<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Stop Watch!</title>
	<atom:link href="http://psikologiolahraga.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com</link>
	<description>Kajian Psikologi Olahraga Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Nov 2011 18:31:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='psikologiolahraga.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Stop Watch!</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://psikologiolahraga.wordpress.com/osd.xml" title="Stop Watch!" />
	<atom:link rel='hub' href='http://psikologiolahraga.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Apa Pentingnya Relasi Positif Pelatih-pemain?</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2011/01/18/apa-pentingnya-relasi-positif-pelatih-pemain/</link>
		<comments>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2011/01/18/apa-pentingnya-relasi-positif-pelatih-pemain/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Jan 2011 04:20:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gunturutomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[pelatih]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[relationship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://psikologiolahraga.wordpress.com/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[Pelatih memegang peranan yang vital dalam pengembangan kemampuan para atlet. Pelatih yang baik bukan sekedar pelatih yang mampu memberi contoh gerakan-gerakan yang benar, tapi ada banyak peran lain yang harus dilakukan.Menurut Short &#38; Short (2005), profesor psikologi olahraga dari Universitas &#8230; <a href="http://psikologiolahraga.wordpress.com/2011/01/18/apa-pentingnya-relasi-positif-pelatih-pemain/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&amp;blog=1514174&amp;post=208&amp;subd=psikologiolahraga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2011/01/images2.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-209" title="images" src="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2011/01/images2.jpg?w=150&#038;h=131" alt="" width="150" height="131" /></a>Pelatih memegang peranan yang vital dalam pengembangan kemampuan para atlet. Pelatih yang baik bukan sekedar pelatih yang mampu memberi contoh gerakan-gerakan yang benar, tapi ada banyak peran lain yang harus dilakukan.Menurut Short &amp; Short (2005), profesor psikologi olahraga dari Universitas North Dacota, AS, beberapa peran lain dari pelatih adalah sebagai guru, manajer, kompetitor, pembelajar, teman dan sekaligus mentor bagi para atletnya.<span id="more-208"></span></p>
<p>Berbagai peran yang harus dilakukan oleh pelatih tersebut menuntut kemampuan teknis yang mumpuni karena pelatih memang harus mengajarkan teknik-teknik dan gerakan-gerakan baru sekaligus menyempurnakan gerakan-gerakan yang sudah dipelajari. Sebagai seorang manajer atau <em>organizer</em>, pelatih harus mampu untuk mengatur proses latihan mulai dari perancangan program hingga mengelola para pemain dalam sebuah sesi latihan agar tujuan latihan terpenuhi. Sebagai kompetitor, seorang pelatih harus mampu menjadi lawan tanding (minimal secara imaginer) bagi seorang atlet. Artinya, pelatih harus mampu memberi motivasi agar atlet bisa menjadi lebih baik.</p>
<p>Sebagai seorang pembelajar, pelatih harus selalu peka dengan keadaan yang ada disekitarnya. Kondisi-kondisi para atlet, cuaca, lingkungan fisik maupun non fisik yang mempunyai potensi mengganggu perkembangan atlet harus benar-benar dipelajari. Situasi itu memang menuntut seorang pelatih menjadi seorang pembelajar yang harus selalu mempelajari hal-hal yang baru di sekitarnya selain mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi terkait dengan cabang olahraganya.</p>
<p>Pelatih harus mampu menjadi teman sekaligus mentor yang menjadi tempat yang nyaman secara emosional bagi para atletnya. Teman adalah tempat untuk berbagi dan tempat untuk mencurahkan kegusaran yang ada di hatinya, sedangkan mentor adalah pembimbing yang tidak menggurui namun dipercaya mempunyai saran-saran dan masukan yang bisa menyelesaikan persoalan.</p>
<p><strong>Hubungan yang positif </strong></p>
<p>Agar peran-peran tersebut bisa dipenuhi secara maksimal, maka pelatih harus mampu membangun relasi yang positif dengan para pemainnya. Secara sekilas, pengertian dari hubungan yang positif ini adalah kondisi yang dicapai pada saat keterdekataan pelatih-atlet (mis. saling percaya, hormat dan menghargai), komitmen (mis. kesepakatan interpersonal dan kesengajaan untuk menjaga hubungan), dan saling melengkapi (mis. kerjasama, kesegeraan, kemudahan dan persahabatan) bisa saling terhubung dan saling berpengaruh.</p>
<p>Melihat definisi di atas, ada tiga elemen penting dalam sebuah hubungan atlet-pelatih. Pertama, adanya keterdekatan antara pemain dan pelatih. Keterdekatan yang dimaksud disini lebih menunjuk pada keterdekatan secara emosional. Fungsi keterdekatan antara pelatih-atlet ini bisa dilihat dari hasil riset Blanchard, dkk. (2009). Riset tersebut membuktikan jika atlet mempersepsi hubungannya dengan pelatih secara positif, maka hal itu akan mempengaruhi secara positif pula kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Kebutuhan-kebutuhan dasar antara lain, kebutuhan akan rasa aman, disayangi dan sebagainya. Efeknya, iklim berlatih akan lebih nyaman.</p>
<p>Elemen kedua adalah adanya komitmen antara kedua belah pihak. Komitmen adalah kesengajaan untuk melakukan sesuatu dengan sepenuh hati yang dalam hal ini adalah saling menjaga relasi sebagai pelatih dan atlet. Komitmen juga bisa memberi dampak yang sangat baik bagi keseriusan dalam menjalankan sesuatu. Komitmen seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain:  sport enjoyment, pilihan-pilihan kegiatan, investasi pribadi, hambatan-hambatan sosial, peluang-peluang  yang bisa diperoleh. Jika di dalam hubungan antara pelatih dan atlet telah terjadi sebuah komitmen, maka hubungan tersebut bisa dikatakan sebagai sebuah efek dari keberhasilan proses pelatihan yang dijalankan oleh seorang pelatih.</p>
<p>Elemen ketiga dari relasi positif antara pelatih dan atlet adalah saling melengkapi antara satu pihak dengan pihak lain. Elemen ini juga menjadi salah satu bukti bahwa seorang pelatih tidak bisa menjadi seorang pelatih yang hebat jika tidak ada masukan atau kritik dari para pemainnya. Kritik atau masukan tersebut sebenarnya merupakan manifestasi dari hubungan yang saling melengkapi tersebut. Pemain dengan nyaman bisa memberikan umpan balik kepada pelatih dalam rangka meningkatkan kualitas proses latihan. Jika hubungan ini belum tercapai, maka relasi antara pelatih dan pemain belum begitu terjalin dengan maksimal.</p>
<p>Salah satu dampak yang terlihat dari hubungan positif ini adalah para atlet akan merasa dirinya menjadi lebih kompeten,  otonom, dan mempunyai rasa terikat dengan pelatih (Amorose, 2007). Perasaan otonom adalah bagian dari motivasi yang berasal dari dalam diri seorang atlet. Artinya, para atlet akan lebih termotivasi dalam berlatih dan motivasi tersebut benar-benar berasal dari dalam dirinya.</p>
<p>Penelitian dari Jowett &amp; Cramer (2010) juga memberi ilustrasi menarik tentang pentingnya relasi positif antara pelatih dan pemain. Hubungan yang positif terbukti memberi dampak yang lebih positif bagi para atlet terhadap cara pandang mereka pada konsep diri, skill development, bentuk tubuh, kompetensi fisiologis, kompetensi mental, dan penampilan secara umum. Para atlet mengaku mempunyai persepsi yang positif terhadap dirinya tersebut setelah mereka sering berbincang-bincang dengan pelatihnya dan tidak pada orang tuanya. Hal ini menjadi sesuatu yang menarik bahwa kepercayaan para pemain terhadap pelatih berkaitan dengan kemampuan olahraga meraka lebih tinggi dibandingkan kepercayaan mereka terhadap orang tua. Beberapa penelitian di atas jelas menunjukkan betapa pentingnya relasi yang positif terbangun antara pelatih dan atlet.</p>
<p>Sebagai kesimpulan, pelatih bukanlah seorang komandan yang bisa selalu menyuruh apapun kepada anak buahnya. Tapi konsep kepelatihan seharusnya memposisikan pelatih sebagai orang dan individu dalam sebuah lingkungan sosial yang terdiri dari bermacam-macam karakter. Pelatih harus mampu memenuhi peran sebagai guru, mentor, pesaing dan sebagainya itu dalam rangka mencetak atlet-atlet yang berbakat. Seringkali atlet yang potensial harus hilang begitu saja karena kualitas relasi dengan pelatih yang tidak bagus. Pelatih yang baik tidak sekedar menguasai secara teknis semua keterampilan berolahraga, tapi harus pula mampu menguasai elemen psikologi, salah satunya adalah membangun hubungan yang positif.</p>
<p><strong>Daftar Bacaan</strong></p>
<p>Amorosea, A.J., Anderson-Butcher, D., (2007)  Autonomy-supportive coaching and self-determined motivation in high school and college athletes: A test of self-determination theory. <em>Psychology of Sport and Exercise.</em> 8: 654–670</p>
<p>Blanchard, C.M. , Amiot, CE. , Perreault, S., Vallerand, R. J., Provencher, P. (2009) Cohesiveness, coach’s interpersonal style and psychological needs: Their effects on self-determination and athletes’ subjective well-being. <em>Psychology of Sport and Exercise</em> .10; 545–551</p>
<p>Jackson, B., Beauchamp, M.R. (2010) Self-efficacy as a metaperception within coach-athlete and athlete-athlete relationships. <em>Psychology of Sport and Exercise.</em> 11; 188e-196</p>
<p>Jowett, S., Cramer, D., (2010) The prediction of young athletes’ physical self from perceptions of relationships with parents and coaches. <em>Psychology of Sport and Exercise.</em> 11; 140e-147</p>
<p>Short, S. E., &amp; Short M.W,. (2005) Essay Role of the coach in the coach-athlete relationship. <em>Lancet</em>: 366: S29–S30</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/psikologiolahraga.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/psikologiolahraga.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/psikologiolahraga.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/psikologiolahraga.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/psikologiolahraga.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/psikologiolahraga.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/psikologiolahraga.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/psikologiolahraga.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/psikologiolahraga.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/psikologiolahraga.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/psikologiolahraga.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/psikologiolahraga.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/psikologiolahraga.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/psikologiolahraga.wordpress.com/208/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&amp;blog=1514174&amp;post=208&amp;subd=psikologiolahraga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2011/01/18/apa-pentingnya-relasi-positif-pelatih-pemain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e272e8ee5c941053642aac31afa73d5?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">gunturutomo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2011/01/images2.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Motivasi Tepat, Penalti Melesat!</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2011/01/10/motivasi-tepat-penalti-melesat/</link>
		<comments>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2011/01/10/motivasi-tepat-penalti-melesat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2011 17:18:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gunturutomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fokus]]></category>
		<category><![CDATA[Konsentrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[Penalti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://psikologiolahraga.wordpress.com/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[Sekilas, menendang penalti dalam pertandingan sepakbola cukup mudah dilakukan. Bagaimana tidak, dari jarak 12 meter seorang penendang tinggal menceploskan gawang selebar 7 meter yang hanya dijaga oleh satu orang kiper. Tidak ada gangguan langsung dari lawan. Secara teori mungkin mudah &#8230; <a href="http://psikologiolahraga.wordpress.com/2011/01/10/motivasi-tepat-penalti-melesat/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&amp;blog=1514174&amp;post=194&amp;subd=psikologiolahraga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2011/01/images.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-195" title="images" src="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2011/01/images.jpg?w=150&#038;h=84" alt="" width="150" height="84" /></a>Sekilas, menendang penalti dalam pertandingan sepakbola cukup mudah dilakukan. Bagaimana tidak, dari jarak 12 meter seorang penendang tinggal menceploskan gawang selebar 7 meter yang hanya dijaga oleh satu orang kiper. Tidak ada gangguan langsung dari lawan. Secara teori mungkin mudah bagi penendang, tapi kenyatannya tidak jarang tendangan penalti hanya tinggal menyisakan kekecewaan bagi pendukung karena tendangan gagal menembus jala lawan.<span id="more-194"></span></p>
<p>Ada banyak hal yang mempengaruhi keberhasilan seorang penendang dalam mengeksekusi tendangan penalti. Salah satunya adalah fokus yang dipilih oleh penendang sebelum mengeksekusi tendangannya. Penelitian dari Plessner, dkk. (2009) memberi bukti bahwa jenis fokus yang dipilih oleh penendang menentukan keberhasilan eksekusi penalti.</p>
<p>Berdasarkan teori regulatory focus yang dikembangkan oleh Higgins (1997) setiap orang mempunyai dua jenis fokus motivasi untuk mencapai tujuannya, yakni yang bersifat promosi dan bersifat prevensi. Promosi berkaitan dengan harapan-harapan atau pencapaian-pencapaian tertentu, sedangkan prevensi lebih dekat dengan tanggung jawab atau kehati-hatian. Setiap orang mempunyai nilai keyakinan-keyakinan  tertentu dalam melaksanakan tugasnya.</p>
<p>Plessner, dkk. (2009) menemukan bahwa  penendang penalti akan lebih berhasil jika mereka mempunyai karakter fokus yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.  Di dalam penelitian ini para responden diminta untuk mengisi kuesioner <em>regulatory focus</em> untuk menentukan tipe motivasi mereka. Setelah itu mereka menjalani eksperimen. Eksperimen tersebut berupa para pemain harus melakukan 5 kali tendangan penalti. Sebelum menendang, mereka harus menghadap ke salah satu petugas yang akan memberi instruksi berkaitan dengan model motivasi yang harus dilakukan.</p>
<p>Untuk motivasi yang bersifat promosi, instruksi untuk para pemain adalah: “Kamu akan melakukan 5 kali tendangan penalti. Kamu diminta untuk mencetak gol minimal 3 kali.” Pernyataan ini mengandung arti bahwa pemain harus bisa memasukkan 3 buah gol. Sedangkan untuk motivasi yang bersifat prevensi dikatakan: “kamu akan melakukan 5 kali tendangan penalti. Tugasmu adalah tidak meleset lebih dari 2 kali.” Pernyataan ini meminta agar pemain tidak meleset lebih dari 2 kali. Meskipun maknanya sama, tapi mental set yang harus dibangun oleh pemain berbeda. Pernyataan pertama bermakna agar pemain mencapai hasil tertentu, sedangkan pernyataan kedua bermakna agar pemain menghindari agar tidak gagal dalam jumlah tertentu.</p>
<p>Hasil dari eksperimen kemudian dikorelasikan dengan hasil kuesioner yang sebelumnya diisi. Kesimpulannya adalah para pemain yang mempunyai sifat dasar yang bersifat preventif dan diinstruksikan dengan pernyataan kedua (preventif) mencapai hasil yang lebih baik dibanding sebaliknya.  Yang paling buruk adalah pemain yang sifat dasarnya preventif diinstruksikan dengan instruksi yang promotif atau pemain yang sifat dasarnya promotif diinstruksikan dengan pernyataan yang bersifat preventif.</p>
<p>Penelitian tersebut mengindikasikan bahwa penendang penalti yang sukses adalah ketika berhasil menyesuaikan antara motivasi dasar dan kebutuhan di lapangan. Jika antara motivasi dasar dan kondisi pada saat menendang bisa pas, maka kemungkinan bola masuk menjadi lebih tinggi. Penelitian ini juga memberi gambaran lebih jauh tentang bagaimana karakter seorang pemain sangat menentukan keberhasilan di dalam pertandingan (khususnya saat adu tendangan penalti).</p>
<p>Rekomendasi untuk para pelatih agar lebih jeli dalam menentukan para penendang penaltinya. Lebih jauh lagi, penelitian ini merekomendasikan bahwa para pelatih sudah seharusnya memahami betul karakter para pemainnya. Regulatory focus theory menyediakan alat untuk pemahaman tentang pemain dengan lebih baik. Sifat dasar promosi dan prevensi bisa digunakan untuk menentukan tanggung jawab yang harus diemban oleh seorang pemain dalam permainan. Ke depan, akan sangat berguna jika ada penelitian-penelitian lanjutan berkaitan dengan teori ini, barangkali terkait dengan peran posisi dalam sebuah tim, antara striker, pemain tengah atau bek. Dugaan sementara, para pemain yang sukses dalam karirnya menemukan kecocokan antara sifat dasar dengan peran dan fungsi mereka di lapangan.</p>
<p>Sebagai tambahan informasi, dari beberapa penelitian diperoleh hasil bahwa para atlet dari cabang-cabang olahraga beregu ternyata lebih banyak menggunakan tipe promosi. Sedangkan dari cabang-cabang olahraga individual lebih banyak menggunakan tipe prevensi. Ini juga memberi informasi kepada para pelatih untuk memberi motivasi yang tepat kepada para atletnya. Untuk pelatih olahraga tim, maka biasakanlah untuk mendorong mereka mencapai hasil yang lebih baik, sedangkan untuk pelatih cabang olahraga individu, maka doronglah para atlet agar menghindari banyak kesalahan.</p>
<p style="text-align:right;">Guntur Utomo</p>
<p>Naskah merupakan tinjauan dari artikel jurnal:</p>
<p>Plessner, H., Unkelbach, C., Memmert, D., Baltes, A., &amp; Kolb, A. (2009) Regulatory fit as a determinant of sport performance: How to succeed in a soccer penalty-shooting. <em>Psychology of Sport and Exercise</em>. 10; 108–115</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/psikologiolahraga.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/psikologiolahraga.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/psikologiolahraga.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/psikologiolahraga.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/psikologiolahraga.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/psikologiolahraga.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/psikologiolahraga.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/psikologiolahraga.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/psikologiolahraga.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/psikologiolahraga.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/psikologiolahraga.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/psikologiolahraga.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/psikologiolahraga.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/psikologiolahraga.wordpress.com/194/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&amp;blog=1514174&amp;post=194&amp;subd=psikologiolahraga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2011/01/10/motivasi-tepat-penalti-melesat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e272e8ee5c941053642aac31afa73d5?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">gunturutomo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2011/01/images.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Naturalisasi?</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2010/12/17/naturalisasi/</link>
		<comments>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2010/12/17/naturalisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Dec 2010 14:53:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gunturutomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kompetisi]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[sepakbola]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://psikologiolahraga.wordpress.com/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[Timnas sepakbola Indonesia kini sedang di atas angin. Buktinya, ribuan suporter seakan kesetanan rela mengantri tiket yang sudah jelas habis. Mereka mengantri demi menonton para pemain kesayangannya bertanding di Piala AFF 2010. Begitu luar biasanya dukungan suporter sampai-sampai SBY dan &#8230; <a href="http://psikologiolahraga.wordpress.com/2010/12/17/naturalisasi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&amp;blog=1514174&amp;post=189&amp;subd=psikologiolahraga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Timnas sepakbola Indonesia kini sedang di atas angin. Buktinya, ribuan suporter seakan kesetanan rela mengantri tiket yang sudah jelas habis. Mereka mengantri demi menonton para pemain kesayangannya bertanding di Piala AFF 2010. Begitu luar biasanya dukungan suporter sampai-sampai SBY dan semua pejabatnya ikut-ikutan demam Irfan Bachdim dan Cristian Gonzales. Apa yang sebenarnya menarik dari Timnas Indonesia saat ini? Permainan atau prestasi? atau jangan-jangan hanya wajah-wajah bule yang bisa ditemui di rombongan Tim nasional?<span id="more-189"></span></p>
<p>Saya kok menduga pernyataan terakhirlah yang membuat Tim Nasional Indonesia seolah-seolah sudah masuk Piala Dunia. Soalnya kalau soal prestasi, apa yang dicapai oleh Tim Nasional saat ini sebenarnya belum apa-apa, sudah 3 kali timnas masuk ke final kejuaraan yang sama, dan saat ini baru semifinalis. Sehingga kalau dibilang karena prestasi jelas bukan. Lagi pula sudah bertahun-tahun Indonesia ketemunya tim-tim itu juga. Bertemu dengan tim dari belahan dunia lain, maka hasilnya sudah jelas bisa ditebak, tim nasional Indonesia dicukur habis.</p>
<p>Kalau menimbang faktor permainan, ehm&#8230;kayaknya juga bukan. Bisa dilihat, kualitas permainan Indonesia sebenarnya belum naik level. Memang harus diakui sudah ada perbaikan, tapi kalau dibandingkan dengan negara-negara di benua biru atau jazirah arab, kayaknya masih satu level dibawahnya. Melihat pertandingan melawan Malaysia, Laos, Thailand, dan terakhir menang lawan Filipina, para pemain Indonesia memang tampil kesetanan, tapi secara teknis dan taktik belumlah sempurna. Alur serangan, organisasi permainan, kesadaran taktikal masih terlihat lemah.</p>
<p>Memang kita menang melawan mereka, tapi harus dilihat bagaimana kualitas permainan lawan saat bertanding dengan Indonesia. Malaysia pada saat itu tampil sangat buruk dengan banyak kesalahan fatal. Laos jelas secara permainan jauh dibawah, sedangkan Thailand, mereka juga tidak tampil dengan baik. Artinya, sebenarnya Tim nasional merah putih &#8220;beruntung&#8221; mendapatkan lawan yang tidak begitu siap. Satu-satunya kelebihan para pemain adalah motivasi, semangat juang dan semangat yang begitu luar biasa dan ternyata untuk mengalahkan lawan-lawan di level asia tenggara, berbekal faktor mental saja sudah cukup.</p>
<p>Nah, jika faktor prestasi atau kualitas permainan masih rata-rata, berarti yang membuat manusia Indonesia sekarang euforia tidak lain adalah wajah-wajah bule di tim besutan Alfred Riedl. Terus terang saya bukan orang yang sepakat dengan kebijakan naturalisasi. Kebijakan naturalisasi bagi saya hanya sama dengan makan mie instan. Semuanya serba cepat, mudah, murah dan hasilnya pun terasa, yakni kenyang. Tapi efek jangka panjangnya apa? Adakah gizi dalam mie instan itu?</p>
<p>Apakah kita akan terus menerus mengambil peranakan indonesia yang melanglang buana? Disaat para penjahat PSSI itu terus menerus mengeruk keuntungan dari sepakbola tanpa pernah sedikitpun peduli dengan anak-anak bangsa, kebijakan naturalisasi itu hanya menjadi penyelamat muka-muka culas para pejabat PSSI.</p>
<p>Saya sangat yakin, setelah ini kita bakalan kedatangan lagi wajah-wajah bule yang lain. Alasannya tentu saja, lha wong pake naturalisasi bisa sukses, kenapa tidak diteruskan. Akhirnya nanti, semua pemain tim nasional adalah pemain-pemain naturalisasi. Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah terus anak-anak yang sekarang pada berlatih bermain sepakbola itu mau dikemanakan? Hanya sekedar ikutan turnamen antar kampung? Lha wong jelas mereka nggak bakalan bisa main buat timnas kan?</p>
<p>Di negara Asia lain, program naturalisasi dilakukan karena dua alasan. Untuk Jepang, misalnya, yang juga pernah melakukan program naturalisasi pemain, sasarannya sangat jelas, mereka membutuhkan tenaga pemain asing untuk memulai kampanye mereka di level tertinggi, Piala Dunia. Setelah mereka ternyata berhasil masuk piala dunia, program naturalisasi pun ditinggalkan. Berbeda dengan Singapura, negeri yang cuma secuil itu melakukan program naturalisasi untuk merangsang gairah para remaja dan anak-anak supaya menggemari permainan sepakbola, selain memang sumber daya manusia mereka yang cuma sedikit. Kini, mereka sudah mulai memetik hasilnya, anggota tim nasional Singapura sudah lebih banyak didominasi hasil pembinaan mereka sendiri.</p>
<p>Nah, untuk Indonesia apa alasannya? Apakah program naturalisasi ini dilakukan biar kita bisa lolos Piala Dunia? sudah adakah jalan dibuat untuk menuju kesana? atau apakah biar sepakbola lebih dicintai masyarakat? ah, kalau yang kedua ini, janganlah pakai aneh-aneh naturalisasi, wong sepakbola abal-abal aja tetep ditonton ribuan orang kok. Rakyat itu kurang mencintai kayak apa lagi? Uang pajak yang seharusnya digunakan buat perbaikan pendidikan, kesehatan dan lapangan pekerjaan saja rela mereka berikan buat sepakbola kok. Mereka tetep aja harus bayar kalau harus nonton pemain yang dibayari pakai uang mereka.</p>
<p>Saya kok berburuk sangka kalau program naturalisasi ini sebenarnya hanyalah proyek menyelamatkan muka para penjahat PSSI. Para penjahat yang ada di PSSI itu kayaknya sudah mulai capek karena semakin banyak orang yang nggak suka mereka. Makanya mereka harus menyelamatkan diri dengan cara menaturalisasi itu, mengkarbit tim nasional. Sekali lagi, ini hanya untuk kepentingan mereka, tidak ada sama sekali keberpihakan mereka pada anak-anak bangsa. Sama persis dengan para birokrat bangsa ini. SBY ikut-ikutan jingkrak-jingkrak, Andi Mallarangeng tambah tebal kumisnya, tapi apa yang sudah mereka perbuat untuk anak-anak bangsa?</p>
<p>Percayalah, di belahan dunia manapun, kunci sukses membentuk tim nasional adalah pembinaan. Pembinaan meliputi talent scouting, proses pelatihan dengan benar, kompetisi (bukan turnamen) yang rutin dan berjenjang ditunjang dengan fasilitas yang terbaik. Jika habis AFF ini sepakbola kita masih belum jelas juntrungannya, masih banyak pemain titipan, tidak pernah ada kompetisi rutin untuk semua umur, dan masih berlatih di lapangan yang lebih mirip kubangan kerbau, maka sepakbola Indonesia tidak akan pernah beranjak ke level yang lebih tinggi. Dan program naturalisasi tetap terus akan berjalan, sekali lagi rakyat lah yang jadi korban. Nanti kan gak ada bedanya nonton liga Inggris sama nonton timnas Indonesia..</p>
<p>Sekali lagi, saya tidak sedang menjelek-jelekkan tim nasional Indonesia, saya juga ikut jingkrak-jingkrak kegirangan ketika Gonzales berhasil ketiban bola dan ternyata bola itu masuk ke gawang Filipina. Ternyata saya juga rindu tim nasional Indonesia bisa menang. Yang saya lakukan ini hanya sekedar mengagumi dengan rasional. Cinta kan, tidak harus buta, tapi harus dengan pertimbangan yang nalar. Supaya kita tidak terlena dengan bonus yang sifatnya sesaat ini. Saya tetap akan bergaul dengan sepakbola, melihat anak-anak bermain sepakbola, mengajari mereka semampu saya. Meski berkali-kali dizalimi dan ditindas oleh pemerintah dan pengurus PSSI, tapi saya tidak benci sama sekali dengan sepakbola.</p>
<p>Saya tetep bangga dengan para pemain tim nasional. Bagi saya merekalah pahlawan sesungguhnya, mereka yang berjuang luar biasa. Kalau memang mereka ada yang kurang, maklum, karena mereka tidak pernah diajari sepakbola dengan benar. Mereka adalah pemain-pemain yang memang terlahir dengan bakat seperti itu. Karena seandainya PSSI itu berpihak pada anak bangsa dan melatih mereka dengan benar, Firman Utina, Okto maniani, Ahmad Bustomi dan kawan-kawan pastilah bisa menjadi pemain jauh lebih hebat dari Bachdim, Gonzales atau siapapun itu yang berwajah peranakan.</p>
<p>Saudara-saudara semua, ingatlah ini hanya Piala AFF, turnamen se-Asia Tenggara. Marilah kita berpesta pora kalau Indonesia bisa lolos Piala Dunia. Marilah kita pertaruhkan nyawa untuk selembar tiket kalau merah putih berkibar di seantero dunia. Tapi untuk Piala AFF, kita lihat aja di RCTI daripada harus bertaruh nyawa mencari selembar tiket yang nggak jelas distribusinya.</p>
<p>Salam Olahraga</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/psikologiolahraga.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/psikologiolahraga.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/psikologiolahraga.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/psikologiolahraga.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/psikologiolahraga.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/psikologiolahraga.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/psikologiolahraga.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/psikologiolahraga.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/psikologiolahraga.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/psikologiolahraga.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/psikologiolahraga.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/psikologiolahraga.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/psikologiolahraga.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/psikologiolahraga.wordpress.com/189/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&amp;blog=1514174&amp;post=189&amp;subd=psikologiolahraga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2010/12/17/naturalisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e272e8ee5c941053642aac31afa73d5?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">gunturutomo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Datang The Greatest Show!</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2010/06/11/selamat-datang-the-greatest-show/</link>
		<comments>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2010/06/11/selamat-datang-the-greatest-show/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 08:28:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gunturutomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[psikologi olahraga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://psikologiolahraga.wordpress.com/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[Piala Dunia Afrika Selatan 2010 segera dimulai. Selama 1 bulan penuh para pemain dari 32 negara ini ada beradu memperebutkan sebuah trofi dan gelar yang terbaik di jagad raya ini. Pertunjukan kesempurnaan teknik, fisik, strategi dan mental akan hadir dan &#8230; <a href="http://psikologiolahraga.wordpress.com/2010/06/11/selamat-datang-the-greatest-show/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&amp;blog=1514174&amp;post=181&amp;subd=psikologiolahraga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2010/06/logo-piala-dunia.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-182" title="logo piala dunia" src="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2010/06/logo-piala-dunia.jpg?w=500" alt=""   /></a>Piala Dunia Afrika Selatan 2010 segera dimulai. Selama 1 bulan penuh para pemain dari 32 negara ini ada beradu memperebutkan sebuah trofi dan gelar yang terbaik di jagad raya ini. Pertunjukan kesempurnaan teknik, fisik, strategi dan mental akan hadir dan mencuri perhatian warga dunia.<span id="more-181"></span></p>
<p>Bagi saya, piala dunia bukan sekedar turnamen sepakbola biasa. Piala Dunia adalah sebuah etalase sekaligus ukuran bagi perkembangan permainan sepakbola di dunia. Lebih spesifik, saya menggarisbawahi ada dua faktor yang paling dominan yang akan menjadi penentu kemenangan sebuah tim dalam turnamen selama satu bulan penuh ini.</p>
<p>Faktor pertama tentu saja strategi. Saat ini, para pelatih tim nasional peserta Piala Dunia sedang pusing-pusingnya menyusun tim yang paling sempurna menurut mereka agar mereka mampu memenuhi target masing-masing. Serangkaian pertandingan uji coba dilakukan untuk memilih pemain yang pas untuk strategi yang mereka bangun. Mengapa strategi akan berperan signifikan? Tidak lain, tidak bukan karena secara teknis, hampir semua pemain yang masuk ke jajaran elit persepakbolaan dunia mempunyai level kualitas teknis yang nyaris setara.</p>
<p>Mungkin memang ada beberapa pemain yang akan menjadi sorotan karena memang secara teknis sangat mumpuni. Katakanlah, Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney atau Xavi Hernandez yang memang tidak perlu disangkal mempunyai kualitas teknik di atas rata-rata pemain lainnya. Tapi, sepakbola tidak hanya dimainkan oleh seorang pemain, melainkan sebelas pemain yang harus bahu-membahu dan bekerjasama di lapangan.</p>
<p>Berdasar atas kondisi tersebut, faktor strategi dalam permainanlah yang akan menjadi salah satu penentu. Ingat bagaimana Inter Milan-nya Mourinho berhasil menyingkirkan Barcelona dan Bayern Muenchen yang secara kasat mata mempunyai permainan yang lebih atraktif? Mourinho berhasil menerapkan strategi jitu yang akhirnya membawa mereka menjadi kampiun Liga Champion Eropa 2010.</p>
<p>Dengan kualitas teknik dan fisik yang relatif merata, pembeda terbesar di Piala Dunia 2010 adalah strategi. Kita akan melihat bagaimana racikan seorang Diego Maradona, Carlos Dunga, sama Sven Goran Errikson untuk mengatasi lawan-lawannya. Sekali salah memilih strategi, peluang menjadi juara akan terasa berat.</p>
<p><strong>Pameran Mentalitas Unggulan</strong></p>
<p>Faktor kedua yang menurut saya akan menjadi penentu adalah kualitas mental para pemain. Salah satu elemen mental yang akan berperan adalah kepercayaan diri. Brasil, Italia dan Jerman adalah negara-negara yang secara tradisi mencetak pemain-pemain yang mempunyai kepercayaan diri yang sangat tinggi. Tidak mengherankan jika ketiga negara ini masih sangat dominan di ajang persepakbolaan dunia. Kepercayaan diri penting untuk turnamen sebesar ini, karena ketika seorang pemain merasa percaya diri, maka mereka akan mampu bermain dengan nyaman dan mampu mengatasi ketegangan yang muncul.</p>
<p>Elemen kedua adalah daya juang dan motivasi. Ingat Korea Selatan di Piala Dunia 2002? Kira-kira begitulah terjemahan dan operasionalisasi dari jaya juang dan motivasi yang sangat luar biasa. Dari tim biasa saja, Korea Selatan mampu menjadi semifinalis dengan mengalahkan tim favorit juara, Italia di perempat final.</p>
<p>Hal lain tentu saja adalah fokus dan konsentrasi. Itu adalah salah satu elemen yang penting dan sudah disadari oleh setiap tim peserta dengan memilih tempat latihan yang rata-rata jauh dari keramaian kota. Dengan menjauhi keramaian, diharapkan para pemain akan tetap fokus dan berkonsentrasi untuk tampil terbaik.</p>
<p>Perpaduan antara kualitas strategi dengan kualitas mental prima inilah yang akan menjadikan sebuah tim akan keluar menjadi pemenang dalam turnamen 4 tahunan ini. Tentu saja, faktor keberuntungan tidak bisa disingkirkan begitu saja, karena dalam sepakbola semua hal bisa terjadi.</p>
<p>Piala Dunia memang menyajikan daya tarik luar biasa. Kita lihat bagaimana para seniman sepakbola akan mempertontonkan kemampuan terbaiknya untuk kejayaan dan kebanggan bangsa mereka. Sekali lagi, kita baru bisa menonton, tapi semoga kita akan menjadi penonton yang kritis dengan mampu mengambil manfaat dari apa yang kita tonton. Semoga semua mau belajar, bahwa untuk bisa tampil di Piala Dunia, dibutuhkan kerja keras dan sebuah proses yang amat panjang. Semoga PSSI, para pengurus klub, wasit, pelatih, pemain dan semua insan sepakbola Indonesia mau untuk belajar dari Piala Dunia untuk kebanggaan bangsa…</p>
<p style="text-align:right;">Guntur Utomo</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/psikologiolahraga.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/psikologiolahraga.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/psikologiolahraga.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/psikologiolahraga.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/psikologiolahraga.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/psikologiolahraga.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/psikologiolahraga.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/psikologiolahraga.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/psikologiolahraga.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/psikologiolahraga.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/psikologiolahraga.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/psikologiolahraga.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/psikologiolahraga.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/psikologiolahraga.wordpress.com/181/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&amp;blog=1514174&amp;post=181&amp;subd=psikologiolahraga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2010/06/11/selamat-datang-the-greatest-show/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e272e8ee5c941053642aac31afa73d5?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">gunturutomo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2010/06/logo-piala-dunia.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">logo piala dunia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berguru Mental Juara: Obrolan Bersama Chris John</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2010/01/27/berguru-mental-juara-obrolan-bersama-chris-john/</link>
		<comments>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2010/01/27/berguru-mental-juara-obrolan-bersama-chris-john/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 12:12:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gunturutomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anxiety]]></category>
		<category><![CDATA[Confidence]]></category>
		<category><![CDATA[Fokus]]></category>
		<category><![CDATA[Konsentrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi olahraga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://psikologiolahraga.wordpress.com/?p=175</guid>
		<description><![CDATA[Juara bukanlah bawaan, melainkan sebuah proses panjang yang berisi pengorbanan dan kedisiplinan. Itulah salah satu yang bisa dipetik dari perjalanan seorang juara dunia tinju kelas bulu, Chris John. Di dalam acara internal klub sepakbola, Pro Duta FC di Yogyakarta (26/01) &#8230; <a href="http://psikologiolahraga.wordpress.com/2010/01/27/berguru-mental-juara-obrolan-bersama-chris-john/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&amp;blog=1514174&amp;post=175&amp;subd=psikologiolahraga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Juara bukanlah bawaan, melainkan sebuah proses panjang yang berisi pengorbanan dan kedisiplinan. Itulah salah satu yang bisa dipetik dari perjalanan seorang juara dunia tinju kelas bulu, Chris John. Di dalam acara internal klub sepakbola, Pro Duta FC di Yogyakarta (26/01) Chris, begitu dia biasa disapa menceritakan panjang lebar perjalanannya menjadi seorang super champion.<span id="more-175"></span></p>
<p>Chris John mengawali karir bertinju sejak usia sangat muda. Dia mengaku memperoleh bakat bertinju dari sang ayah yang juga merupakan seorang mantan petinju. Dari kecil Chris John kecil harus melewati hari-hari yang melelahkan sebagai seorang petinju cilik. “Awalnya memang dipaksa oleh Bapak saya, tapi lama-lama saya menikmati menjadi petinju,” ujarnya dengan senyum ramah jauh dari kesan sombong seorang juara dunia.</p>
<p>Mimpi Menjadi Juara<br />
Pertandingan pertama Chris dilakoni saat usia baru menginjak 15 tahun dan dia mengaku selalu belajar dari pertandingan demi pertandingan yang dilaluinya. Untuk menjadi juara seorang atlit harus mengorbankan banyak hal mulai dari tenaga, uang dan pikiran. Pengorbanan ini dianggap sebagai sebuah proses yang memang harus dilalui agar seseorang bisa menjadi juara dunia. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi jika seseorang ingin menjadi atlet.</p>
<p>Yang pertama, seseorang harus mempunyai mimpi untuk meraih yang terbaik. Chris John sejak muda sudah menetapkan mimpinya untuk menjadi seorang juara dunia. Impian menjadi juara ini tidak hanya sebatas imajinasi, tapi kemudian mampu mempengaruhi perilaku sehari-harinya. Dia rela untuk berlatih dengan keras demi mengejar mimpi yang dia miliki tersebut. Pada waktu masih muda, Chris selalu berlatih dari jam 4 sampai jam 6 sore tanpa pernah putus. “Walaupun hujan deras, jam 4 sampai jam 6 harus selalu latihan,” Demikian ujarnya. Hal ini dia lakukan demi meraih mimpi yang dia inginkan tersebut.</p>
<p>Kedua, seorang calon juara dunia harus mampu mencintai olahraga yang dia geluti. Olahraga adalah pekerjaan yang membutuhkan ketekunan dan kerja keras. Hanya orang-orang yang mencintai pekerjaannya yang akan mampu mendapatkan hasil yang terbaik. Chris John membuktikannya, meski awalnya dipaksa oleh ayahnya, namun pada akhirnya dia memahami bahwa dia juga mencintai olahraga tersebut. Kecintaan ditambah dengan keinginan untuk mewujudkan mimpi yang membuat dia menjadi sangat tekun berlatih.</p>
<p>Syarat berikutnya adalah menjadi seorang yang disiplin. Disiplin sangat diperlukan untuk mencapai apapun yang diinginkan, terlebih lagi dalam kasus seorang atlet. Kedisiplinan akan menentukan rajin atau tidak dalam berlatih. Menurut pengakuan Chris, kedisiplinannya memang ditanamkan sejak dia masik kanak-kanak, namun bukan berarti orang ang sdah remaja tidak mampu berdisiplin. Chris John memberi tips bahwa orang akan menjadi disiplin jika didorong oleh cita-cita dan keinginan yang kuat atas sesuatu. Kedisiplinannya lebih banyak dipengaruhi oleh cita-citanya untuk menjadi seorang juara dunia. Kedisiplinan juga dia terapkan tidak hanya pada saat menjelang pertandingan, tapi juga pada kehidupan sehari-hari. Chris John rela menyiapkan semua makanannya sendiri pada saat dia menjalani pemusatan latihan di Perth. Memasak sendiri merupakan salah satu cara agar makanan yang masuk tetap bisa di kontrol. “Pernah ada orang Indonesia yang membantu masak di Perth, tapi malah makanannya terlalu banyak lemak,” katanya santai.</p>
<p>Kerja keras adalah menjadi syarat berikut yang harus dijalani oleh seorang yang bercita-cita menjadi juara. Tanpa kerja keras, mimpi hanya akan tinggal menjadi imajinasi. Kerja keras terwujud dalam proses berlatih. Chris John mengaku selalu menambah porsi latihan sendiri yang tidak mengganggu program latihan dari pelatih. “Kalau latihan tambahan tapi besok malah kecapean dan tidak bisa berlatih kan justru merugikan.”<br />
Ramuan syarat-syarat itu yang diyakini oleh Chris John menjadi ramuan yang sangat ampuh untuk mewujudkan mimpinya menjadi juara dunia.</p>
<p>Mental Toughness<br />
Kekuatan mental juga menjadi bagian penting dalam proses menjadi juara dunia. Namun kekuatan mental ini menurutnya diperoleh seiring dengan jam terbang. Menurutnya, semakin banyak seseorang bertanding, maka akan semakin matang seseorang dalam menghadapi tekanan pertandingan. Dia mencontohkan bahwa di awal-awal karirnya, dia masih sering gugup ketika akan menjalani pertandingan, namun setelah sekan lama, dia menjadi mampu mengontrol rasa gugupnya tersebut. “Saya masih sering bolak-balik ke toilet sebelum bertanding, tapi saya lebih mampu mengontrolnya sekarang,” kata suami Megawati itu.</p>
<p>Fokus dan konsentrasi juga menjadi aspek penting untuk memenangkan pertandingan. Setiap orang tidak mungkin lepas dari masalah, tapi seorang Chris John mengaku mampu membedakan antara masalah dari luar ring dan masalah dari dalam ring. Di dalam hal ini, Chris John sebenarnya mampu menerapkan apa yang disebut dengan pemilihan fokus yang benar. Banyak atlet yang tidak mampu membedakan masalah dari luar pertandingan dan masalah dalam pertandingan sehingga sering permainan menjadi terganggu karena masalah dari luar tadi mempengaruhi penampilannya.</p>
<p>Masalah keluarga, teman, pacar adalah beberapa contoh masalah yang berasal dari luar pertandingan. Chris John mengaku pernah bertanding dalam kondisi tekanan masalah dari luar yang berat. “Waktu itu masih menghadapi tuntutan dari manajemen lama, pikiran saya berat karena terbayang akan menghadapi persoalan dengan kepolisian. Tapi saya ketika bertanding saya berhasil mengontrol fokus saya,” katanya.<br />
Menjaga motivasi adalah hal penting lainnya. Motivasi Chris John yang ingin selalu menjadi juara diakui menjadi salah satu pendorong yang sangat kuat. Selain itu, dia berpesan kepada para atlet muda untuk tetap menjaga level motivasi agar tetap tinggi. “Mungkin kehadiran orang-orang yang dicintai bisa menjadi salah satu motivator untuk tampil yang terbaik.”</p>
<p>Menjaga motivasi ini juga ternyata yang membuat dia mampu mengatasi rasa takutnya. Motivasi untuk menunjukkan yang terbaik akan membuat seseorang tidak hanyut dalam rasa takut yang akhirnya memunculkan perasaan kalah sebelum bertanding. Selain itu, dia juga mengatakan bahwa jangan terlalu berpikiran tentang rasa kecewa. Rasa kecewa hanya akan mengganggu pikiran kita. “Saya memilih untuk berlatih lebih keras agar tampil lebih maksimal daripada menyesali keputusan yang sudah tidak bisa diganggu-gugat,” Katanya ayah dua puteri ini.</p>
<p>Terakhir, Chris John berpesan kepada para atlet muda tentang makna uang dan prestasi. Menurut dia, ketika awal menjalani karir bertinju, dia sama sekali tidak berpikiran soal uang yang didapat, tapi dia selalu berpikiran untuk mencapai prestasi tertinggi. Menurut dia, prestasi akan membawa seseorang mendapat penghargaan yang tinggi, termasuk dalam hal uang. “Jika belum-belum yang dipikirkan adalah uang, maka ketika uang itu belum muncul maka seseorang tidak akan bisa bekerja keras,” katanya.</p>
<p>Chris John membuktikan bahwa denganketangguhan mental dan kesungguhan serta keinginan untuk selalu belajar dia bisa mencapai prestasi yang tertinggi. Sekali lagi, menjadi juara bukanlah faktor kebetulan dan bukan juga faktor bawaan, tapi merupakan sebuah proses panjang yang menyakitkan. Bagi atlet yang mampu menekan rasa sakit dan tetap teguh dengan cita-citanya maka dia akan mendapatkan hasil yang terbaik. Untuk para atlet muda, kira penting untuk kembali memikirkan apa yang mereka sudah lakukan. Jika memang ingin mendapatkan prestasi tertinggi, maka saran-saran dari Super Champion itu patut untuk dilakukan.</p>
<p>Guntur Utomo</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/psikologiolahraga.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/psikologiolahraga.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/psikologiolahraga.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/psikologiolahraga.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/psikologiolahraga.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/psikologiolahraga.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/psikologiolahraga.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/psikologiolahraga.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/psikologiolahraga.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/psikologiolahraga.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/psikologiolahraga.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/psikologiolahraga.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/psikologiolahraga.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/psikologiolahraga.wordpress.com/175/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&amp;blog=1514174&amp;post=175&amp;subd=psikologiolahraga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2010/01/27/berguru-mental-juara-obrolan-bersama-chris-john/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e272e8ee5c941053642aac31afa73d5?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">gunturutomo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menunggu Titik Puncak Pembinaan</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/12/09/menunggu-titik-puncak-pembinaan/</link>
		<comments>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/12/09/menunggu-titik-puncak-pembinaan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 12:09:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gunturutomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kompetisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://psikologiolahraga.wordpress.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[Sea Games ke-25 Laos sekali lagi akan menjadi bukti dari hasil pembinaan olahraga di Indonesia. Para atlet dari 22 cabang olahraga yang diikuti oleh kontingen Indonesia akan mengevaluasi kekuatannya dalam perhelatan even multi cabang terbesar di Asia Tenggara Ini. Kita &#8230; <a href="http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/12/09/menunggu-titik-puncak-pembinaan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&amp;blog=1514174&amp;post=170&amp;subd=psikologiolahraga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/12/seagaa1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-172" title="seagaa" src="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/12/seagaa1.jpg?w=500" alt=""   /></a> Sea Games ke-25 Laos sekali lagi akan menjadi bukti dari hasil pembinaan olahraga di Indonesia. Para atlet dari 22 cabang olahraga yang diikuti oleh kontingen Indonesia akan mengevaluasi kekuatannya dalam perhelatan even multi cabang terbesar di Asia Tenggara Ini. Kita akan melihat bagaimana peta olahraga Indonesia di kawasan ini.<span id="more-170"></span></p>
<p>Sebanyak 346 atlet dikirim ke Laos untuk mengharumkan nama Indonesia. Rita Subowo, ketua umum KONI/KOI dalam sambutannya pada acara mental training di gedung serba guna kawasan senayan Jakarta (2/12) menyampaikan bahwa hanya ada dua kesempatan bendera suatu bangsa berkibar di negeri orang, yaitu kunjungan presiden atau kepala negara dan ketika seorang atlet merebut medali pada even olahraga. Tentu saja ini adalah bentuk kebanggaan bagi suatu bangsa atau seorang atlet andai bisa mengibarkan sang saka merah putih di negeri orang. Kita bisa ingat bagaimana Susi Susanti sampai menitikkan air mata ketika Lagu Indonesia Raya dan Merah putih berkibar setelah dia mampu menyumbangkan medali emas pertama bagi Indonesia di Barcelona Spanyol. Tidak hanya Susi, bangsa Indonesia yang menyaksikan momen tersebut pun tidak kalah terharunya.</p>
<p>Begitu besar kebanggaan tersemat di dada warga republik ini ketika melihat bagian dari anak bangsa berhasil berprestasi dalam bidang olahraga. Hal ini menunjukkan bahwa olahraga merupakan salah satu cara untuk menunjukkan eksistensi sebuah bangsa dan masyarakat. Olahraga tidak hanya mampu menjadi pelipur lara bagi sebuah negeri yang sedang koyak, tapi olahraga seharusnya juga mampu menjadi tonggak untuk memulai membangun seluruh sendi bangsa ini.</p>
<p>Logika sederhananya adalah ketika seorang atlet mampu berprestasi tingkat dunia, tentu dimulai dari proses yang tertata rapi dengan manajemen yang teratur. Pembenahan organisasi olahraga tentu saja akan membawa dampak yang positif bagi pembenahan setiap unsur penggerak negeri ini. Untuk menciptakan seorang atlet yang berprestasi dunia perlu dukungan dan kerja keras dari berbagai macam pihak, mulai dari pelatih, pengurus, atlet, orang tua hingga komponen masyarakat yang tidak secara langsung terlibat. Pencetakan atlet berprestasi butuh biaya mahal dan waktu yang tidak sebentar. Secara umum, dibutuhkan waktu lebih dari 10 tahun untuk melatih seorang atlet agar bisa berprestasi, itu pun dengan syarat segala fasilitas dan infrastruktur tersedia.</p>
<p>Pengurus harus benar-benar profesional untuk menciptakan situasi yang kondusif, pelatih harus mumpuni dengan dibekali oleh metode-metode kepelatihan modern dan ilmu pengetahuan, orang tua membantu dengan dukungan emosional, masyarakat tentu saja dengan harapannya berdoa agar para atlet mampu membesarkan identitas yang sama dengan mereka. Tentu saja ini adalah pekerjaan yang tidak ringan ditengah kondisi pembinaan olahraga Indonesia yang begitu rupa.</p>
<p>Tapi, kita adalah bangsa yang besar. Tidak sepatutnya kita menyerah pada keadaan. Kita sudah sangat terlatih menghadapi situasi-situasi yang sulit sehari-hari, nyatanya kita bisa dan mampu bertahan. Dengan sisa-sisa kekuatan yang kita miliki, marilah kita bangun kebanggaan negeri ini.</p>
<p>Melihat para atlet di acara training mental untuk mereka beberapa waktu lalu, terus terang penulis merasa sangat terharu. Bagaimana tidak, atlet yang rata-rata masih berusia sangat muda sudah memikul beban yang begitu berat untuk mengharumkan nama bangsa sebesar Indonesia. Mereka sungguh orang-orang yang tidak pernah takut untuk merubuhkan rintangan di depan mereka. Dengan sangat serius mereka mengikuti sesi acara yang dipandu oleh trainer profesional dari Universitas Indonesia. Mereka sudah melakukan apa yang mereka bisa dan sudah memberikan apa yang mereka punya. Kalaupun di Laos mereka tidak tampil maksimal, seharusnya kesalahan bukan tersemat di pundak mereka, para pengurus dan pengambil kebijakanlah yang harus bertanggung jawab. Sekali lagi, olahraga prestasi merupakan sebuah konsep industri, mereka adalah orang-orang terbaik yang dicetak untuk menjadi yang terbaik. Jika hasil cetakannya tidak baik, maka yang salah adalah alat pencetaknya, bukan materinya.</p>
<p>Kita lihat apa yang bisa diberikan oleh insan-insan olahraga yang akan berlaga di Laos dari tanggal 9-19 Desember 2009. Memang pengurus sudah tahu diri dengan hanya menargetkan peringkat 3 di Laos. Tentu saja ini belum memuaskan, tapi paling tidak ini adalah sebuah kondisi logis atas situasi olahraga di negeri ini. Tentu rakyat Indonesia menginginkan hasil yang lebih baik dari apa yang ditargetkan, namun saat ini nasi telah menjadi bubur. Bukan Sea Games mungkin tempatnya, barangkali Asian Games atau bahkan Olimpiade.</p>
<p>Laos 2009 seharusnya bisa menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak yang mencintai olahraga dan mencintai Bangsa Indonesia. Kita adalah bangsa yang besar, tidak sepatutnya kita menerima keadaan begitu saja. Ayo kita bergerak maju, memutar otak dan membuka diri terhadap semua hal yang membuat kita baik. Keras kepala, egoisme dan sentimen politis seharusnya disampingkan untuk kejayaan bangsa yang tengah terpuruk ini.</p>
<p>Kita dukung Indonesia di Sea Games ke-25 Laos. Semoga merah putih akan tetap berkibar, semoga bangsa Indonesia akan tetap jaya. Selamat berjuang para atlet garuda, semoga hasil yang terbaik yang akan kalian bawa pulang.</p>
<p style="text-align:right;">Guntur Utomo</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/psikologiolahraga.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/psikologiolahraga.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/psikologiolahraga.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/psikologiolahraga.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/psikologiolahraga.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/psikologiolahraga.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/psikologiolahraga.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/psikologiolahraga.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/psikologiolahraga.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/psikologiolahraga.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/psikologiolahraga.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/psikologiolahraga.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/psikologiolahraga.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/psikologiolahraga.wordpress.com/170/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&amp;blog=1514174&amp;post=170&amp;subd=psikologiolahraga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/12/09/menunggu-titik-puncak-pembinaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e272e8ee5c941053642aac31afa73d5?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">gunturutomo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/12/seagaa1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">seagaa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Rio&#8230;</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/11/04/selamat-rio/</link>
		<comments>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/11/04/selamat-rio/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 10:38:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gunturutomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://psikologiolahraga.wordpress.com/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[Rio Haryanto berhasil membuktikan dirinya berada di jalur yang tepat untuk mengharumkan nama Bangsa Indonesia. Ajang Formula BMW Asia Pasifik berhasil dia taklukkan dengan menjadi juara pertama meskipun belum selesai semua seri balapan. Rio kini menapak jenjang balapan yang lebih &#8230; <a href="http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/11/04/selamat-rio/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&amp;blog=1514174&amp;post=165&amp;subd=psikologiolahraga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_166" class="wp-caption alignleft" style="width: 145px"><img class="size-full wp-image-166" title="Rio 2" src="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/11/rio-2.jpg?w=500" alt="Rio 2"   /><p class="wp-caption-text">Maju terus, Rio</p></div>
<p>Rio Haryanto berhasil membuktikan dirinya berada di jalur yang tepat untuk mengharumkan nama Bangsa Indonesia. Ajang Formula BMW Asia Pasifik berhasil dia taklukkan dengan menjadi juara pertama meskipun belum selesai semua seri balapan. Rio kini menapak jenjang balapan yang lebih tinggi sebagai batu loncatan menjadi penunggang mobil Formula 1.<span id="more-165"></span></p>
<p>Sekilas, Rio layaknya anak-anak biasa yang punya mimpi dan cita-cita. Namun, cita-cita putra Sinyo Haryanto ini cukup luhur, yakni membawa Indonesia berprestasi di pentas dunia. Tentu saja mimpi ini bukan hanya mimpi anak kecil lagi, tapi semakin mendekati kenyataan. Umur memang boleh masih sangat belia, namun mentalitas dan kualitas Rio telah banyak memberi gambaran kepada kita bahwa Rio akan menjadi salah satu anak Indonesia yang mampu membawa merah putih berkibar di negeri orang.</p>
<p>Hal yang paling menarik ketika membicarakan Rio adalah kualitas mentalnya yang semakin matang seiring dengan perkembangan usianya. Menurut ayahnya, mental tangguh Rio muncul sejak dia masih anak-anak. Rio pernah mengalami kecelakaan karena diseruduk oleh sepeda motor yang masuk lintasan balap saat dia beraksi di atas mobil gokar di awal-awal perkenalannya dengan dunia balap. Akibat kejadian itu, tangan Rio sampai patah dan harus di sambung dengan pen. Ayahnya sempat kuatir bahwa Rio akan trauma karena kejadian tersebut. Namun, ternyata kecintaan Rio akan balap mobil tetap tidak berubah.</p>
<p>Mentalitas kuatnya juga tampak ketika melahap semua sesi latihan yang diberikan oleh pelatihnya. Tidak ada kata-kata keluhan yang keluar dari mulut Rio ketika diberi porsi latihan yang berat. Ini menunjukkan bahwa Rio memang benar-benar mempunyai motivasi dan daya juang yang begitu besar untuk menjadi juara. Ditunjang dengan darah balap yang mengalir di tubuhnya, Rio masih akan berjalan untuk meraih impiannya. Jalannya memang masih panjang, tapi bukan berarti Indonesia akan mempunyai juara di dunia balap mobil kelak..</p>
<p>Semua pihak harus memberi perhatian yang serius kepada Rio Haryanto untuk mewujudkan cita-citanya. Rio sendiri juga harus tetap teguh dengan cita-citanya dengan tetap menjaga bahwa memang proses adalah yang paling penting. Selamat Rio..</p>
<p style="text-align:right;">Guntur Utomo</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/psikologiolahraga.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/psikologiolahraga.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/psikologiolahraga.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/psikologiolahraga.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/psikologiolahraga.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/psikologiolahraga.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/psikologiolahraga.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/psikologiolahraga.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/psikologiolahraga.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/psikologiolahraga.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/psikologiolahraga.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/psikologiolahraga.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/psikologiolahraga.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/psikologiolahraga.wordpress.com/165/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&amp;blog=1514174&amp;post=165&amp;subd=psikologiolahraga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/11/04/selamat-rio/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e272e8ee5c941053642aac31afa73d5?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">gunturutomo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/11/rio-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Rio 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menguji Efektivitas Self Talk</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/08/11/menguji-efektivitas-self-talk/</link>
		<comments>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/08/11/menguji-efektivitas-self-talk/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 06:01:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gunturutomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anxiety]]></category>
		<category><![CDATA[Confidence]]></category>
		<category><![CDATA[Konsentrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi olahraga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://psikologiolahraga.wordpress.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[Review atas artikel: Belief in Self Talk adn Dynamic Balance Performance Kaori Araki, dkk. Dalam banyak literatur, hubungan antara self talk dan penampilan sudah banyak dibahas. Hasilnya, Self talk memang membantu para atlet untuk tampil maksimal seiring dengan kemampuan atletis &#8230; <a href="http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/08/11/menguji-efektivitas-self-talk/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&amp;blog=1514174&amp;post=157&amp;subd=psikologiolahraga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Review atas artikel:<br />
Belief in Self Talk adn Dynamic Balance Performance<br />
Kaori Araki, dkk.</p>
<div id="attachment_158" class="wp-caption alignleft" style="width: 126px"><img class="size-full wp-image-158" title="st1" src="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/08/st1.jpg?w=500" alt="Masukkan Energi Positif"   /><p class="wp-caption-text">Masukkan Energi Positif</p></div>
<p>Dalam banyak literatur, hubungan antara self talk dan penampilan sudah banyak dibahas. Hasilnya, Self talk memang membantu para atlet untuk tampil maksimal seiring dengan kemampuan atletis mereka. Penelitian-penelitian itu antara lain menemukan bahwa atlet-atlet olimpiade serta para pemain tim nasional menggunakan self talk sebagai strategi pembangun motivasi (Hardy, Gammage, &amp; Hall, 2005), self talk untuk mempercepat penguasaan keterampilan (Landin &amp; Hebert, 1999), untuk mengontrol fokus perhatian (Gould, Eklund, &amp; Jakcson, 1992), dan untuk meningkatkan rasa percaya diri (Landin &amp; Hebert, 1983).<span id="more-157"></span></p>
<p>Definisi self talk sendiri adalah sebuah fenomena multidimensi yang berkaitan dengan verbalisasi yang dilakukan oleh atlet yang ditujukan pada diri mereka sendiri (Hardy, hall, &amp; Hardy, 2005). Secara sederhana self talk adalah berbicara pada dirinya sendiri. Hampir setiap saat seseorang melakukan apa yang disebut dengan self talk ini, baik dalam bentuk yang posisif maupun negatif. Self talk yang positif adalah ucapan-ucapan yang positif kepada diri sendiri sepert &#8220;kamu mampu mengatasi lawan&#8221;, &#8220;pecahkan rekormu sendiri&#8221;, dan sebagainya. Sedang self talk negatif adalah ucapan-ucapan yang mengandung unsur ketidakpercayaan diri seperti, &#8220;Duh, kok lawan tampil hebat ya?&#8221;, &#8220;Aku pasti kalah&#8221;, dan sebagainya.</p>
<p>Penelitian yang dilakukan oleh Araki, dkk., ini mencoba mencari tahu seberapa efektif self talk terhadap penampilan seorang atlet. Penelitan eksperimental ini dilakukan kepada 125 pelajar. Mereka harus mengisi dua buah questionnaire, yakni Belief in Self-Talk Questionnaire serta Type of Self-Talk Questionnaire. Kuesiner pertama bertujuan melihat seberapa besar keyakinan subjek terhadap teknik Self-Talk, sedang kuesioner kedua bertujuan untuk melihat jenis-jenis Self-Talk yang digunakan dan diberikan sebelum dan sesudah subjek melakukan aktivitas keseimbangan dalam alat yang bernama Stabilometer.</p>
<p>Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek yang mempunyai skor tinggi dalam Belief of Self Talk Questionnaire mampu menjaga keseimbangan dalam waktu yang lebih lama dibandingkan subjek yang tidak begitu tinggi dalam mengisi kuesioner serupa. Temuan lain adalah tipe-tipe self talk yang paling sering dipakai adalah kategori Fokus (85 %), kemudian Instruksional (65%), Motivasional (50%), menenangkan (49%), performance worry (26%), keraguan pada diri(15%), dan frustrasi (14%).</p>
<p>Dari penelitian tersebut bisa dilihat bahwa Self-Talk masih efektif untuk meningkatkan kualitas penampilan. Hal ini menguatkan bahwa Self-Talk menjadi salah satu metode yang harus dilatihkan kepada para atlet dalam mencapai prestasi yang tertinggi. Alasan dasarnya adalah Self-Talk mengajari seseorang untuk selalu waspada dan berpikiran positif terhadap diri sendiri. Ketika seorang atlet sudah mulai ragu dengan penampilannya, dan mulai mengatakan hal-hal yang negatif berkaitan dengan diri dan kemampuan dirinya, maka kemampuan potensial atlet tersebut dengan sendirinya akan berkurang. Efeknya, kepercayaan diri, motivasi akan menurun dan keraguan serta kecemasan akan meningkat.</p>
<p>Pemilihan tipe-tipe self talk juga sangat mempengaruhi penampilan. Untuk itulah, proses pengajaran self talk harus benar-benar terfokus sehingga bisa menambal kekurangan seorang atlet dalam hal kualitas mental. Seorang atlet yang mempunyai kecenderungan lemah dalam hal motivasi, maka dia harus diajarkan untuk melakukan self talk yang bersifat motivasional, begitu juga dengan atlet yang kurang dalam mengatasi kecemasan atau rasa kuatir, maka atlet tersebut harus banyak diajak untuk melatih self talk calming (menenangkan).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/psikologiolahraga.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/psikologiolahraga.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/psikologiolahraga.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/psikologiolahraga.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/psikologiolahraga.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/psikologiolahraga.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/psikologiolahraga.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/psikologiolahraga.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/psikologiolahraga.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/psikologiolahraga.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/psikologiolahraga.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/psikologiolahraga.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/psikologiolahraga.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/psikologiolahraga.wordpress.com/157/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&amp;blog=1514174&amp;post=157&amp;subd=psikologiolahraga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/08/11/menguji-efektivitas-self-talk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e272e8ee5c941053642aac31afa73d5?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">gunturutomo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/08/st1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">st1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berkompetisilah dengan Sehat!</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/08/06/berkompetisilah-dengan-sehat/</link>
		<comments>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/08/06/berkompetisilah-dengan-sehat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 10:22:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gunturutomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anxiety]]></category>
		<category><![CDATA[Confidence]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://psikologiolahraga.wordpress.com/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[Miris, membaca berita di suratkabar perihal ditemukannya fakta bahwa ada 33 atlet yang bertanding dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Daerah Istimewa Yogyakarta berasal dari luar daerah. Betapa tidak, ajang kompetisi yang seharusnya menjadi arena untuk mencari bibit dan mematangkan potensi &#8230; <a href="http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/08/06/berkompetisilah-dengan-sehat/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&amp;blog=1514174&amp;post=153&amp;subd=psikologiolahraga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_154" class="wp-caption alignleft" style="width: 95px"><img class="size-full wp-image-154" title="porprov 1" src="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/08/porprov-1.jpg?w=500" alt="Evaluasi"   /><p class="wp-caption-text">Evaluasi</p></div>
<p>Miris, membaca berita di suratkabar perihal ditemukannya fakta bahwa ada 33 atlet yang bertanding dalam <a title="Porprov Dagelan" href="http://olahraga.kompas.com/read/xml/2009/08/05/22135689/ini.porprov.dagelan" target="_blank">Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Daerah Istimewa Yogyakarta</a> berasal dari luar daerah. Betapa tidak, ajang kompetisi yang seharusnya menjadi arena untuk mencari bibit dan mematangkan potensi lokal, malah menjadi ajang gengsi kelas teri para birokrat olahraga di daerah. Lalu, kapan bibit-bibit unggul daerah bisa tersemai?<span id="more-153"></span></p>
<p>Kompetisi terbukti membawa dampak yang positif terhadap perkembangan kualitas seorang atlet. Hal ini disebabkan karena sebuah kompetisi menuntut semua penggunaan semua kecakapan berolahraga dari seorang atlet. Kecakapan teknis dan fisik jelas utama karena dengan berkompetisi, para atlet bertemu dengan lawan dan atmosfer yang harus dikalahkan. Semua keterampilan dan kecakapan yang dilatihkan akan bisa terlihat secara objektif ketika mereka berada dalam situasi yang kompetitif. Dalam proses latihan, seringkali kualitas para atlet tampak menonjol, tapi begitu bertemu dengan lawan sesungguhnya, semua keterampilan yang ada menjadi hilang begitu saja.</p>
<p>Ajang kompetisi lokal sejenis Porprov atau kejurnas seharusnya menjadi sebuah batu loncatan menuju prestasi yang lebih membanggakan ditingkat regional atau bahkan di tingkat internasional. Ajang kompetisi lokal harus memberikan masukan tidak hanya kepada para atlet untuk mengukur kemampuan dirinya, tapi juga kepada para pelatih tentang sejauh mana metode kepelatihannya efektif. Informasi-informasi tersebut akan sangat berharga untuk peningkatan kualitas atlet di kemudian hari.</p>
<p>Selain aspek teknis dan fisik, kompetisi juga mampu meningkatkan kualitas mental bertanding para atlet. Dengan adanya lawan, para atlet harus mampu menguasai diri agar tidak grogi, cemas atau takut. Ketakutan, kecemasan dan perasaan khawatir akan membuat semua kecakapan yang dimiliki sirna seketika. Dengan kompetisi yang rutin, para pemain akan mampu mengukur sejauh mana tingkat kecemasan yang mereka miliki serta mampu menemukan cara serta metode untuk mengatasinya.</p>
<p>Suporter, baik yang mendukung dirinya maupun lawan, juga menghadirkan atmosfer yang menekan bagi para atlet. Dengan tekanan-tekanan tersebut, atlet diajarkan untuk bisa tenang dan tetap fokus menghadapi tantangan yang di depannya. Sekali fokus hilang, maka musuh akan dengan mudah mengalahkan. Belajar untuk fokus tidak bisa dilakukan hanya dengan kondisi yang tenang, tapi fokus harus diajarkan ketika para atlet sedang berada dalam tekanan yang berat, karena memang itulah hakikat pertandingan sesungguhnya.</p>
<p>Level motivasi akan terjaga ketika seorang atlet tahu bahwa ada harapan yang bisa mereka raih. Dengan kompetisi, atlet akan diiming-imingi sesuatu yang menantang, yang terutama adalah sebuah kemenangan. Dengan iming-iming seperti ini, atlet akan belajar untuk memacu dirinya agar menjadi yang terbaik. Dengan motivasi untuk menjadi yang lebih baik atau yang terbaik, maka atlet akan mampu mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Berbeda dengan iming-iming yang berbentuk materi, ketika seorang atlet sudah merasa cukup dengan materi yang dia miliki, maka bukan tidak mungkin, atlet tersebut akan berhenti dan itu artinya tidak ada lagi prestasi yang berhasil dia raih. Ironisnya, inilah yang banyak terjadi di dunia olahraga Indonesia.</p>
<p>Media Evaluasi</p>
<p>Seperti disinggung di atas, kompetisi (khususnya tingkat nasional atau regional) seharusnya menjadi ajang untuk berevaluasi. Ini terutama bagi para pelatih, pembina dan tentu saja para atlet. Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh dalam setiap aspek. Aspek teknis, pelatih harus mampu memotret dan mencatat setiap kelemahan dan kekurangmatangan para atlet ketika bertanding. Selanjutnya, kekurangan-kekurangan tersebut harus segera dicari solusinya dalam proses latihan. Harapannya, pada saat menjalani kompetisi di level yang lebih tinggi, kekurangan-kekurangan tersebut bisa dihilangkan.</p>
<p>Aspek fisik juga tidak kalah pentingnya. Untuk sebagian besar cabang olahraga, fisik merupakan elemen yang sangat menentukan. Meskipun unggul penguasaan teknik, tapi ketika fisik tidak menunjang untuk menjalani pertandingan, maka hasilnya pun akan bisa diprediksi. Latihan fisik harus benar-benar mampu memberikan landasan bagi munculnya kualitas teknik yang prima. Dewasa ini sudah banyak literatur dalam hal latihan fisik. Pelatih Indonesia harusnya mulai melirik penggunaan literatur dan penelitian-penelitian dalam bidang olahraga agar fisik pemain betul-betul siap. Kenyataannya, para pelatih fisik masih banyak yang menggunakan cara-cara lama dalam menggenjot fisik pemain. Tidak jarang latihan-latihan pola lama ini justru tidak efektif.</p>
<p>Dalam segi mental, kompetisi yang baik akan mampu mendongkrak kualitas mental atlet. Pelatih dan pembina harus benar-benar waspada agar mental atlet tidak hancur setelah berkompetisi di daerah. Dengan beban yang terlalu tinggi, tidak jarang para pemain akan mengalami <a title="Mengatasi Burn out atlet" href="http://www.selfhelpmagazine.com/articles/sports/preventburnout.html" target="_blank"><em>burn out</em></a> yang akhirnya menurunkan semangat, motivasi, serta daya juang atlet selanjutnya. Penyusunan sasaran dan tujuan yang benar diselingi dengan pemotivasian atlet akan mendorong mereka ke level yang lebih tinggi. Pelatih harus mengevaluasi aspek mental ini juga. Evaluasi yang tepat akan menghasilkan penanganan yang tepat. Para pelatih Indonesia harus mulai membuka diri untuk bekerjasama dengan para profesional di bidang ilmu psikologi olahraga untuk mendapatkan masukan yang tepat mengatasi kekurangan para atlet di dalam aspek mental ini.</p>
<p>Efek langsung dari penanganan mental yang tepat akan membuat suasana latihan menjadi lebih menyenangkan. Motivasi atlet tidak hanya diarahkan kepada kompetisi, tapi juga harus diberikan pada proses latihan. Proses latihan yang sehat adalah ketika para pemain mampu menikmati proses latihan tersebut, datang dengan semangat dan pulang dengan rasa penasaran. Itu akan menumbuhkan keinginan yang terus menerus dalam diri atlet untuk selalu datang pada setiap sesi latihan.</p>
<p>Kembali ke kasus penggunaan atlet &#8220;ilegal&#8221; a la Porprov DIY, sungguh semua elemen yang dibutuhkan bagi atlet untuk berkembang menjadi hilang. Ketika atlet daerah tahu bahwa lawannya adalah atlet-atlet luar daerah (biasanya atlet yang sudah jadi), maka bukan tidak mungkin para atlet daerah tersebut akan merasa rendah diri dan tidak bersemangat ketika bertanding karena tahu bahwa dirinya sudah pasti kalah. Selain itu, para pelatih pun tidak akan mempunyai ukuran yang jelas untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Selain kehilangan motivasi jangka pendek, atlet juga akan merasa tidak ada lagi harapan bagi mereka untuk berkembang lebih jauh. Jelas ini merugikan karena pengaruhnya akan berimbas pada proses latihan.</p>
<p>Lalu, kapan olahraga Indonesia bisa menjadi alat untuk meraih kembali kejayaan bangsa jika atlet-atlet potensial harus layu sebelum mereka bisa berkembang? Sungguh ironis, di tengah keterpurukan bangsa ini akibat berulangkali di&#8221;kerjai&#8221; para teroris, masih saja para birokrat olahraga Indonesia berpikir kampungan. Saya pikir, mereka adalah orang-orang yang jauh lebih keji dibandingkan para teroris karena mereka merusak bangsanya sendiri dengan cara yang sangat sistematis&#8230;Sayang memang&#8230;</p>
<p style="text-align:right;">Guntur Utomo</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/psikologiolahraga.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/psikologiolahraga.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/psikologiolahraga.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/psikologiolahraga.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/psikologiolahraga.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/psikologiolahraga.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/psikologiolahraga.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/psikologiolahraga.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/psikologiolahraga.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/psikologiolahraga.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/psikologiolahraga.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/psikologiolahraga.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/psikologiolahraga.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/psikologiolahraga.wordpress.com/153/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&amp;blog=1514174&amp;post=153&amp;subd=psikologiolahraga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/08/06/berkompetisilah-dengan-sehat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e272e8ee5c941053642aac31afa73d5?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">gunturutomo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/08/porprov-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">porprov 1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sinergi Psikologi Olahraga dalam Program Latihan</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/07/21/sinergi-psikologi-olahraga-dalam-program-latihan/</link>
		<comments>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/07/21/sinergi-psikologi-olahraga-dalam-program-latihan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jul 2009 09:06:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gunturutomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[psikologi olahraga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://psikologiolahraga.wordpress.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[Psikologi olahraga merupakan salah satu instrumen dalam sebuah proses latihan untuk meningkatkan performa atlet. Bersama dengan biomekanik, nutrisi serta kedokteran, psikologi memberi asupan agar program penciptaan atlet berprestasi menjadi lebih terarah dan efektif. Kenyataannya, belum banyak pelatih yang menyadari peran, &#8230; <a href="http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/07/21/sinergi-psikologi-olahraga-dalam-program-latihan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&amp;blog=1514174&amp;post=147&amp;subd=psikologiolahraga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_148" class="wp-caption alignleft" style="width: 107px"><img class="size-full wp-image-148" src="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/07/sp2.jpg?w=500" alt="mental training"   /><p class="wp-caption-text">mental training</p></div>
<p>Psikologi olahraga merupakan salah satu instrumen dalam sebuah proses latihan untuk meningkatkan performa atlet. Bersama dengan biomekanik, nutrisi serta kedokteran, psikologi memberi asupan agar program penciptaan atlet berprestasi menjadi lebih terarah dan efektif. Kenyataannya, belum banyak pelatih yang menyadari peran, fungsi dan bentuk yang bisa diberikan oleh psikologi olahraga dalam melatih para atletnya.<span id="more-147"></span></p>
<p>Ada dua aliran psikologi olahraga yang bisa diterapkan dalam konteks hubungan dengan para atlet. Yang pertama adalah psikologi klinis. Aliran ini merupakan salah satu cabang psikologi yang secara spesifik berkaitan dengan gangguan-gangguan emosional atau kepribadian yang dialami oleh manusia. Penerapan dalam konteks olahraga, psikolog klinis menjadi partner bagi manajemen dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kejiwaan yang dialami baik oleh atlet, pelatih maupun pengurus cabang olahraga tersebut. Persoalan-persoalan kejiwaan yang umum dialami oleh para atlet antara lain gangguan makan (eating disorders), jenisnya adalah Bulimia atau Anorexia,  gangguan tidur, gangguan kecemasan akut, gangguan kepribadian dan sebagainya. Psikolog klinis dalam olahraga harus mampu menjadi konselor atau terapis bagi atlet-atlet yang mengalami gangguan-gangguan tersebut. Perannya tidak berkaitan secara langsung dengan proses latihan dan  secara otomatis tidak berkaitan dengan para pelatih dalam lapangan.</p>
<p>Aliran yang kedua, dan menjadi salah satu elemen vital dalam proses latihan adalah psikologi pendidikan. Psikologi pendidikan merupakan salah satu cabang psikologi yang memberikan metode dan dasar bagi sebuah proses pendidikan dalam arti yang luas. Proses latihan menjadi salah satu bentuk pendidikan dalam situasi olahraga. Psikolog pendidikan memegang peranan yang cukup vital dalam pembentukan mental para atlet agar mencapai prestasi yang maksimal. Secara umum, peran psikolog pendidikan dalam olahraga adalah menjadi asisten pelatih (bersama pelatih fisik, ahli nutrisi, dan dokter) untuk memberi masukan pelatih dalam menyusun program latihannya. Psikologi aliran ini yang kemudian akan kita sebut dengan psikolog olahraga.</p>
<p>Perhatikan Program Latihan</p>
<p>Dalam menjalankan perannya, psikolog olahraga mendasarkan programnya pada program yang dibuat oleh pelatih. Secara umum, pelatih akan membagi program latihannya menjadi dua periodisasi yakni, microcycle dan macrocycle. Microcycle adalah program yang dibuat dalam logika waktu yang lebih pendek, misalnya harian dan mingguan. Sedangkan macrocycle adalah kumpulan dari beberapa microcycle dan merupakan sasaran akhir tahun dari seorang atlet. Secara sederhana, microcycle mempunyai sasaran-sasaran jangka pendek, sedangkan macrocycle adalah sasaran puncaknya.</p>
<p>Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah kalender kompetisi. Sebagai bahan evaluasi latihan, seorang atlet memerlukan kompetisi yang rutin dan bersifat meningkat. Kompetisi yang rutin dan kompetitif akan memberikan kesempatan baik bagi para atlet maupun pelatih untuk melihat perkembangan dan mengevaluasi kekuarangan-kekurangan yang mungkin masih ditemui. Kompetisi sendiri biasanya dibedakan menjadi dua jenis, yang pertama adalah Kompetisi Antara dan yang kedua adalah kompetisi utama. Untuk beberapa cabang olahraga, kompetisi utama diadakan dalam bentuk seri yang dilangsungkan selama satu tahun.</p>
<p>Dengan mengantongi program latihan dari pelatih, para psikolog olahraga baru bisa membuat program dengan sasaran peningkatan kualitas mental bertanding dari para atlet. Program-program psikolog olahraga tidak hanya berupa pendampingan bagi para atlet, tapi berbentuk program latihan yang membekali keterampilan psikologis kepada para atlet. Keterampilan-keterampilan mental tersebut akan sangat berguna untuk pemain agar mereka mampu menangani masalah-masalah psikologis yang sering mengganggu penampilan, seperti kecemasan, motivasi, percaya diri, daya juang dan sebagainya.Tidak hanya dalam pertandingan, keterampilan ini juga akan menciptakan mental yang kuat saat menjalani latihan. Keterampilan-keterampilan mental tersebut tersebut antara lain: Self talk, imagery training, relaksasi dan sebagainya.</p>
<p>Sebagai kesimpulan, program yang dibuat oleh psikolog olahraga harus selalu menunjang program yang dibuat oleh para pelatih kepala. Tujuannya adalah satu, membentuk atlet yang mempunyai mental yang tangguh, motivasi prima serta konsentrasi yang mendukung mereka untuk mendapatkan gelar juara. Para pelatih atau pembina cabang olahraga yang serius ingin menciptakan atlet-atlet yang berkualitas hendaknya mulai memikirkan untuk menggandeng unsur ilmu pengetahuan yang lain. Karena olahraga modern sekarang ini tidak cukup mengandalkan bakat, tapi proses pembinaan dan latihan menjadi elemen vital dalam mencetak para calon juara. Negara-negara dengan tradisi prestasi olahraga yang tinggi telah menerapkan ini dengan baik, mengapa Indonesia tidak memulainya dari sekarang?</p>
<p style="text-align:right;">Guntur Utomo</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/psikologiolahraga.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/psikologiolahraga.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/psikologiolahraga.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/psikologiolahraga.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/psikologiolahraga.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/psikologiolahraga.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/psikologiolahraga.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/psikologiolahraga.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/psikologiolahraga.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/psikologiolahraga.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/psikologiolahraga.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/psikologiolahraga.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/psikologiolahraga.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/psikologiolahraga.wordpress.com/147/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&amp;blog=1514174&amp;post=147&amp;subd=psikologiolahraga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/07/21/sinergi-psikologi-olahraga-dalam-program-latihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e272e8ee5c941053642aac31afa73d5?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">gunturutomo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/07/sp2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mental training</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
