Motivasi Tepat, Penalti Melesat!


Sekilas, menendang penalti dalam pertandingan sepakbola cukup mudah dilakukan. Bagaimana tidak, dari jarak 12 meter seorang penendang tinggal menceploskan gawang selebar 7 meter yang hanya dijaga oleh satu orang kiper. Tidak ada gangguan langsung dari lawan. Secara teori mungkin mudah bagi penendang, tapi kenyatannya tidak jarang tendangan penalti hanya tinggal menyisakan kekecewaan bagi pendukung karena tendangan gagal menembus jala lawan.

Ada banyak hal yang mempengaruhi keberhasilan seorang penendang dalam mengeksekusi tendangan penalti. Salah satunya adalah fokus yang dipilih oleh penendang sebelum mengeksekusi tendangannya. Penelitian dari Plessner, dkk. (2009) memberi bukti bahwa jenis fokus yang dipilih oleh penendang menentukan keberhasilan eksekusi penalti.

Berdasarkan teori regulatory focus yang dikembangkan oleh Higgins (1997) setiap orang mempunyai dua jenis fokus motivasi untuk mencapai tujuannya, yakni yang bersifat promosi dan bersifat prevensi. Promosi berkaitan dengan harapan-harapan atau pencapaian-pencapaian tertentu, sedangkan prevensi lebih dekat dengan tanggung jawab atau kehati-hatian. Setiap orang mempunyai nilai keyakinan-keyakinan  tertentu dalam melaksanakan tugasnya.

Plessner, dkk. (2009) menemukan bahwa  penendang penalti akan lebih berhasil jika mereka mempunyai karakter fokus yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.  Di dalam penelitian ini para responden diminta untuk mengisi kuesioner regulatory focus untuk menentukan tipe motivasi mereka. Setelah itu mereka menjalani eksperimen. Eksperimen tersebut berupa para pemain harus melakukan 5 kali tendangan penalti. Sebelum menendang, mereka harus menghadap ke salah satu petugas yang akan memberi instruksi berkaitan dengan model motivasi yang harus dilakukan.

Untuk motivasi yang bersifat promosi, instruksi untuk para pemain adalah: “Kamu akan melakukan 5 kali tendangan penalti. Kamu diminta untuk mencetak gol minimal 3 kali.” Pernyataan ini mengandung arti bahwa pemain harus bisa memasukkan 3 buah gol. Sedangkan untuk motivasi yang bersifat prevensi dikatakan: “kamu akan melakukan 5 kali tendangan penalti. Tugasmu adalah tidak meleset lebih dari 2 kali.” Pernyataan ini meminta agar pemain tidak meleset lebih dari 2 kali. Meskipun maknanya sama, tapi mental set yang harus dibangun oleh pemain berbeda. Pernyataan pertama bermakna agar pemain mencapai hasil tertentu, sedangkan pernyataan kedua bermakna agar pemain menghindari agar tidak gagal dalam jumlah tertentu.

Hasil dari eksperimen kemudian dikorelasikan dengan hasil kuesioner yang sebelumnya diisi. Kesimpulannya adalah para pemain yang mempunyai sifat dasar yang bersifat preventif dan diinstruksikan dengan pernyataan kedua (preventif) mencapai hasil yang lebih baik dibanding sebaliknya.  Yang paling buruk adalah pemain yang sifat dasarnya preventif diinstruksikan dengan instruksi yang promotif atau pemain yang sifat dasarnya promotif diinstruksikan dengan pernyataan yang bersifat preventif.

Penelitian tersebut mengindikasikan bahwa penendang penalti yang sukses adalah ketika berhasil menyesuaikan antara motivasi dasar dan kebutuhan di lapangan. Jika antara motivasi dasar dan kondisi pada saat menendang bisa pas, maka kemungkinan bola masuk menjadi lebih tinggi. Penelitian ini juga memberi gambaran lebih jauh tentang bagaimana karakter seorang pemain sangat menentukan keberhasilan di dalam pertandingan (khususnya saat adu tendangan penalti).

Rekomendasi untuk para pelatih agar lebih jeli dalam menentukan para penendang penaltinya. Lebih jauh lagi, penelitian ini merekomendasikan bahwa para pelatih sudah seharusnya memahami betul karakter para pemainnya. Regulatory focus theory menyediakan alat untuk pemahaman tentang pemain dengan lebih baik. Sifat dasar promosi dan prevensi bisa digunakan untuk menentukan tanggung jawab yang harus diemban oleh seorang pemain dalam permainan. Ke depan, akan sangat berguna jika ada penelitian-penelitian lanjutan berkaitan dengan teori ini, barangkali terkait dengan peran posisi dalam sebuah tim, antara striker, pemain tengah atau bek. Dugaan sementara, para pemain yang sukses dalam karirnya menemukan kecocokan antara sifat dasar dengan peran dan fungsi mereka di lapangan.

Sebagai tambahan informasi, dari beberapa penelitian diperoleh hasil bahwa para atlet dari cabang-cabang olahraga beregu ternyata lebih banyak menggunakan tipe promosi. Sedangkan dari cabang-cabang olahraga individual lebih banyak menggunakan tipe prevensi. Ini juga memberi informasi kepada para pelatih untuk memberi motivasi yang tepat kepada para atletnya. Untuk pelatih olahraga tim, maka biasakanlah untuk mendorong mereka mencapai hasil yang lebih baik, sedangkan untuk pelatih cabang olahraga individu, maka doronglah para atlet agar menghindari banyak kesalahan.

Guntur Utomo

Naskah merupakan tinjauan dari artikel jurnal:

Plessner, H., Unkelbach, C., Memmert, D., Baltes, A., & Kolb, A. (2009) Regulatory fit as a determinant of sport performance: How to succeed in a soccer penalty-shooting. Psychology of Sport and Exercise. 10; 108–115

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s