Kemenangan Mental Untuk Tim Uber!


Luar Biasa! mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perjuangan tim Uber Indonesia saat berlaga di Thomas-Uber Cup 2008 yang berlangsung beberapa waktu lalu di Jakarta.

Bagaimana tidak, dari target hanya masuk disemi final, mereka dengan gagah berani berhasil menembus final. Meskipun akhirnya gagal di partai final, tapi Jo Novita dan kawan-kawan benar-benar menunjukkan determinasi dan kekuatan mental yang luar biasa. Hanya memang secara teknik harus diakui bahwa para pemain China masih di atas kita.

Kemenangan itu semata-mata karena kondisi mental para pemain yang dalam kondisi prima. Ada beberapa kondisi yang barangkali mempengaruhi ketangguhan mental mereka. Salah satunya adalah motivasi. Dengan puasa gelar yang sudah lebih dari 10 tahun, para pemain putri kita tampaknya sangat termotivasi untuk “berbuka” gelar yang sudah se-dekade itu. Sosok Susi Susanti yang menjadi manajer tim tampaknya memberi sumbangan yang cukup berarti dalam peningkatan moral dan mental para pemain. Susi Susanti adalah salah satu pemain terbaik yang dimiliki Indonesia yang terlibat dalam persembahan Piala Uber terakhir yang dicapai Indonesia.

Dengan role model yang langsung ditemui, para pemain dapat dengan mudah menyerap dan menginternalisasi motivasi dan sikap juara yang dimiliki oleh seorang Susi. Role modelling ternyata memberi suntikan motivasi yang cukup signifikan. Menurut Bandura, role model membangunkan sikap dan perilaku yang kemudian menjadi motivasi.

Faktro yang kedua adalah lemahnya beban yang harus ditanggung oleh para pemain kita. Target memang terkadang bermata dua, di satu sisi target yang dibebankan menjadi sebuah beban yang menciptakan ketegangan dan kecemasan. Karena secara tidak sadar, para pemain akan mempersepsi jika target itu gagal, maka hukuman akan mereka terima, meskipun hukuman ini tidak pernah terucapkan. Mata pisau target yang kedua adalah yang berefek positif dan mendorong pemain untuk mencapainya.

Dalam teori psikologi, target bisa dikatakan sebagai goal setting. Goal setting akan efektif jika diberikan sesuai dengan kemampuan dan kondisi atlet. Goal yang terlalu berat hanya akan menciptakan perasaan tegang dan akhirnya memunculkan sikap pesimistis. Secara ideal, goal harus diterjemahkan dalam proses latihan dan sifatnya berkala. Sehingga muncul pembabakan goal menjadi jangka pendek, menengah dan jangka panjang.

Ujungnya adalah target jangka panjang yang merupakan target inti, tapi pelaksanaannya harus diberikan secara berkala. Menciptakan tantangan dalam setiap periode dan memaksa pemain untuk memecahkan tantangan itu akan membuat target jangka panjang menjadi lebih realistis. Untuk itulah perlu direncanakan sebuah program latihan dan program kompetisi yang sifatnya kesulitannya bertahap.

Faktor Tuan Rumah

Faktor yang ketiga barangkali adalah faktor dukungan penonton yang membludak setiap kali mereka bertanding. Ricky Subagja, mantan ganda nomer 1 Indonesia, menyatakan dalam komentarnya di sela-sela siaran langsung pertandingan Thomas-Uber 2008 bahwa penonton bisa menjadi bumerang saat para pemain sedang bertanding. Teriakan penonton bisa membuat para pemain menjadi terburu-buru dan kehilangan konsentrasi, akibatnya para pemain tidak tenang dalam mengeksekusi setiap pukulan.

Tapi sebaliknya, ketika para pemain sudah relatif siap untuk memahami situasi banyaknya dukungan penonton ini dan dengan kontrol emosi yang kuat, maka dukungan akan menjadi tambahan motivasi yang membantu meningkatkan permainan. Para penonton akan bisa menjadi pemain ketiga yang membantu tim tuan rumah.

Secara nyata, para pemain putri kita mempunyai sikap mental yang kedua. Penonton menjadi suntikan dorongan yang luar biasa. Efeknya, mereka mampu bermain “kesetanan” dalam setiap laganya. Terlihat bagaimana pasangan Vita Marissa-Lilyana Natsir bertanding begitu bersemangat dan pantang menyerah. Hanya kondisi fisik saja yang mungkin membuat permainan mereka mau tidak mau harus turun.

Pekerjaan Rumah

Sekali lagi, pencapaian yang diraih oleh para pemain Uber Indonesia sudah betul-betul maksimal. Meskipun secara teknik tidak maksimal, tapi dengan dukungan mental yang membulat permainan mereka sudah pantas disejajarkan dengan pejuang di medan laga yang tidak kenal menyerah. Seolah-olah permainan mereka yang sedang dijalani adalah pertandingan terakhir mereka.

Pekerjaan rumah memang masih banyak yang harus diselesaikan oleh para pelatih, pengurus PBSI dan tentu saja para pemain sendiri. Bibit-bibit pemain muda Indonesia sedang menunggu untuk diberi polesan. Pemain-pemain penerus Susi Susanti sedang meminta untuk diberi perhatian. Dengan membuat kompetisi, sistem rekrutmen, dan pembinaan berjenjang akan memunculkan srikandi-srikandi bulutangkis Indonesia selanjutnya.

Bukan menyesali kekalahanlah yang harus dilakukan. Tapi segeralah mengevaluasi semua lini. Dari sistem kepelatihan, sistem pembinaan, dan segala hal yang berkaitan dengan proses pembentukan pemain. Dengan kerja keras dan kurikulum yang benar, bukan tidak mungkin di masa depan, Indonesia akan kembali merajai perbulutangkisan putri di dunia.

Selamat buat tim Uber Indonesia!

Guntur Utomo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s