Aspek Mental Bukan Sekedar Agresi


ImageAda banyak kesalahan persepsi berkaitan dengan aspek mental dalam dunia olahraga. Sebagian besar orang menganggap aspek mental ini hanya berkaitan dengan keberanian dalam  bertanding dan bertempur di lapangan. Efeknya, para atlet atau pemain didorong sedemikian rupa untuk menjadi gladiator-gladiator yang hanya berani mati bertempur di lapangan.

Bicara tentang keyakinan di atas, berarti akan menyinggung tentang aspek motivasi dan agresivitas dalam olahraga. Banyak pelaku olahraga (khususnya para Pembina dan pelatih) yang mempercayai bahwa dengan motivasi yang sangat tinggi serta keberanian untuk mati di lapangan maka sudah cukup modal untuk memenangkan permainan, tentu saja para pelatih sudah memberikan materi teknik, taktik dan fisik yang memadai.

Kenyataannya, pada banyak kasus, dorongan yang berlebih tersebut justru bermata dua bagi atlet tersebut. efek pertama adalah kurangnya control atas semua gerakan tubuh dari para atlet. Motivasi yang berlebihan akan memacu seseorang untuk melakukan semua hal (secara otomatis) dalam menjalani permainan. Hal inilah yang cenderung membahayakan karena motivasi yang membuncah tersebut cenderung menghasilkan control gerak yang tidak stabil. Pemain hanya berkeinginan untuk selalu menyerang tanpa berpikir panjang tentang konsekuensi yang akan dihadapinya.

Kondisi tersebut sangat terlihat ketika atlet kita bertanding dalam level yang lebih tinggi, misalnya level regional dan internasional. Para atlet cenderung membabi buta untuk menyerang lawan tanpa berpikir banyak tentang strategi. Barangkali di kepalanya sudah betul-betul “panas” untuk segera menghancurkan musuh. Di level lebih tinggi, yang tentu saja lawan yang dihadapi adalah para atlet dengan kemampuan teknis yang setara atau bahkan lebih tinggi, maka dibutuhkan pengontrolan aspek psikologis lainnya, yakni emosi. Control emosi artinya mengontrol semua gerak, berpikir awas, dan bertindak rasional bermodal semua otomatisasi gerak yang sudah dilatihkan. Disinilah letak pengalaman kemudian berperan. Pengalaman bertanding di level yang lebih tinggi akan mengajari para atlet untuk mengatasi persoalan-persoalan permainan yang levelnya juga lebih tinggi.

Emosi yang berlebihan tersebut yang kemudian berubah menjadi agresivitas yang keluar batas. Hal ini juga sangat berbahaya bagi perkembangan atlet tersebut. Para pembina yang selalu menekan para atlet dengan tujuan agar menjadi lebih “berani” sebenarnya sedang melakukan perjudian yang besar. Para atlet yang menjadi tertekan akan melampiaskan tekanan yang mereka terima ke hal-hal yang justru akan merugikan. Contoh sederhana adalah pendidikan yang terjadi di dalam militer. Memang jika di dunia militer, para prajurit diajari untuk menjadi agresif dan siap berperang kapan saja. Hal itu dilakukan karena memang tugas mereka adalah membasmi musuh yang mengancam.

Pemberian tekanan pada atlet harus dihitung dengan cermat untuk menghindari efek negatif dari tekanan tersebut dalam diri atlet. Agresivitas harus mempunyai tujuan dan tidak sekedar untuk “menghancurkan” lawan. Agresivitas adalah bentuk manifestasi dari motivasi yang tinggi, namun akan merugikan jika atlet gagal mengontrolnya. Pengalaman bertanding dalam level yang tinggi merupakan syarat mutlak bagi atlet dan para pelatih untuk bisa menerapkan intervensi motivasi dan agresi. Selain itu, penguasaan teknik dasar, taktik serta fisik yang prima menjadi faktor yang akan menentukan efektif atau tidaknya sebuah dorongan.

Benar jika energy mental terkadang menjadi penentu keberhasilan seorang atlet dalam menjalani pertandingan. Tapi hal itu hanya akan terjadi dalam kasus-kasus tertentu dan hanya akan keluar sesekali. Tidak mungkin seorang atlet yang mengikuti kompetisi dengan banyak pertandingan berurutan bisa mengandalkan energy mental saja untuk memenangi pertandingan. Di dalam sebuah turnamen misalnya, ketika seorang atlet telah mengeluarkan semua energy mentalnya untuk pertandingan perempat final, maka hampir bisa dipastikan dia akan mengalami penurunan yang signifikan, hasilnya atlet tersebut bisa dipastikan akan tampil tidak sebagus pertandingan sebelumnya jika hanya mengandalkan energy mental.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s