. Penelitian yang berjudul Perceptions of relationships with parents and peers in youth sport: Independent and combined prediction of motivational outcomes merekomendasikan bahwa orang tua harus mampu menjalin hubungan yang positif dengan anak yang berlatih olahraga. Penelitian yang dilakukan pada 186 pemain sepakbola yang berusia antara 10-14 tahun tersebut menunjukkan bahwa hubungan yang positif dengan orang tua serta penerimaan yang positif dari teman sebaya terbukti meningkatkan level motivasi yang berasal dari dalam individu.

Motivasi ini menjadi salah satu elemen penting dalam menunjang keberhasilan seorang pemain sepakbola usia muda dalam menjalani karir permainannya. Anak-anak yang termotivasi akan mempunyai kecenderungan untuk menikmati aktivitas yang dilakukannya. Berkaitan dengan kesenangan ini, penelitian tersebut juga menemukan bahwa penerimaan yang positif dari teman sebaya serta hubungan dengan keluarga.

Temuan ketiga dari penelitian tersebut adalah para pemain muda tersebut cenderung mempunyai tingkat stress yang lebih rendah dalam menjalani aktivitas bermain sepakbolanya ketika mereka merasa mendapat penerimaan yang baik dari teman-teman sebaya serta mempunyai hubungan yang positif antara ayah dan anak.

Penelitian tersbut menggambarkan dengan jelas bahwa peran hubungan dengan orang tua dalam konteks pembinaan sepakbola dalam anak-anak. Orang tua memainkan peranan yang signifikan dalam peningkatan motivasi dari anak-anak untuk terus berlatih dan mengembangkan diri.  Saran bagi orang tua adalah kewajiban untuk membangun hubungan yang positif dengan anak-anak untuk menunjang keberhasilan dalam permainan sepakbola.

Ada sedikit kesalahan persepsi berkaitan dengan aspek motivasi anak-anak jika dikaitkan dengan peran orang tua. Sementara orang menganggap bahwa motivasi hanya bisa diberikan dengan dorongan-dorongan verbal atau pemberian-pemberian hadiah bagi anak-anaknya yang berprestasi. Banyak orang tua menganggap bahwa dorongan motivasi kepada anak hanya bisa dilakukan dengan iming-iming hadiah jika anak berprestasi. Hal itu memang tidak sepenuhnya salah, karena memang hal tersebut bisa meningkatkan motivasi bagi anak. Namun, melihat jenis motivasi yang merupakan motivasi ekstrinsik, maka ada kemungkinan sifat dari motivasi tersebut tidak akan bertahan lama dan terkadang agak sulit menentukan jenis barang atau hadiah yang benar-benar tepat untuk anak.

Memberikan Rasa Nyaman

Berdasarkan penelitian yang dibahas di awal, menjalin hubungan yang positif antara orang tua dan anak justru akan mampu memunculkan motivasi yang bersifat intrinsik dalam bermain sepakbola. Motivasi intrinsik mempunyai karakteristik dasar yakni mempunyai efek yang lebih tahan lama ketimbang motivasi yang bersifat ektrinsik.

Relasi yang banyak berkembang antara orang tua dan anak dalam konteks bermain sepakbola sering kali berwujud sebagai perintah-perintah orang tua kepada anaknya. Kecenderungan ini bisa dilihat di lapangan ketika anak-anak sedang berlatih atau bertanding. Orang tua seringkali menjadi orang yang seolah-olah tahu segalanya dan dengan serta merta memerintahkan anak-anaknya bermain sesuai dengan kemauan orang tua. Tidak jarang perintah-perintah tersebut disampaikan dalam bentuk marah-marah. Tidak jarang pula kita temui orang tua yang sampai mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas kepada anaknya yang dianggap melakukan kesalahan saat bermain sepakbola.

Fakta tersebut jelas bukanlah contoh hubungan yang positif antara orang tua dan anak. Kejadian-kejadian seperti itu akan cenderung menyebabkan anak-anak merasa terancam dan tidak nyaman karena pada saat bermain selalu diliputi ketakutan akan melakukan kesalahan. Ketidaknyamanan psikologis anak akan berakibat langsung pada kelangsungan keinginan untuk bermain sepakbola.

Hubungan yang positif adalah hubungan yang mempunyai sifat suportif dan sering harus berada dalam level yang sama. Artinya, orang tua tidak selalu harus menjadi orang yang paling tahu tentang apa yang dilakukan oleh anaknya, tapi sekali waktu harus menjadi teman yang mau mendengarkan apa yang disampaikan oleh anaknya. Sifat suportif ini akan memunculkan rasa percaya diri sekaligus motivasi bagi anak untuk terus mau berlatih dengan lebih baik.

Ingat, anak-anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk yang kecil. Anak-anak adalah anak-anak yang secara alamiah ingin bermain dan bergembira. Kesalahan adalah bagian dari proses belajar yang harus dialami oleh anak-anak. Orang tua hendaknya menjadi orang yang memberitahukan kesalahan-kesalahan tersebut tanpa harus membuat anak menjadi tertekan dan ketakutan. Pola komunikasi yang positif serta pemberian dukungan yang proporsional akan lebih bermanfaat dalam jangka waktu yang panjang ketimbang sekedar memarah-marahi anak.

Marilah menjadi orang tua yang bijak dengan membangun hubungan yang positif dengan anak-anak yang berlatih sepakbola. Janganlah menganggap bahwa anak harus selalu menjadi fotokopian dari orang tua. Biarkanlah anak-anak berkembang sesuai dengan perkembangan usia dan perkembangan kepribadianya. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s