Menunggu Titik Puncak Pembinaan


Sea Games ke-25 Laos sekali lagi akan menjadi bukti dari hasil pembinaan olahraga di Indonesia. Para atlet dari 22 cabang olahraga yang diikuti oleh kontingen Indonesia akan mengevaluasi kekuatannya dalam perhelatan even multi cabang terbesar di Asia Tenggara Ini. Kita akan melihat bagaimana peta olahraga Indonesia di kawasan ini.

Sebanyak 346 atlet dikirim ke Laos untuk mengharumkan nama Indonesia. Rita Subowo, ketua umum KONI/KOI dalam sambutannya pada acara mental training di gedung serba guna kawasan senayan Jakarta (2/12) menyampaikan bahwa hanya ada dua kesempatan bendera suatu bangsa berkibar di negeri orang, yaitu kunjungan presiden atau kepala negara dan ketika seorang atlet merebut medali pada even olahraga. Tentu saja ini adalah bentuk kebanggaan bagi suatu bangsa atau seorang atlet andai bisa mengibarkan sang saka merah putih di negeri orang. Kita bisa ingat bagaimana Susi Susanti sampai menitikkan air mata ketika Lagu Indonesia Raya dan Merah putih berkibar setelah dia mampu menyumbangkan medali emas pertama bagi Indonesia di Barcelona Spanyol. Tidak hanya Susi, bangsa Indonesia yang menyaksikan momen tersebut pun tidak kalah terharunya.

Begitu besar kebanggaan tersemat di dada warga republik ini ketika melihat bagian dari anak bangsa berhasil berprestasi dalam bidang olahraga. Hal ini menunjukkan bahwa olahraga merupakan salah satu cara untuk menunjukkan eksistensi sebuah bangsa dan masyarakat. Olahraga tidak hanya mampu menjadi pelipur lara bagi sebuah negeri yang sedang koyak, tapi olahraga seharusnya juga mampu menjadi tonggak untuk memulai membangun seluruh sendi bangsa ini.

Logika sederhananya adalah ketika seorang atlet mampu berprestasi tingkat dunia, tentu dimulai dari proses yang tertata rapi dengan manajemen yang teratur. Pembenahan organisasi olahraga tentu saja akan membawa dampak yang positif bagi pembenahan setiap unsur penggerak negeri ini. Untuk menciptakan seorang atlet yang berprestasi dunia perlu dukungan dan kerja keras dari berbagai macam pihak, mulai dari pelatih, pengurus, atlet, orang tua hingga komponen masyarakat yang tidak secara langsung terlibat. Pencetakan atlet berprestasi butuh biaya mahal dan waktu yang tidak sebentar. Secara umum, dibutuhkan waktu lebih dari 10 tahun untuk melatih seorang atlet agar bisa berprestasi, itu pun dengan syarat segala fasilitas dan infrastruktur tersedia.

Pengurus harus benar-benar profesional untuk menciptakan situasi yang kondusif, pelatih harus mumpuni dengan dibekali oleh metode-metode kepelatihan modern dan ilmu pengetahuan, orang tua membantu dengan dukungan emosional, masyarakat tentu saja dengan harapannya berdoa agar para atlet mampu membesarkan identitas yang sama dengan mereka. Tentu saja ini adalah pekerjaan yang tidak ringan ditengah kondisi pembinaan olahraga Indonesia yang begitu rupa.

Tapi, kita adalah bangsa yang besar. Tidak sepatutnya kita menyerah pada keadaan. Kita sudah sangat terlatih menghadapi situasi-situasi yang sulit sehari-hari, nyatanya kita bisa dan mampu bertahan. Dengan sisa-sisa kekuatan yang kita miliki, marilah kita bangun kebanggaan negeri ini.

Melihat para atlet di acara training mental untuk mereka beberapa waktu lalu, terus terang penulis merasa sangat terharu. Bagaimana tidak, atlet yang rata-rata masih berusia sangat muda sudah memikul beban yang begitu berat untuk mengharumkan nama bangsa sebesar Indonesia. Mereka sungguh orang-orang yang tidak pernah takut untuk merubuhkan rintangan di depan mereka. Dengan sangat serius mereka mengikuti sesi acara yang dipandu oleh trainer profesional dari Universitas Indonesia. Mereka sudah melakukan apa yang mereka bisa dan sudah memberikan apa yang mereka punya. Kalaupun di Laos mereka tidak tampil maksimal, seharusnya kesalahan bukan tersemat di pundak mereka, para pengurus dan pengambil kebijakanlah yang harus bertanggung jawab. Sekali lagi, olahraga prestasi merupakan sebuah konsep industri, mereka adalah orang-orang terbaik yang dicetak untuk menjadi yang terbaik. Jika hasil cetakannya tidak baik, maka yang salah adalah alat pencetaknya, bukan materinya.

Kita lihat apa yang bisa diberikan oleh insan-insan olahraga yang akan berlaga di Laos dari tanggal 9-19 Desember 2009. Memang pengurus sudah tahu diri dengan hanya menargetkan peringkat 3 di Laos. Tentu saja ini belum memuaskan, tapi paling tidak ini adalah sebuah kondisi logis atas situasi olahraga di negeri ini. Tentu rakyat Indonesia menginginkan hasil yang lebih baik dari apa yang ditargetkan, namun saat ini nasi telah menjadi bubur. Bukan Sea Games mungkin tempatnya, barangkali Asian Games atau bahkan Olimpiade.

Laos 2009 seharusnya bisa menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak yang mencintai olahraga dan mencintai Bangsa Indonesia. Kita adalah bangsa yang besar, tidak sepatutnya kita menerima keadaan begitu saja. Ayo kita bergerak maju, memutar otak dan membuka diri terhadap semua hal yang membuat kita baik. Keras kepala, egoisme dan sentimen politis seharusnya disampingkan untuk kejayaan bangsa yang tengah terpuruk ini.

Kita dukung Indonesia di Sea Games ke-25 Laos. Semoga merah putih akan tetap berkibar, semoga bangsa Indonesia akan tetap jaya. Selamat berjuang para atlet garuda, semoga hasil yang terbaik yang akan kalian bawa pulang.

Guntur Utomo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s