Bentuk Pemain yang Percaya Diri


Ingat bagaimana sikap Vieri karena tak kunjung mencetak gol lagi? Dia menjadi frustasi dan tidak lagi percaya diri saat bermain. Akibatnya permainannya tidak lagi bisa optimal. Percaya diri dalam sepakbola merupakan salah satu elemen penting. Hal ini terutama untuk menunjang penampilan yang optimal. Para ahli mendefinisikan percaya diri sebagai tingkat keyakinan individu yang berkaitan dengan kemampuannya dalam melakukan sesuatu dan untuk meraih keberhasilan. Tidak hanya keberhasilan secara individu. Kepercayaan diri ini akhirnya juga berkaitan dengan keberhasilan tim secara keseluruhan.

Waspadai Penyebab
Tim yang terus menerus didera kekalahan pasti akan menimbulkan efek ambruknya rasa percaya diri seluruh tim. Dalam sepakbola, ada banyak faktor yang menyebabkan hilangnya rasa percaya diri ini. Ketidakmampuan menyelesaikan tugas, gagal berperan dalam tim, cidera, sampai persoalan pribadi, merupakan penyebab runtuhnya rasa percaya diri (lihat boks).
Seorang pelatih harus menguasai benar faktor-faktor penyebab ini. Seorang pelatih yang tidak menguasai, seringkali justru menyebabkan pemain menjadi lebih tidak percaya diri. Pelatih yang hanya bisa marah-marah tanpa bisa memberi solusi akan menyebabkan pemain kebingungan. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari pemain seperti “apa yang salah dengan diriku?” atau “apa aku kurang bagus?” akan mengakibatkan ketidakmampuan menguasai diri. Akhirnya kesalahan demi kesalahan akan muncul. Runtuhnya kepercayaan diri ini akan mengakibatkn permorfa yang jeblok.
Faktor cidera juga menjadi salah satu momok. Selain membuat turunnya kualitas fisik, cidera juga akan membuat para pemain selalu dihantui oleh ketakutan akan berulangnya peristiwa dia alami. Ketakutan ini akan membuat pemain tidak percaya diri lagi. Efeknya pemain tersebut tidak akan bisa tampil maksimal.
Ketidakseimbangan antara program latihan dengan keadaan riil pemain juga membuat pemain menjadi tidak percaya diri. Buatlah program yang mendorong pemain untuk mencapai level ketrampilan yang lebih tinggi. Tapi harus diingat program latihan juga harus tetap bisa dilakukan oleh para pemain.
Pemain yang selalu gagal dalam melakukan tugas latihan akan mempunyai perasaan tidak mampu. Shooting yang terus-menerus tidak tepat sasaran, atau latihan fisik disaat para pemain kelelahan akan membuat pemain menganggap dirinya tidak cukup bagus. Hal inilah yang menimbulkan turunnya rasa tidak percaya diri.
Selain unsur-unsur yang berkaitan dengan hal teknis, faktor pribadi juga menjadi penyebab yang cukup besar. Kehilangan orang yang disayangi seringkali membuat pemain terjebak dalam kesedihan. Kesedihan ini juga akan menimbulkan turunnya performa permainan. Untuk itu seorang pelatih harus benar-benar mengusai keadaan psikologis setiap pemain.
Ucapan-ucapan dari pelatih, seringkali merupakan bumerang terhadap pemain. Ucapan negatif merupakan sebuah hukuman bagi pemain. Pemain yang melakukan kesalahan akan merasa semakin bersalah dengan tambahan ucapan pelatih yang melemahkan. Untuk itu hindari ucapan-ucapan yang negatif. Untuk mengomentari pemain yang melakukan kesalahan, pelatih harus memilih kata-kata yang lebih bersifat mendorong. Ucapan-ucapan seperti “kamu bodoh!”, “pakai mata dong!” atau “gimana sih, gitu aja nggak bisa?” merupakan beberapa contoh ucapan negatif yang justru akan membuat pemain merasa tidak mampu.

Bangun dari Latihan
Sebenarnya pemain yang mengalami penurunan kepercayaan diri bisa dilihat dengan jelas. Tanda-tanda ini bisa dilihat baik dari ucapan-ucapan atau gerakan-gerakan tubuh yang muncul dari pemain. Koordinasi gerak yang kacau, murung atau bahkan menjadi pemarah adalah beberapa dari tanda itu.
Pemain dengan kepercayaan diri tinggi juga memunculkan tanda yang jelas bisa dilihat. Beswick (psikolog olah raga dari Inggris) mengungkapkan beberapa ucapan atau gerak tubuh pemain yang mempunyai kepercayaan diri tinggi. Berikut ini tanda-tanda orang sedang dalam kepercayaan diri tinggi.
• Keyakinan diri tinggi- dengan perkataan “saya bisa melakukannya”
• Kesan positif dari gerak tubuh, misalnya reaksi terhadap bola yang lebih baik
• Menikmati kompetisi dan proses latihan
• Tidak merasa khawatir akan gagal
• Tenang, terkendali, berkonsentrasi dan kontrol diri yang tinggi
• Tidak berusaha menjadi lebih mengesankan dibanding yang lain
• Memahami kekuatan dan kelemahan diri dan menerima apa adanya

Keadaan ini bukan merupakan bawaan dari lahir. Artinya semua itu bisa diraih dengan proses latihan yang benar. Dengan proses latihan yang benar, semua itu akan bisa dicapai. Tujuan latihan harus disesuaikan dengan keadaan dan kondisi tim secara keseluruhan. Tim yang berisi pemain-pemain muda dan baru bergabung jelas tidak mungkin dibebani tugas untuk juara kompetisi.
Tujuan ini harus realistis. Untuk bisa mencapai tujuan ini, pelatih harus menurunkannya ke dalam program latihan yang baik pula. Latihan adalah sebuah proses untuk membuat pemain mencapai level ketrampilan yang lebih baik. Untuk itu proses latihan harus bisa membuat para pemain menjadi lebih mampu bermain sepakbola dibanding sebelumnya. Sifat latihan juga harus bisa membuat pemain termotivasi untuk berbuat lebih baik.
Kenyataan ini seringkali justru menjadi bumerang. Pelatih yang merasa harus segera meningkatkan kemampuan teknis pemainnya, kemudian membuat latihan yang berat. Keadaan ini akan membuat proses latihan menjadi tidak menyenangkan. Pemain juga akan sering salah dalam melakukan instruksi pelatih. Akhirnya pemain akan merasa dirinya tidak mampu. Kondisi inilah yang memicu ambruknya rasa percaya diri pemain.

Jaga Ucapan
Seperti diungkapkan di atas, tidak jarang pelatih yang merasa jengkel akan mengeluarkan ucapan-ucapan untuk mengekspresikan kejengkalannya. Namun, seringkali ucapan ini menyebabkan pemain merasa tidak berguna.
Harus diingat bahwa pemain menganggap pelatih sebagai sosok yang paling tahu kondisinya. Ucapan yang negatif akan dianggap sebagai sebuah informasi bahwa pemain tersebut memang jelek. Untuk itu pelatih harus bisa menjaga ucapan-ucapannya. Hal ini terutama pada saat latihan. Latihan harus benar-benar dijadikan proses pengembangan, baik teknik maupun kepribadian pemain. Pelatih harus berfungsi sebagai motivator pada saat latihan maupun pertandingan. Jangan sampai pelatih terlihat sebagai hakim yang menghukum pemain yang salah melakukan gerakan.
Ucapan-ucapan yang menyiratkan kebodohan pemain harus dihindari. Sebaliknya ungkapan itu harus muncul sebagai ucapan yang bersifat memberi motivasi. Ada dua jenis ucapan yang keluar dari pelatih. Yaitu itu kritikan atau pujian.
Kritikan muncul karena pemain gagal melakukan sesuatu. Kritik terhadap pemain harus dilakukan dengan positif. Misalnya “kamu bisa melakukan yang lebih baik”, atau “kamu harus belajar gerakan itu dengan lebih giat”, atau “ayo tunjukkan kemampuan terbaikmu!”
Pujian memang harus sering keluar dari mulut pelatih, namun perlu diingat, pujian yang terlalu berlebih akan menciptakan pemain yang sombong. Pemain yang terlalu sombong akan lupa dengan keadaan dirinya. Sehingga dia akan muncul sebagai pemain yang egois dan sok. Ini akan merugikan tim secara keseluruhan.
Pujian harus dilakukan secara proporsional. Pujian akan lebih baik jika diberikan langsung berkaitan dengan kemampuan teknis. Misalnya, “akurasi yang bagus!”, “bagus..memang harus sekeras itu!”, “ya..posisi itu yang tepat!” dan sebagainya.

Peran Orang Tua
Sebagai manusia, pemain juga pasti mempunyai persoalan-persoalan pribadi. Persoalan-persoalan ini sering berpengaruh dalam penampilan. Masalah seperti kehilangan orang tua, kehilangan pacar atau mendapat musibah berpotensi besar menurunkan performa pemain.
Dalam hal ini pelatih harus tanggap. Pelatih harus bisa menjadi teman ketika para pemain merasa sedih. Atau paling tidak pelatih harus bisa membangun tim dengan suasana kekeluargaan, sehingga para pemain tidak merasa ditinggal ketika sedang sedih. Pelatih harus bisa membuat pemain yang sedang sedih kembali termotivasi untuk berprestasi. Hal ini hanya bisa dilakukan jika pelatih memahami para pemainnya dengan baik.
Kontribusi orang tua juga tidak bisa dianggap sepele. Orang tua adalah orang yang sangat berpengaruh terhadap pemain. Orang tua harus mengarahkan tujuan dan kemampuan anak-anaknya. Jangan sampai orang tua justru memberikan tekanan-tekanan yang berlebihan pada anak-anaknya.
Para pemain muda masih sangat rentan dengan pengaruh-pengaruh dari lingkungan. Seringkali para pemain terpengaruh untuk cepat berprestasi dengan cara-cara instan. Seperti penggunaan obat-obatan atau berbuat curang di lapangan.
Orang tua harus bisa memberikan keyakinan bahwa satu-satunya jalan untuk sukses adalah berlatih dengan benar. Selain itu orang tua juga harus bisa membuat anak-anaknya yakin dengan dirinya sendiri. Orang tua juga harus mampu berperan sebagai teman ketika para pemain merasa tidak percaya diri lagi.
Selain itu, pemain sendiri juga harus belajar bagaimana mengontrol dirinya sendiri. Pemain harus bisa melihat keadaan dirinya dengan lebih objektif. Belajar untuk memahami diri dan lingkungan menjadi sangat penting. Tujuan pribadi, seperti mengapa mereka bermain sepakbola, untuk apa berlatih, mengendalikan emosi dan sebagainya harus dipahami dengan benar.
Pemain yang merasa dirinya paling hebat akan merasa tertekan jika suatu saat dia mengalami kegagalan. Pemain harus terbiasa melihat situasi dengan objektif. Tidak gampang mengambil kesimpulan dan tidak mudah menyerah.
Untuk membantu menciptakan pemain yang seperti ini latihan-latihan tambahan juga perlu diberikan. Latihan-latihan yang bersifat membangun mental merupakan salah satu cara yang saat ini banyak ditempuh. Tentu saja peran profesional seperti psikolog atau motivator atlet perlu dipertimbangkan. Latihan-latihan seperti Relaksasi, Mental Imagery, atau latihan team building perlu dicoba untuk diterapkan.
Memang untuk bisa sukses akan timbul persoalan-persoalan di tengah jalan. Pemain yang semakin sering mendapat sorotan karena prestasinya mempunyai potensi gangguan yang lebih besar. Hilangnya rasa percaya diri hanyalah salah satu masalah yang mungkin timbul. Namun dengan koordinasi semua pihak dan program klub maupun latihan yang rapi akan menciptakan pemain yang mempunayi kepercayaan diri tinggi tidak mudah menyerah.

Guntur Utomo
Diambil dari Majalah Kickoff! Edisi 21

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s