<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Stop Watch!</title>
	<atom:link href="http://psikologiolahraga.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com</link>
	<description>Kajian Psikologi Olahraga Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Nov 2009 10:40:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='psikologiolahraga.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/69746abd8a01e77f202faf01827669f6?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Stop Watch!</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Selamat Rio&#8230;</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/11/04/selamat-rio/</link>
		<comments>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/11/04/selamat-rio/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 10:38:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gunturutomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://psikologiolahraga.wordpress.com/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[Rio Haryanto berhasil membuktikan dirinya berada di jalur yang tepat untuk mengharumkan nama Bangsa Indonesia. Ajang Formula BMW Asia Pasifik berhasil dia taklukkan dengan menjadi juara pertama meskipun belum selesai semua seri balapan. Rio kini menapak jenjang balapan yang lebih tinggi sebagai batu loncatan menjadi penunggang mobil Formula 1.
Sekilas, Rio layaknya anak-anak biasa yang punya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=165&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_166" class="wp-caption alignleft" style="width: 145px"><img class="size-full wp-image-166" title="Rio 2" src="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/11/rio-2.jpg?w=135&#038;h=104" alt="Rio 2" width="135" height="104" /><p class="wp-caption-text">Maju terus, Rio</p></div>
<p>Rio Haryanto berhasil membuktikan dirinya berada di jalur yang tepat untuk mengharumkan nama Bangsa Indonesia. Ajang Formula BMW Asia Pasifik berhasil dia taklukkan dengan menjadi juara pertama meskipun belum selesai semua seri balapan. Rio kini menapak jenjang balapan yang lebih tinggi sebagai batu loncatan menjadi penunggang mobil Formula 1.<span id="more-165"></span></p>
<p>Sekilas, Rio layaknya anak-anak biasa yang punya mimpi dan cita-cita. Namun, cita-cita putra Sinyo Haryanto ini cukup luhur, yakni membawa Indonesia berprestasi di pentas dunia. Tentu saja mimpi ini bukan hanya mimpi anak kecil lagi, tapi semakin mendekati kenyataan. Umur memang boleh masih sangat belia, namun mentalitas dan kualitas Rio telah banyak memberi gambaran kepada kita bahwa Rio akan menjadi salah satu anak Indonesia yang mampu membawa merah putih berkibar di negeri orang.</p>
<p>Hal yang paling menarik ketika membicarakan Rio adalah kualitas mentalnya yang semakin matang seiring dengan perkembangan usianya. Menurut ayahnya, mental tangguh Rio muncul sejak dia masih anak-anak. Rio pernah mengalami kecelakaan karena diseruduk oleh sepeda motor yang masuk lintasan balap saat dia beraksi di atas mobil gokar di awal-awal perkenalannya dengan dunia balap. Akibat kejadian itu, tangan Rio sampai patah dan harus di sambung dengan pen. Ayahnya sempat kuatir bahwa Rio akan trauma karena kejadian tersebut. Namun, ternyata kecintaan Rio akan balap mobil tetap tidak berubah.</p>
<p>Mentalitas kuatnya juga tampak ketika melahap semua sesi latihan yang diberikan oleh pelatihnya. Tidak ada kata-kata keluhan yang keluar dari mulut Rio ketika diberi porsi latihan yang berat. Ini menunjukkan bahwa Rio memang benar-benar mempunyai motivasi dan daya juang yang begitu besar untuk menjadi juara. Ditunjang dengan darah balap yang mengalir di tubuhnya, Rio masih akan berjalan untuk meraih impiannya. Jalannya memang masih panjang, tapi bukan berarti Indonesia akan mempunyai juara di dunia balap mobil kelak..</p>
<p>Semua pihak harus memberi perhatian yang serius kepada Rio Haryanto untuk mewujudkan cita-citanya. Rio sendiri juga harus tetap teguh dengan cita-citanya dengan tetap menjaga bahwa memang proses adalah yang paling penting. Selamat Rio..</p>
<p style="text-align:right;">Guntur Utomo</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/psikologiolahraga.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/psikologiolahraga.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/psikologiolahraga.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/psikologiolahraga.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/psikologiolahraga.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/psikologiolahraga.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/psikologiolahraga.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/psikologiolahraga.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/psikologiolahraga.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/psikologiolahraga.wordpress.com/165/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=165&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/11/04/selamat-rio/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e272e8ee5c941053642aac31afa73d5?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">gunturutomo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/11/rio-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Rio 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menguji Efektivitas Self Talk</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/08/11/menguji-efektivitas-self-talk/</link>
		<comments>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/08/11/menguji-efektivitas-self-talk/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 06:01:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gunturutomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anxiety]]></category>
		<category><![CDATA[Confidence]]></category>
		<category><![CDATA[Konsentrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi olahraga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://psikologiolahraga.wordpress.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[Review atas artikel:
Belief in Self Talk adn Dynamic Balance Performance
Kaori Araki, dkk.
Dalam banyak literatur, hubungan antara self talk dan penampilan sudah banyak dibahas. Hasilnya, Self talk memang membantu para atlet untuk tampil maksimal seiring dengan kemampuan atletis mereka. Penelitian-penelitian itu antara lain menemukan bahwa atlet-atlet olimpiade serta para pemain tim nasional menggunakan self talk sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=157&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Review atas artikel:<br />
Belief in Self Talk adn Dynamic Balance Performance<br />
Kaori Araki, dkk.</p>
<div id="attachment_158" class="wp-caption alignleft" style="width: 126px"><img class="size-full wp-image-158" title="st1" src="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/08/st1.jpg?w=116&#038;h=104" alt="Masukkan Energi Positif" width="116" height="104" /><p class="wp-caption-text">Masukkan Energi Positif</p></div>
<p>Dalam banyak literatur, hubungan antara self talk dan penampilan sudah banyak dibahas. Hasilnya, Self talk memang membantu para atlet untuk tampil maksimal seiring dengan kemampuan atletis mereka. Penelitian-penelitian itu antara lain menemukan bahwa atlet-atlet olimpiade serta para pemain tim nasional menggunakan self talk sebagai strategi pembangun motivasi (Hardy, Gammage, &amp; Hall, 2005), self talk untuk mempercepat penguasaan keterampilan (Landin &amp; Hebert, 1999), untuk mengontrol fokus perhatian (Gould, Eklund, &amp; Jakcson, 1992), dan untuk meningkatkan rasa percaya diri (Landin &amp; Hebert, 1983).<span id="more-157"></span></p>
<p>Definisi self talk sendiri adalah sebuah fenomena multidimensi yang berkaitan dengan verbalisasi yang dilakukan oleh atlet yang ditujukan pada diri mereka sendiri (Hardy, hall, &amp; Hardy, 2005). Secara sederhana self talk adalah berbicara pada dirinya sendiri. Hampir setiap saat seseorang melakukan apa yang disebut dengan self talk ini, baik dalam bentuk yang posisif maupun negatif. Self talk yang positif adalah ucapan-ucapan yang positif kepada diri sendiri sepert &#8220;kamu mampu mengatasi lawan&#8221;, &#8220;pecahkan rekormu sendiri&#8221;, dan sebagainya. Sedang self talk negatif adalah ucapan-ucapan yang mengandung unsur ketidakpercayaan diri seperti, &#8220;Duh, kok lawan tampil hebat ya?&#8221;, &#8220;Aku pasti kalah&#8221;, dan sebagainya.</p>
<p>Penelitian yang dilakukan oleh Araki, dkk., ini mencoba mencari tahu seberapa efektif self talk terhadap penampilan seorang atlet. Penelitan eksperimental ini dilakukan kepada 125 pelajar. Mereka harus mengisi dua buah questionnaire, yakni Belief in Self-Talk Questionnaire serta Type of Self-Talk Questionnaire. Kuesiner pertama bertujuan melihat seberapa besar keyakinan subjek terhadap teknik Self-Talk, sedang kuesioner kedua bertujuan untuk melihat jenis-jenis Self-Talk yang digunakan dan diberikan sebelum dan sesudah subjek melakukan aktivitas keseimbangan dalam alat yang bernama Stabilometer.</p>
<p>Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek yang mempunyai skor tinggi dalam Belief of Self Talk Questionnaire mampu menjaga keseimbangan dalam waktu yang lebih lama dibandingkan subjek yang tidak begitu tinggi dalam mengisi kuesioner serupa. Temuan lain adalah tipe-tipe self talk yang paling sering dipakai adalah kategori Fokus (85 %), kemudian Instruksional (65%), Motivasional (50%), menenangkan (49%), performance worry (26%), keraguan pada diri(15%), dan frustrasi (14%).</p>
<p>Dari penelitian tersebut bisa dilihat bahwa Self-Talk masih efektif untuk meningkatkan kualitas penampilan. Hal ini menguatkan bahwa Self-Talk menjadi salah satu metode yang harus dilatihkan kepada para atlet dalam mencapai prestasi yang tertinggi. Alasan dasarnya adalah Self-Talk mengajari seseorang untuk selalu waspada dan berpikiran positif terhadap diri sendiri. Ketika seorang atlet sudah mulai ragu dengan penampilannya, dan mulai mengatakan hal-hal yang negatif berkaitan dengan diri dan kemampuan dirinya, maka kemampuan potensial atlet tersebut dengan sendirinya akan berkurang. Efeknya, kepercayaan diri, motivasi akan menurun dan keraguan serta kecemasan akan meningkat.</p>
<p>Pemilihan tipe-tipe self talk juga sangat mempengaruhi penampilan. Untuk itulah, proses pengajaran self talk harus benar-benar terfokus sehingga bisa menambal kekurangan seorang atlet dalam hal kualitas mental. Seorang atlet yang mempunyai kecenderungan lemah dalam hal motivasi, maka dia harus diajarkan untuk melakukan self talk yang bersifat motivasional, begitu juga dengan atlet yang kurang dalam mengatasi kecemasan atau rasa kuatir, maka atlet tersebut harus banyak diajak untuk melatih self talk calming (menenangkan).</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/psikologiolahraga.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/psikologiolahraga.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/psikologiolahraga.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/psikologiolahraga.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/psikologiolahraga.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/psikologiolahraga.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/psikologiolahraga.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/psikologiolahraga.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/psikologiolahraga.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/psikologiolahraga.wordpress.com/157/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=157&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/08/11/menguji-efektivitas-self-talk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e272e8ee5c941053642aac31afa73d5?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">gunturutomo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/08/st1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">st1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berkompetisilah dengan Sehat!</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/08/06/berkompetisilah-dengan-sehat/</link>
		<comments>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/08/06/berkompetisilah-dengan-sehat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 10:22:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gunturutomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anxiety]]></category>
		<category><![CDATA[Confidence]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://psikologiolahraga.wordpress.com/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[Miris, membaca berita di suratkabar perihal ditemukannya fakta bahwa ada 33 atlet yang bertanding dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Daerah Istimewa Yogyakarta berasal dari luar daerah. Betapa tidak, ajang kompetisi yang seharusnya menjadi arena untuk mencari bibit dan mematangkan potensi lokal, malah menjadi ajang gengsi kelas teri para birokrat olahraga di daerah. Lalu, kapan bibit-bibit [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=153&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_154" class="wp-caption alignleft" style="width: 95px"><img class="size-full wp-image-154" title="porprov 1" src="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/08/porprov-1.jpg?w=85&#038;h=110" alt="Evaluasi" width="85" height="110" /><p class="wp-caption-text">Evaluasi</p></div>
<p>Miris, membaca berita di suratkabar perihal ditemukannya fakta bahwa ada 33 atlet yang bertanding dalam <a title="Porprov Dagelan" href="http://olahraga.kompas.com/read/xml/2009/08/05/22135689/ini.porprov.dagelan" target="_blank">Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Daerah Istimewa Yogyakarta</a> berasal dari luar daerah. Betapa tidak, ajang kompetisi yang seharusnya menjadi arena untuk mencari bibit dan mematangkan potensi lokal, malah menjadi ajang gengsi kelas teri para birokrat olahraga di daerah. Lalu, kapan bibit-bibit unggul daerah bisa tersemai?<span id="more-153"></span></p>
<p>Kompetisi terbukti membawa dampak yang positif terhadap perkembangan kualitas seorang atlet. Hal ini disebabkan karena sebuah kompetisi menuntut semua penggunaan semua kecakapan berolahraga dari seorang atlet. Kecakapan teknis dan fisik jelas utama karena dengan berkompetisi, para atlet bertemu dengan lawan dan atmosfer yang harus dikalahkan. Semua keterampilan dan kecakapan yang dilatihkan akan bisa terlihat secara objektif ketika mereka berada dalam situasi yang kompetitif. Dalam proses latihan, seringkali kualitas para atlet tampak menonjol, tapi begitu bertemu dengan lawan sesungguhnya, semua keterampilan yang ada menjadi hilang begitu saja.</p>
<p>Ajang kompetisi lokal sejenis Porprov atau kejurnas seharusnya menjadi sebuah batu loncatan menuju prestasi yang lebih membanggakan ditingkat regional atau bahkan di tingkat internasional. Ajang kompetisi lokal harus memberikan masukan tidak hanya kepada para atlet untuk mengukur kemampuan dirinya, tapi juga kepada para pelatih tentang sejauh mana metode kepelatihannya efektif. Informasi-informasi tersebut akan sangat berharga untuk peningkatan kualitas atlet di kemudian hari.</p>
<p>Selain aspek teknis dan fisik, kompetisi juga mampu meningkatkan kualitas mental bertanding para atlet. Dengan adanya lawan, para atlet harus mampu menguasai diri agar tidak grogi, cemas atau takut. Ketakutan, kecemasan dan perasaan khawatir akan membuat semua kecakapan yang dimiliki sirna seketika. Dengan kompetisi yang rutin, para pemain akan mampu mengukur sejauh mana tingkat kecemasan yang mereka miliki serta mampu menemukan cara serta metode untuk mengatasinya.</p>
<p>Suporter, baik yang mendukung dirinya maupun lawan, juga menghadirkan atmosfer yang menekan bagi para atlet. Dengan tekanan-tekanan tersebut, atlet diajarkan untuk bisa tenang dan tetap fokus menghadapi tantangan yang di depannya. Sekali fokus hilang, maka musuh akan dengan mudah mengalahkan. Belajar untuk fokus tidak bisa dilakukan hanya dengan kondisi yang tenang, tapi fokus harus diajarkan ketika para atlet sedang berada dalam tekanan yang berat, karena memang itulah hakikat pertandingan sesungguhnya.</p>
<p>Level motivasi akan terjaga ketika seorang atlet tahu bahwa ada harapan yang bisa mereka raih. Dengan kompetisi, atlet akan diiming-imingi sesuatu yang menantang, yang terutama adalah sebuah kemenangan. Dengan iming-iming seperti ini, atlet akan belajar untuk memacu dirinya agar menjadi yang terbaik. Dengan motivasi untuk menjadi yang lebih baik atau yang terbaik, maka atlet akan mampu mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Berbeda dengan iming-iming yang berbentuk materi, ketika seorang atlet sudah merasa cukup dengan materi yang dia miliki, maka bukan tidak mungkin, atlet tersebut akan berhenti dan itu artinya tidak ada lagi prestasi yang berhasil dia raih. Ironisnya, inilah yang banyak terjadi di dunia olahraga Indonesia.</p>
<p>Media Evaluasi</p>
<p>Seperti disinggung di atas, kompetisi (khususnya tingkat nasional atau regional) seharusnya menjadi ajang untuk berevaluasi. Ini terutama bagi para pelatih, pembina dan tentu saja para atlet. Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh dalam setiap aspek. Aspek teknis, pelatih harus mampu memotret dan mencatat setiap kelemahan dan kekurangmatangan para atlet ketika bertanding. Selanjutnya, kekurangan-kekurangan tersebut harus segera dicari solusinya dalam proses latihan. Harapannya, pada saat menjalani kompetisi di level yang lebih tinggi, kekurangan-kekurangan tersebut bisa dihilangkan.</p>
<p>Aspek fisik juga tidak kalah pentingnya. Untuk sebagian besar cabang olahraga, fisik merupakan elemen yang sangat menentukan. Meskipun unggul penguasaan teknik, tapi ketika fisik tidak menunjang untuk menjalani pertandingan, maka hasilnya pun akan bisa diprediksi. Latihan fisik harus benar-benar mampu memberikan landasan bagi munculnya kualitas teknik yang prima. Dewasa ini sudah banyak literatur dalam hal latihan fisik. Pelatih Indonesia harusnya mulai melirik penggunaan literatur dan penelitian-penelitian dalam bidang olahraga agar fisik pemain betul-betul siap. Kenyataannya, para pelatih fisik masih banyak yang menggunakan cara-cara lama dalam menggenjot fisik pemain. Tidak jarang latihan-latihan pola lama ini justru tidak efektif.</p>
<p>Dalam segi mental, kompetisi yang baik akan mampu mendongkrak kualitas mental atlet. Pelatih dan pembina harus benar-benar waspada agar mental atlet tidak hancur setelah berkompetisi di daerah. Dengan beban yang terlalu tinggi, tidak jarang para pemain akan mengalami <a title="Mengatasi Burn out atlet" href="http://www.selfhelpmagazine.com/articles/sports/preventburnout.html" target="_blank"><em>burn out</em></a> yang akhirnya menurunkan semangat, motivasi, serta daya juang atlet selanjutnya. Penyusunan sasaran dan tujuan yang benar diselingi dengan pemotivasian atlet akan mendorong mereka ke level yang lebih tinggi. Pelatih harus mengevaluasi aspek mental ini juga. Evaluasi yang tepat akan menghasilkan penanganan yang tepat. Para pelatih Indonesia harus mulai membuka diri untuk bekerjasama dengan para profesional di bidang ilmu psikologi olahraga untuk mendapatkan masukan yang tepat mengatasi kekurangan para atlet di dalam aspek mental ini.</p>
<p>Efek langsung dari penanganan mental yang tepat akan membuat suasana latihan menjadi lebih menyenangkan. Motivasi atlet tidak hanya diarahkan kepada kompetisi, tapi juga harus diberikan pada proses latihan. Proses latihan yang sehat adalah ketika para pemain mampu menikmati proses latihan tersebut, datang dengan semangat dan pulang dengan rasa penasaran. Itu akan menumbuhkan keinginan yang terus menerus dalam diri atlet untuk selalu datang pada setiap sesi latihan.</p>
<p>Kembali ke kasus penggunaan atlet &#8220;ilegal&#8221; a la Porprov DIY, sungguh semua elemen yang dibutuhkan bagi atlet untuk berkembang menjadi hilang. Ketika atlet daerah tahu bahwa lawannya adalah atlet-atlet luar daerah (biasanya atlet yang sudah jadi), maka bukan tidak mungkin para atlet daerah tersebut akan merasa rendah diri dan tidak bersemangat ketika bertanding karena tahu bahwa dirinya sudah pasti kalah. Selain itu, para pelatih pun tidak akan mempunyai ukuran yang jelas untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Selain kehilangan motivasi jangka pendek, atlet juga akan merasa tidak ada lagi harapan bagi mereka untuk berkembang lebih jauh. Jelas ini merugikan karena pengaruhnya akan berimbas pada proses latihan.</p>
<p>Lalu, kapan olahraga Indonesia bisa menjadi alat untuk meraih kembali kejayaan bangsa jika atlet-atlet potensial harus layu sebelum mereka bisa berkembang? Sungguh ironis, di tengah keterpurukan bangsa ini akibat berulangkali di&#8221;kerjai&#8221; para teroris, masih saja para birokrat olahraga Indonesia berpikir kampungan. Saya pikir, mereka adalah orang-orang yang jauh lebih keji dibandingkan para teroris karena mereka merusak bangsanya sendiri dengan cara yang sangat sistematis&#8230;Sayang memang&#8230;</p>
<p style="text-align:right;">Guntur Utomo</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/psikologiolahraga.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/psikologiolahraga.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/psikologiolahraga.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/psikologiolahraga.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/psikologiolahraga.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/psikologiolahraga.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/psikologiolahraga.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/psikologiolahraga.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/psikologiolahraga.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/psikologiolahraga.wordpress.com/153/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=153&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/08/06/berkompetisilah-dengan-sehat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e272e8ee5c941053642aac31afa73d5?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">gunturutomo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/08/porprov-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">porprov 1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sinergi Psikologi Olahraga dalam Program Latihan</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/07/21/sinergi-psikologi-olahraga-dalam-program-latihan/</link>
		<comments>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/07/21/sinergi-psikologi-olahraga-dalam-program-latihan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jul 2009 09:06:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gunturutomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[psikologi olahraga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://psikologiolahraga.wordpress.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[Psikologi olahraga merupakan salah satu instrumen dalam sebuah proses latihan untuk meningkatkan performa atlet. Bersama dengan biomekanik, nutrisi serta kedokteran, psikologi memberi asupan agar program penciptaan atlet berprestasi menjadi lebih terarah dan efektif. Kenyataannya, belum banyak pelatih yang menyadari peran, fungsi dan bentuk yang bisa diberikan oleh psikologi olahraga dalam melatih para atletnya.
Ada dua aliran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=147&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_148" class="wp-caption alignleft" style="width: 107px"><img class="size-full wp-image-148" src="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/07/sp2.jpg?w=97&#038;h=124" alt="mental training" width="97" height="124" /><p class="wp-caption-text">mental training</p></div>
<p>Psikologi olahraga merupakan salah satu instrumen dalam sebuah proses latihan untuk meningkatkan performa atlet. Bersama dengan biomekanik, nutrisi serta kedokteran, psikologi memberi asupan agar program penciptaan atlet berprestasi menjadi lebih terarah dan efektif. Kenyataannya, belum banyak pelatih yang menyadari peran, fungsi dan bentuk yang bisa diberikan oleh psikologi olahraga dalam melatih para atletnya.<span id="more-147"></span></p>
<p>Ada dua aliran psikologi olahraga yang bisa diterapkan dalam konteks hubungan dengan para atlet. Yang pertama adalah psikologi klinis. Aliran ini merupakan salah satu cabang psikologi yang secara spesifik berkaitan dengan gangguan-gangguan emosional atau kepribadian yang dialami oleh manusia. Penerapan dalam konteks olahraga, psikolog klinis menjadi partner bagi manajemen dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kejiwaan yang dialami baik oleh atlet, pelatih maupun pengurus cabang olahraga tersebut. Persoalan-persoalan kejiwaan yang umum dialami oleh para atlet antara lain gangguan makan (eating disorders), jenisnya adalah Bulimia atau Anorexia,  gangguan tidur, gangguan kecemasan akut, gangguan kepribadian dan sebagainya. Psikolog klinis dalam olahraga harus mampu menjadi konselor atau terapis bagi atlet-atlet yang mengalami gangguan-gangguan tersebut. Perannya tidak berkaitan secara langsung dengan proses latihan dan  secara otomatis tidak berkaitan dengan para pelatih dalam lapangan.</p>
<p>Aliran yang kedua, dan menjadi salah satu elemen vital dalam proses latihan adalah psikologi pendidikan. Psikologi pendidikan merupakan salah satu cabang psikologi yang memberikan metode dan dasar bagi sebuah proses pendidikan dalam arti yang luas. Proses latihan menjadi salah satu bentuk pendidikan dalam situasi olahraga. Psikolog pendidikan memegang peranan yang cukup vital dalam pembentukan mental para atlet agar mencapai prestasi yang maksimal. Secara umum, peran psikolog pendidikan dalam olahraga adalah menjadi asisten pelatih (bersama pelatih fisik, ahli nutrisi, dan dokter) untuk memberi masukan pelatih dalam menyusun program latihannya. Psikologi aliran ini yang kemudian akan kita sebut dengan psikolog olahraga.</p>
<p>Perhatikan Program Latihan</p>
<p>Dalam menjalankan perannya, psikolog olahraga mendasarkan programnya pada program yang dibuat oleh pelatih. Secara umum, pelatih akan membagi program latihannya menjadi dua periodisasi yakni, microcycle dan macrocycle. Microcycle adalah program yang dibuat dalam logika waktu yang lebih pendek, misalnya harian dan mingguan. Sedangkan macrocycle adalah kumpulan dari beberapa microcycle dan merupakan sasaran akhir tahun dari seorang atlet. Secara sederhana, microcycle mempunyai sasaran-sasaran jangka pendek, sedangkan macrocycle adalah sasaran puncaknya.</p>
<p>Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah kalender kompetisi. Sebagai bahan evaluasi latihan, seorang atlet memerlukan kompetisi yang rutin dan bersifat meningkat. Kompetisi yang rutin dan kompetitif akan memberikan kesempatan baik bagi para atlet maupun pelatih untuk melihat perkembangan dan mengevaluasi kekuarangan-kekurangan yang mungkin masih ditemui. Kompetisi sendiri biasanya dibedakan menjadi dua jenis, yang pertama adalah Kompetisi Antara dan yang kedua adalah kompetisi utama. Untuk beberapa cabang olahraga, kompetisi utama diadakan dalam bentuk seri yang dilangsungkan selama satu tahun.</p>
<p>Dengan mengantongi program latihan dari pelatih, para psikolog olahraga baru bisa membuat program dengan sasaran peningkatan kualitas mental bertanding dari para atlet. Program-program psikolog olahraga tidak hanya berupa pendampingan bagi para atlet, tapi berbentuk program latihan yang membekali keterampilan psikologis kepada para atlet. Keterampilan-keterampilan mental tersebut akan sangat berguna untuk pemain agar mereka mampu menangani masalah-masalah psikologis yang sering mengganggu penampilan, seperti kecemasan, motivasi, percaya diri, daya juang dan sebagainya.Tidak hanya dalam pertandingan, keterampilan ini juga akan menciptakan mental yang kuat saat menjalani latihan. Keterampilan-keterampilan mental tersebut tersebut antara lain: Self talk, imagery training, relaksasi dan sebagainya.</p>
<p>Sebagai kesimpulan, program yang dibuat oleh psikolog olahraga harus selalu menunjang program yang dibuat oleh para pelatih kepala. Tujuannya adalah satu, membentuk atlet yang mempunyai mental yang tangguh, motivasi prima serta konsentrasi yang mendukung mereka untuk mendapatkan gelar juara. Para pelatih atau pembina cabang olahraga yang serius ingin menciptakan atlet-atlet yang berkualitas hendaknya mulai memikirkan untuk menggandeng unsur ilmu pengetahuan yang lain. Karena olahraga modern sekarang ini tidak cukup mengandalkan bakat, tapi proses pembinaan dan latihan menjadi elemen vital dalam mencetak para calon juara. Negara-negara dengan tradisi prestasi olahraga yang tinggi telah menerapkan ini dengan baik, mengapa Indonesia tidak memulainya dari sekarang?</p>
<p style="text-align:right;">Guntur Utomo</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/psikologiolahraga.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/psikologiolahraga.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/psikologiolahraga.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/psikologiolahraga.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/psikologiolahraga.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/psikologiolahraga.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/psikologiolahraga.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/psikologiolahraga.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/psikologiolahraga.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/psikologiolahraga.wordpress.com/147/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=147&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/07/21/sinergi-psikologi-olahraga-dalam-program-latihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e272e8ee5c941053642aac31afa73d5?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">gunturutomo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/07/sp2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mental training</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menguasai Perhatian!</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/06/08/menguasai-perhatian/</link>
		<comments>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/06/08/menguasai-perhatian/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 10:21:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gunturutomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fokus]]></category>
		<category><![CDATA[Kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[Konsentrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Perhatian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://psikologiolahraga.wordpress.com/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Ada relasi yang sangat dekat antara perhatian(Atensi) dengan penampilan seorang atlet pada saat pertandingan. Sederhananya, jika seseorang mencoba untuk memusatkan perhatian pada lebih dari 2 rangsangan, maka kecenderungan yang muncul adalah penampilan akan terganggu. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya kemampuan dari manusia untuk memproses informasi secara bersamaan. Untuk itulah penting bagi seorang atlet atau pemain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=142&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_143" class="wp-caption alignleft" style="width: 130px"><img class="size-full wp-image-143" title="konsentrasi 2" src="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/06/konsentrasi-2.jpg?w=120&#038;h=89" alt="Fokuslah!" width="120" height="89" /><p class="wp-caption-text">Fokuslah!</p></div>
<p>Ada relasi yang sangat dekat antara perhatian(Atensi) dengan penampilan seorang atlet pada saat pertandingan. Sederhananya, jika seseorang mencoba untuk memusatkan perhatian pada lebih dari 2 rangsangan, maka kecenderungan yang muncul adalah penampilan akan terganggu. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya kemampuan dari manusia untuk memproses informasi secara bersamaan. Untuk itulah penting bagi seorang atlet atau pemain untuk berlatih memusatkan perhatian pada satu hal yang spesifik.<span id="more-142"></span></p>
<p>Menurut Galloti ,seorang ilmuwan yang sering melakukan penelitian di bidang atensi atlet, perhatian (atensi) adalah <em>Cognitive resources, mental effort, or concentration devoted to a cognitive process. </em> Artinya, perhatian merupakan proses kognitif yang bersifat aktif maupun pasif. Aktif berarti atlet atau seseorang harus mencoba untuk mengarahkan proses kognitifnya ke arah stimulus yang ingin diperhatikan, sedangkan tidak aktif memberi isyarat bahwa kondisi mental seseorang bisa mengarahkan perhatian ke arah sesuatu yang tidak disadari. Dalam bahasa sehari-hari atensi ini disebut juga dengan konsentrasi.</p>
<p>Proses latihan adalah sebuah proses agar para atlet mampu mengeksekusi gerakan-gerakan olahraganya secara otomatis. Sebagai contoh, seorang pemain bola basket tidak perlu lagi berfikir tentang posisi tangan yang benar pada saat melakukan dribel bola. Jika masih berpikir tentang bagaimana seharusnya posisi tangan atau kaki saat melakukan dribel, akan sangat mungkin gerakan menjadi tidak maksimal. Proses latihan memegang peranan penting dalam hal ini.</p>
<p>Setelah seorang pemain mampu untuk melakukan otomatisasi gerakan (khususnya gerakan-gerakan dasar), maka pemain dapat mencurahkan perhatian atau fokusnya kepada hal-hal yang bersifat taktis. Seorang pegolf tinggal memikirkan berapa kali dia harus memukul dalam satu <em>hole</em>, atau pemukul mana yang sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi. Kasus lain, pemain sepakbola seharusnya berpikir ke ruang sebelah mana dia harus bergerak setelah mengumpan dibanding bagaimana posisi kaki saat melakukan passing.</p>
<p>Yang menjadi persoalan adalah sumber gangguan (distraktor) ketika menjalani pertandingan biasanya bersifat heterogen dan jumlahnya cukup banyak. Sebut saja kondisi lawan, penonton, gedung tempat pertandingan, teriakan pelatih, atau kondisi diri sendiri. Jika situasi-situasi tersebut masih bergantian masuk ke dalam pikiran seseorang, maka bisa dikatakan bahwa atlet tersebut belum mampu mengontrol perhatiannya.</p>
<p><strong>Dimensi Perhatian</strong></p>
<p>Gaya perhatian masing-masing orang sangatlah berbeda. Hal ini tergantung kondisi emosi dan karakter masing-masing atlet. Gaya perhatian adalah kecenderungan seseorang melihat dan memperhatikan suatu stimulus yang bersifat konsisten untuk situasi dan kondisi yang berbeda-beda. Hal ini sangat berkaitan dengan sudut pandang yang diambil oleh seseorang dalam rangka memusatkan perhatiannya serta jenis-jenis stimulus yang diambil untuk diperhatikan. Dalam proses sehari-hari, gaya perhatian ini banyak dilihat dari titik perhatian (<strong>attentional focus</strong>).</p>
<p>Ada dua dimensi dalam titik perhatian ini. Yang pertama adalah Width (lebar perhatian). Lebar perhatian berkaitan dengan jumlah stimulus yang diambil untuk diperhatikan, bergerak mulai dari yang sempit (<strong>narrow</strong>) sampai yang longgar (<strong>broad</strong>). <strong>Narrow attentional focus</strong> adalah memfokuskan diri dengan satu spesifik stimulus. Sedangkan <strong>broad attentional focus</strong> adalah memfokuskan diri pada banyak stimulus. Dalam keadaan tertentu, kedua jenis ini harus dilakukan. Pada atlet bilyar, akan menguntungkan jika menggunakan <strong>narrow attentional focus</strong> karena pukulan yang harus dilakukan benar-benar membutuhkan gerak motorik yang sangat halus. Sebaliknya, seorang playmaker tim sepakbola harus mampu mengakomodasi <strong>broad attentional focus</strong> dalam rangka menciptakan kreasi-kreasi serangan.</p>
<p>Dimensi yang kedua adalah <strong>attentional direction</strong> (arah perhatian). Dimensi ini berkaitan dengan kemana perhatian diarahkan, apakah ke arah dalam diri (<strong>internal attentional focus</strong>) atau ke arah luar diri (<strong>external attentional focus</strong>). Ketika seorang atlet menggunkan fokus internal, maka dia akan memperhatikan segala sesuatu yang ada dalam dirinya. Sedang atlet yang cenderung menggunakan <strong>external attentional focus</strong> akan lebih mewaspadai dan memperhatikan stimulus yang berasal dari luar dirinya.</p>
<p><strong>Strategi Meningkatkan Konsentrasi</strong></p>
<p>Konsentrasi juga memerlukan latihan. Semakin orang mampu berkonsentrasi atau memusatkan perhatian pada satu hal yang paling penting, maka orang itu akan mempunyai kecenderungan untuk sukses dalam pertandingan. Berikut ini beberapa tips latihan yang bisa dilakukan:</p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li><strong>Mencari yang Harus di Perhatikan</strong></li>
</ul>
<p>Hal yang paling sulit dalam latihan konsentrasi adalah mencari tau apa yang seharusnya diperhatikan dalam situasi-situasi tertentu. Untuk itu, atlet harus menyiapkan sebuah buku catatan yang gunanya untuk mencatat apapun yang diperhatikan pada kondisi-kondisi khusus. Setelah beberapa hari, evaluasilah apa yang tertulis. Dari catatan-catatan tersebut serta evaluasi akan diperoleh jenis dan stimulus apa yang seharusnya diperhatikan untuk meningkatkan penampilan serta bagaimana meningkatkan jenis perhatian tersebut.</p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li><strong>Realistis</strong></li>
</ul>
<p>Konsentrasi yang efektif sangat menguras energi. Untuk itu perlu tetap selalu realistis agar tidak proses pemusatan perhatian menjadi efektif. Tidak perlu mengontrol semua hal yang masuk ke persepsi kita, tapi yang lebih penting adalah tahu kapan dan bagaimana memusatkan perhatian pada momen yang paling penting.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li><strong>Gunakan Kata Kunci</strong></li>
</ul>
<p>Kata kunci berkaitan dengan self talk. Kata kunci berguna untuk memancing respon-respon tertentu. Sebagai contoh, jika Anda ingin mengembalikan perhatian pada pekerjaan yang sedang dikerjakan, maka Anda bisa menggunakan kata-kata,”Ayo Fokus!”, atau “kembali ke pertandingan!” dan sebagainya. Jika seorang pemain golf atau bilyar terlalu berkonsentrasi pada ayunan tangan atau dorongan stik bilyar dibanding dengan placing bola, maka bisa digunakan kata “Main!”. Dan sebagainya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li><strong>Berlatih dalam Kondisi yang Menggangu</strong></li>
</ul>
<p>Seringkali lingkungan latihan sangat tenang dan tidak banyak hal yang mengganggu. Namun, ketika menghadapi pertandingan, situasi yang ada di latihan tersebut tidak bisa dijumpai. Untuk itu, pemain harus mencoba untuk berlatih dalam situasi dan kondisi yang mirip dengan suasana pertandingan. Jika pertandingan nanti akan disaksikan oleh banyak penonton yang bersorak-sorai, maka latihan harus dilakukan ditempat yang banyak orang yang mengganggu juga. Dengan latihan ditempat yang banyak gangguan, pemain akan belajar bagaimana memilih satu stimulus yang penting.</p>
<ul>
<li><strong>Berlatih Mengalihkan Perhatian</strong></li>
</ul>
<p>Ketika perhatian sudah tidak terkendali, pemain harus segera menyadarinya. Setelah menyadari, penting bagi pemain tersebut untuk segera memilih titik focus yang harus diambil. Atlet-atlet olahraga individual seringkali mengalami persoalan tidak mampu memilih konsentrasi yang tepat ini. Untuk itu, berlatih mengalihkan perhatian menjadi sesuatu yang vital.</p>
<ul>
<li><strong>Rutin</strong></li>
</ul>
<p>Melakukan kompetisi yang menekan sesering mungkin akan membantu atlet belajar memusatkan perhatian. Untuk itulah, kompetisi sangat dibutuhkan bagi para atlet agar kemampuan mentalnya juga meningkat. Tidak hanya kompetisi melawan pemain atau tim lain, dalam proses latihan, pelatih juga wajib menciptakan iklim kompetisi agar para pemain terbiasa berada dalam situasi yang menekan dan terbiasa memilih stimulus yang tepat untuk diperhatikan.</p>
<p style="text-align:right;"><strong>Guntur Utomo</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/psikologiolahraga.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/psikologiolahraga.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/psikologiolahraga.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/psikologiolahraga.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/psikologiolahraga.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/psikologiolahraga.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/psikologiolahraga.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/psikologiolahraga.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/psikologiolahraga.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/psikologiolahraga.wordpress.com/142/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=142&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/06/08/menguasai-perhatian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e272e8ee5c941053642aac31afa73d5?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">gunturutomo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/06/konsentrasi-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">konsentrasi 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Buang Pikiran Kotor dengan Self Talk</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/05/20/buang-pikiran-kotor-dengan-self-talk/</link>
		<comments>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/05/20/buang-pikiran-kotor-dengan-self-talk/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 May 2009 07:38:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gunturutomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anxiety]]></category>
		<category><![CDATA[Confidence]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi olahraga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://psikologiolahraga.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Pikiran kotor tidak hanya terjadi pada waktu senggang atau saat nongkrong-nongkrong tidak ada kerjaan. Pikiran kotor bisa muncul menjelang sebuah pertandingan olahraga penting. Sesaat sebelum memulai pertandingan, para atlet umumnya dihinggapi oleh pikiran-pikiran kotor.
Untuk para atlet yang menunggu waktu pertandingan, tentu saja bukan pikiran kotor dalam artian pikiran-pikiran jorok, tapi pikiran yang cenderung mempengaruhi rasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=137&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_138" class="wp-caption alignleft" style="width: 136px"><img class="size-full wp-image-138" title="Self talk 2" src="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/05/self-talk-2.jpg?w=126&#038;h=93" alt="Yakinlah pada Diri Sendiri" width="126" height="93" /><p class="wp-caption-text">Yakinlah pada Diri Sendiri</p></div>
<p>Pikiran kotor tidak hanya terjadi pada waktu senggang atau saat nongkrong-nongkrong tidak ada kerjaan. Pikiran kotor bisa muncul menjelang sebuah pertandingan olahraga penting. Sesaat sebelum memulai pertandingan, para atlet umumnya dihinggapi oleh pikiran-pikiran kotor.<span id="more-137"></span></p>
<p>Untuk para atlet yang menunggu waktu pertandingan, tentu saja bukan pikiran kotor dalam artian pikiran-pikiran jorok, tapi pikiran yang cenderung mempengaruhi rasa percaya diri dan penampilan. Pikiran-pikiran kotor itu sering muncul karena atlet merasa tertekan dengan suasana pertandingan dan merasa tidak cukup percaya diri untuk menghadapi lawan. Pikiran-pikiran seperti ,”Wah, mustahil rasanya bisa menang!”, atau ,”Saya kok merasa belum siap ya?”, atau pertanyaan-pertanyaan seperti ,”Gimana ya caranya saya harus menghadapi kehebatan lawan?”, dan sebagainya.</p>
<p>Munculnya ungkapan-ungkapan dan pikiran-pikiran tersebut biasanya disertai dengan munculnya gejala-gejala kecemasan. Secara fisik, akan muncul gemetar di badan, keringat dingin, jantung berdebar dan sebagainya. Sedangkan kecemasan secara mental akan mengakibatkan kurangnya konsentrasi, hilangnya percaya diri dan lemahnya kontrol terhadap emosi.</p>
<p>Untuk mengendalikan pikiran-pikiran tersebut, atlet bisa mencoba untuk melatih salah satu teknik yang disebut dengan Self Talk. Self talk adalah sebuah mekanisme berbicara pada diri sendiri baik secara verbal diucapkan atau sekedar berbicara dalam hati. Dalam banyak penelitian, self talk berhasil membantu atlet untuk mengurangi rasa cemas dan meningkatkan rasa percaya diri. Self talk bisa berfungsi dengan baik apabila atlet tersebut memahami dan melakukan secara rutin latihan ini.</p>
<p>Latihan self talk bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun. Ini adalah salah satu metode latihan mental yang paling sederhana namun mempunyai efek yang cukup luar biasa. Self talk juga membantu untuk memberi sugesti kepada diri sendiri yang akhirnya bisa mempengaruhi penampilan secara keseluruhan.</p>
<p>Berikut beberapa langkah latihan self talk:</p>
<ul>
<li><strong>Menyiapkan Buku Catatan</strong></li>
</ul>
<p>Fungsi utama dari buku catatan ini adalah untuk mencatat semua pikiran atau perasaan yang muncul ketika menjelang pertandingan atau pada saat latihan. Catatan ini berisi pikiran-pikiran jelek atau pikiran yang baik. Buku catatan ini membantu untuk membuat rekaman tentang bagaimana seorang atlet bereaksi terhadap situasi-situasi yang dihadapi,</p>
<p>Berdasar catatan inilah, atlet kemudian bisa membuat analisa tentang perasaan-perasaan dan pikiran-pikirannya baik yang berupa kekuatan maupun kelemahannya.</p>
<p>Dengan mencatat seperti ini, kesadaran atlet akan dirinya (kekuatan maupun kelemahan) bisa terlihat dengan jelas. Bagaimana dia bereaksi terhadap situasi pertandingan yang menekan, terhadap tantangan yang harus dihadapi dan sebagainya. Dengan kesadaran tersebut, atlet bisa mengambil manfaat dan bisa mengambil sikap yang tepat ketika menghadapi situasi yang serupa.</p>
<ul>
<li><strong>Kata-kata Penyemangat</strong></li>
</ul>
<p>Inti dari self talk adalah mengubah pikiran-pikiran buruk tentang dirinya dan pertandingan menjadi pikiran-pikiran yang lebih bersifat memotivasi. Kata-kata yang memotivasi ini akan meningkatkan semangat dan rasa percaya diri. Kata-kata penyemangat tersebut seperti, “Ayo kamu bisa!” “Tunjukkan bahwa kamu mampu tampil terbaik!” dan sebagainya. Pilih kata-kata yang lugas dan tegas. Pikirkan saat-saat latihan atau pertandingan yang paling membanggakan.</p>
<ul>
<li><strong>Ganti Stasiun TV Mental Anda!</strong></li>
</ul>
<p>Meski sudah melakukan self talk dengan ucapan-ucapan yang bersemangat, namun kadang-kadang pikiran negatif masih juga masuk. Tidak perlu kuatir, pertama, perhatikan baik-baik apa yang sedang ada di pikiran. Berikutnya, segeralah mengatakan “STOP!”. Ketiga, ganti pikiran negatif itu dengan pikiran yang positif. Mengubah pikiran negatif ini bisa diikuti dengan aktivitas fisik seperti memukul kaki, menampar pipi, atau memukulkan kayu ke tanah.</p>
<ul>
<li><strong>Ubah Negatif ke Positif dengan      Afirmas</strong>i</li>
</ul>
<p>Afirmasi adalah aktivitas penguatan. Penguatan terhadap pikiran-pikiran positif untuk menggantikan pikiran-pikiran yang negatif. Dengan melatih setiap hari latihan self talk, berarti Anda sedang melakukan afirmasi terhadap energi positif dari diri sendiri. Latihan rutin juga akan membuat atlet tetap fokus terhadap tujuan-tujuan dan sasaran.</p>
<p>Gunakanlah kalimat-kalimat yang menguatkan seperti, “Aku tertekan, tapi aku akan melawan!”, Aku akan bangkit dari keterpurukan!”. Catatan-catatan perasaan negatif harus segera diganti dengan ungkapan-ungkapan yang positif. Gunakanlah awalan Aku untuk membuat afirmasi.</p>
<ul>
<li><strong>Melawan Keyakinan Irrasional.</strong></li>
</ul>
<p>Terkadang tidak tahu alasan atas ucapan-ucapan positif yang dibuat. Terkadang, ucapan-ucapan tersebut muncul begitu saja tanpa terpikirkan sebelumnya. Kadang juga, ucapan-ucapan tersebut hanya mencontoh milik orang lain. Untuk itulah, atlet harus selalu menyadari dan memahami apa yang sedang dia ucapkan dan alasan mengapa dia mengucapkannya. Alasan dibalik ucapan “Kamu mampu tampil maksimal”, misalnya harus mempunyai dasar bahwa memang proses latihan dan kondisi fisiknya berada dalam kondisi ideal.</p>
<p>Untuk membuatnya, maka biasakanlah membuat dialog singkat tentang ucapan-ucapan yang dibuat. Dialog dengan diri sendiri tersebut akan membukakan kesadaran bahwa yang dia ucapkam memang benar-benar berdasarkan fakta.</p>
<ul>
<li><strong>Lupakan yang Tak Bisa Dikontrol</strong></li>
</ul>
<p>Saat pertandingan, ada banyak hal yang tidak bisa dikontrol, seperti sorakan penonton, kondisi lapangan, ofisial lawan dan sebagainya. Jika atlet terlalu memikirkan hal-hal yang tidak bisa dikontrol tersebut, maka hasilnya hanya akan sia-sia. Fokuslah pada apa yang bisa dikontrol, seperti permaianan, teknik dan sebagainya.</p>
<ul>
<li><strong>Pertahankan Fokus</strong></li>
</ul>
<p>Self talk juga bisa membantu atlet untuk tetap fokus selama pertandingan. Ucapan-ucapan positif yang dilakukan mampu menjauhkan atlet dari potensi gangguan konsenstrasi. Pikiran-pikiran seperti “Bagaimana jika gagal”,  “Semua orang menaruh harapan padaku!” dan sebagainya. Tetaplah konsentrasi pada situasi yang sedang dihadapi. Jika muncul ucapan “Saya tidak ingin mengecewakan teman-temanku”, berarti atlet tersebut sedang tidak konsentrasi dengan pertandingan.</p>
<ol>
<li>Jangan terlalu Menganalisis</li>
</ol>
<p>Atlet yang hebat adalah atlet yang percaya dengan kemampuannya. Untuk itu, jangan terlalu banyak berpikir dan menganalisis. Lakukan saja dengan rasa percaya diri.  Terlalu banyak berpikir akan berpotensi mengacaukan konsentrasi.</p>
<ul>
<li><strong>Jangan Bilang Tidak!</strong></li>
</ul>
<p>Anda harus selalu yakin pada diri sendiri meski pada saat tampil tidak dalam kondisi puncak. Jangan pernah meremehkan keyakinan hati. Sekali saja hilang keyakinan, maka musuh akan melibas Anda. Muhammad Ali pernah bilang, “Untuk menjadi Juara Sejati, Anda harus selalu yakin bahwa Anda adalah yang terbaik dan jika seandainya tidak, maka berpura-puralah menjadi yang terbaik!”</p>
<p style="text-align:right;">Guntur Utomo</p>
<p style="text-align:right;">Dari berbagai sumber</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/psikologiolahraga.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/psikologiolahraga.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/psikologiolahraga.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/psikologiolahraga.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/psikologiolahraga.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/psikologiolahraga.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/psikologiolahraga.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/psikologiolahraga.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/psikologiolahraga.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/psikologiolahraga.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=137&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/05/20/buang-pikiran-kotor-dengan-self-talk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e272e8ee5c941053642aac31afa73d5?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">gunturutomo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/05/self-talk-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Self talk 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meredakan Stress dengan PMR</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/05/12/meredakan-stress-dengan-pmr/</link>
		<comments>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/05/12/meredakan-stress-dengan-pmr/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 11:18:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gunturutomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anxiety]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[stress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://psikologiolahraga.wordpress.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Stress merupakan salah satu gangguan serius bagi seseorang. Stress memberi pengaruh secara langsung terhadap tubuh manusia. Keringat dingin, jantung berdebar, otot kaku hingga muntah-muntah. Untuk seorang atlet, tentu saja ini adalah kondisi yang merugikan. Ketika atlet menghadapi stress, maka segala macam keterampilan yang susah payah dilatihkan menjadi hilang seketika. Untuk itulah, stress harus dikelola dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=133&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_140" class="wp-caption alignleft" style="width: 76px"><img class="size-full wp-image-140" title="PMR 2" src="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/05/pmr-2.jpg?w=66&#038;h=86" alt="Progressive Muscle Relaxation" width="66" height="86" /><p class="wp-caption-text">Progressive Muscle Relaxation</p></div>
<p>Stress merupakan salah satu gangguan serius bagi seseorang. Stress memberi pengaruh secara langsung terhadap tubuh manusia. Keringat dingin, jantung berdebar, otot kaku hingga muntah-muntah. Untuk seorang atlet, tentu saja ini adalah kondisi yang merugikan. Ketika atlet menghadapi stress, maka segala macam keterampilan yang susah payah dilatihkan menjadi hilang seketika. Untuk itulah, stress harus dikelola dengan baik. Salah satunya metode pengelolaannya adalah dengan PMR (Progressive Muscle Relaxation) atau biasa disebut dengan relaksasi otot.<span id="more-133"></span></p>
<p>Latihan relaksasi otot merupakan metode melatih otot untuk merasakan ketegangan dan dalam kesempatan yang sama mengajari untuk meredakannya. PMR dilakukan kepada semua otot tubuh, mulai dari ujung kaki hingga otot-otot bagian atas tubuh. Ketika seseorang mengalami kondisi stress, maka otot-otot akan kaku. Sebagian besar orang yang dalam kondisi ini tidak menyadarinya. Dengan latihan teratur, maka tubuh akan menjadi rileks yang akhirnya stress pun akan menghilang.</p>
<p>Berikut ini beberapa langkah melakukan Progressive Muscle Relaxation:</p>
<ol>
<li>Ambil posisi yang nyaman dan ambil nafas dalam-dalam selama beberapa menit.</li>
<li>Selanjutnya, kencangkan otot-otot tertentu selama kurang lebih 5-10 detik. Lalu segera lepaskan ketegangan dan istirahatkan otot selama kurang 15-30 detik.</li>
<li>Rasakan perbedaan sensasi saat otot tegang dan saat otot rileks.</li>
<li>Urutan otot yang dilatih bisa bervariasi. Ada yang memulainya dari bawah, tapi ada yang memilih untuk melakukannya dari atas. Yang penting adalah lakukan dengan urutan yang konsisten.</li>
<li>Akhiri latihan dengan mengambil posisi rileks selama beberapa menit, ambil nafas dalam-dalam dan cobalah nikmati. Selanjutnya, buka mata dan lakukan beberapa stretching. Goyang-goyangkan jemari kaki dan jemari tangan.</li>
<li>Berikut contoh urutannya:</li>
</ol>
<ul>
<li> Kaki kanan, betis kaki kanan hingga telapak kaki kanan, lalu keseluruhan kaki kanan.</li>
<li>Kaki kiri, betis kaki kiri hingga telapak kaki kiri, lalu keseluruhan kaki kiri.</li>
<li>Tangan kanan, dari lengan tangan kanan hingga telapak tangan kanan, lalu keseluruhan tangan kanan. Menggenggamlah saat melakukannya.</li>
<li>Tangan kiri, dari lengan tangan kiri hingga telapak tangan kiri, lalu keseluruhan tangan kiri. Menggenggamlah saat melakukannya.</li>
<li>Wajah. Untuk menegangkan otot wajah, tariklah otot-otot pipi dengan memejamkan mata. Rasakan ketegangannya.</li>
<li>Leher dan bahu.</li>
<li>Perut.</li>
</ul>
<p>Latihan ini harus dilakukan secara rutin. Waktu yang ideal untuk melatihnya adalah menjelang tidur dan dilakukan diatas tempat tidur tanpa menggunakan bantal. Ingat, pada saat melakukan latihan ini, cobalah untuk bernafas seperti biasa secara teratur. Jangan menahan nafas saat menegangkan otot. Selain itu, redupkanlah lampu kamar agar tidak mengganggu serta jangan mendengarkan musik saat melakukannya. Musik akan mempunyai kecenderungan mengganggu seseorang dalam berkonsentrasi merasakan perbedaan antara otot tegang dan otot rileks.</p>
<p>Dengan menyadari ketengangan ototnya, maka seseorang akan mampu untuk menjadikannya rileks. Pada saat stress, dimana otot menjadi tegang, atlet sudah terbiasa untuk menghindarinya. Latihan ini bukan bertujuan menghilangkan sumber stress, tapi bertujuan untuk mengurangi akibat buruk dari stress yang dialami. Akhirnya, penampilanpun akan terjaga tanpa harus terganggu stress.</p>
<p>Selamat mencoba!</p>
<p style="text-align:right;"><strong>Guntur Utomo</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/psikologiolahraga.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/psikologiolahraga.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/psikologiolahraga.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/psikologiolahraga.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/psikologiolahraga.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/psikologiolahraga.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/psikologiolahraga.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/psikologiolahraga.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/psikologiolahraga.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/psikologiolahraga.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=133&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/05/12/meredakan-stress-dengan-pmr/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e272e8ee5c941053642aac31afa73d5?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">gunturutomo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/05/pmr-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">PMR 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teknik Atasi Kecemasan bagi Pemain</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/05/01/teknik-atasi-kecemasan-bagi-pemain/</link>
		<comments>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/05/01/teknik-atasi-kecemasan-bagi-pemain/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 May 2009 09:30:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gunturutomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anxiety]]></category>
		<category><![CDATA[sepakbola]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://psikologiolahraga.wordpress.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingat bagaimana John Terry gagal mengeksekusi penalty penentu pada laga Final Liga Champion Eropa 2007/2009 melawan Manchester United di Moscow. Yang terjadi pada Terry mungkin saja adalah kecemasan yang melanda. Bagaimana tidak, tendangannya adalah penentu Chelsea untuk merengkuh gelar juara pertama kalinya. Ternyata Terry gagal melaksanakan tugasnya dengan baik, dan kecemasannya lah yang menang.
Selain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=128&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft size-full wp-image-130" title="kecemasan" src="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/05/gambar-kecemasan.jpg?w=111&#038;h=118" alt="kecemasan" width="111" height="118" />Masih ingat bagaimana John Terry gagal mengeksekusi penalty penentu pada laga Final Liga Champion Eropa 2007/2009 melawan Manchester United di Moscow. Yang terjadi pada Terry mungkin saja adalah kecemasan yang melanda. Bagaimana tidak, tendangannya adalah penentu Chelsea untuk merengkuh gelar juara pertama kalinya. Ternyata Terry gagal melaksanakan tugasnya dengan baik, dan kecemasannya lah yang menang.<span id="more-128"></span></p>
<p>Selain beberapa metode yang bisa dilakukan oleh para pelatih untuk mengurangi rasa cemas seperti postingan terdahulu, para pemain sendiri seharusnya juga mengambil langkah-langkah untuk mengatur dirinya sendiri supaya rasa cemas bukan lagi menjadi gangguan. Para pemain sebagai individu yang menjadi korban dari rasa cemas ini, sudah sepantasnya memhami kondisi serta suasana hati yang sedang mengganggunya. Sebelum melaksanakan beberapa metode pengurangan rasa cemas di bawah ini, para pemain harus sadar dulu apa penyebab rasa cemas yang timbul. Menyadari penyebab akan sangat membantu para pemain dalam menguasai dan mengendalikan rasa cemas yang dialami.</p>
<p>Berikut ini beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh para pemain untuk mengurangi rasa cemas:</p>
<p><strong>Fokuslah Pada Hal yang Bisa Dikontrol</strong></p>
<p><strong></strong>Banyak sekali faktor dalam pertandingan sepakbola yang tidak mungkin dikontrol langsung oleh para pemain. Mulai dari penonton, tim tuan rumah, kenyamanan ruang ganti dan sebagainya. Namun sebenarnya ada juga faktor yang menentukan tapi tetap bisa dikontrol dan dikuasai dengan baik oleh para pemain. Faktor tersebut adalah taktik dan strategi yang sudah dilatihkan sebelumnya.</p>
<p>Dengan memfokuskan diri pada taktik dan strategi, para pemain akan dengan mudah mengabaikan beberapa hal yang menjadi sumber kecemasan, baik itu dari luar maupun dari dalam. Dukungan suporter lawan, kondisi tim lawan yang sedang dalam puncak penampilan adalah beberapa hal yang mungkin memunculkan rasa cemas. Dengan memahami dan berfokus pada strategi sekaligus kekuatan tim maupun kekuatan individu, pemain akan menemukan rasa percaya diri untuk menjalani pertandingan. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, rasa cemas akan hilang dengan sendirinya, karena mereka yakin bahwa mereka mampu untuk berbuat yang terbaik.</p>
<p><strong>Berpikir Praktis</strong></p>
<p>Kecemasan kadang hadir karena pemain mempunyai bayangan-bayangan yang liar terhadap banyak hal yang melingkupi. Bahkan terkadang para pemain merasa sudah kalah sebelum bertanding. Hal itu karena bayangan-bayangan terhadap kekuatan sendiri dan kekuatan lawan yang tidak berimbang. Para pemain merasa tim lawan terlalu kuat, sehingga tidak mungkin mengalahkannya, atau mungkin merasa timnya terlalu lemah. Bayangan lain yang sering mengganggu adalah hasil pertandingan-pertandingan yang sudah lampau. Kekalahan demi kekalahan yang diderita sering mengganggu konsentrasi yang akhirnya menciptakan kecemasan.</p>
<p>Ketika berada dalam kondisi seperti itu, maka para pemain harus mampu untuk membuat pikiran yang sifatnya praktis. Menganggap bahwa sepakbola adalah sesuatu yang harus dinikmati adalah salah satu contohnya. Dengan menikmati permainan, maka para pemain tidak akan memikirkan hasil. Yang akan muncul adalah usaha yang maksimal untuk menikmati permainan tersebut. Ketika para pemain mampu menikmati permainan, maka kemampuan terbaik mereka akan muncul.</p>
<p>Dengan kondisi yang nyaman seperti itu, kecemasan akan sirna dari benak para pemain. Hasil pertandingan adalah sesuatu yang membutuhkan proses. Semua hal masih bisa terjadi dalam waktu 90 menit pertandingan. PIkiran yang praktis akan mengarahkan pemain bisa berbuat lebih banyak dibandingkan jika terbebani dengan pikiran yang berisi tentang ketakutan-ketakutan atau kekuatiran-kekuatiran.</p>
<p><strong>Berfokus pada Tugas Dibanding Hasil</strong></p>
<p>Sejalan dengan metode sebelumnya, memikirkan hasil pertandingan adalah sesuatu yang sangat menyita energi, baik energi fisik maupun energi emosional. Membayangkan sesuatu yang buruk akan berdampak pada kinerja di lapangan. Jika bayangan hasil yang muncul adalah kekalahan, maka para pemain akan mendapat suntikan energi negatif. Mereka tidak akan mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya, karena memang secara tidak sadar mereka sudah menganggap tidak perlu mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Hal ini muncul karena hasil yang mereka bayangkan adalah kekalahan.</p>
<p>Jika hasil yang dibayangkan adalah kemenangan, mungkin saja para pemain mempunyai motivasi yang tinggi. Namun, efek negatifnya tetap saja sama. Dengan bayangan seperti itu, sangat mungkin para pemain sedang meremehkan kekuatan lawan. Akhirnya kemampuan terbaik tetap tidak akan muncul di lapangan. Mereka akan bermain terlalu santai dan tidak waspada. Jika ini terjadi, maka lawan yang mungkin memang lebih lemah akan sangat mungkin mencuri gol kemenangan. Membayangkan kemenangan tidak sama dengan membayangkan proses untuk meraih kemenangan.</p>
<p>Yang seharusnya dilakukan oleh para pemain adalah berfokus pada tugas yang harus dihadapi. Dengan focus pada tugas yang harus diemban, para pemain akan mempunyai bayangan tentang segala hal yang harus dilakukan. berfokus pada tugas akan meningkatkan kewaspadaan para pemain. Jika dia adalah seorang bek, maka dia akan lebih mempunyai bayangan tentang bagaimana harus mengawal pertahanan dan pemain penyerang lawan sehingga kemungkinan terjadinya kesalahan fatal bisa diminimalisasi. Begitupun pada pemain penyerang. Tugasnya adalah mencetak gol. Dia harus berusaha dengan lebih keras agar halangan dari barisan pertahanan lawan bisa dilewati.</p>
<p>Fokus pada tugas juga akan meningkatkan kewaspadaan serta konsentrasi para pemain. Pemain yang lengah adalah keuntungan bagi lawan. Sebaliknya, pemain yang waspada dan konsentrasi akan merusak permainan lawan dan sangat mungkin membuat frustrasi para pemain lawan. Jika taktik seperti ini berjalan, maka kemenangan hanya akan tinggal menunggu waktu.</p>
<p><strong>Aktif Bergerak</strong></p>
<p>Menurut banyak penelitian, bergerak dengan aktif akan bermanfaat untuk mengurangi kecemasan. Bergerak akan membantu mengalihkan perhatian. Jika diam, bayangan-bayangan yang potensial menyebabkan kecemasan akan muncul. Banyak para pemain elit dunia selalu melompat-lompat di kamar ganti sebelum menjalani pertandingan yang penting hanya untuk mengurangi rasa cemas yang mendera.</p>
<p>Pemanasan bisa menjadi solusi agar para pemain tetap bergerak. Pemanasan tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas untuk menyiapkan otot, tapi juga untuk menyiapkan mental agar tidak tegang. Orang yang tegang akan membuat otot-otot tubuh menjadi kaku. Demikian juga sebaliknya, orang yang hanya berdiam diri akan menyebabkan otot kaku, otot yang kaku cenderung membuat orang untuk berandai-andai. Untuk itu, menggerakkan otot akan membantu mengurangi rasa cemas.</p>
<p><strong>Melatih Teknik Kognitif</strong></p>
<p>Dalam dunia psikologi, khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan rasa cemas, ada beberapa teknik yang sudah terbukti ampuh. Teknik-teknik tersebut melibatkan aspek kognitif atau aspek proses otak. Sekali lagi, kecemasan merupakan proses mental yang melibatkan aktivitas otak dalam memprosesnya. Pemain yang merasa cemas adalah akibat dari persepsinya terhadap lingkungan sekitar dan dirinya sendiri. Pemain yang mempunyai ingatan-ingatan tidak mengenakkan tentang sebuah peristiwa mempunyai kecenderungan untuk merekamnya. Disaat situasi-situasi tersebut mempunyai kesamaan dengan situasi sekarang, maka seseorang akan kembali teringat dengan sesuatu yang buruk tersebut.</p>
<p>Untuk mengubahnya, pemain perlu melakukan teknik untuk mereduksi munculnya ingatan-ingatan dan gambaran-gambaran tidak mengenakkan tersebut. Berikut ini dua teknik kognitif yang lazim digunakan.</p>
<ul>
<li><strong>Positive      self talk</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left:30px;">Membuat kata-kata positif pada diri sendiri. Pemain harus belajar berbicara pada dirinya sendiri dengan mengatakan kalimat-kalimat yang bersifat positif. Kalimat seperti “Kamu mampu melakukan!”, “Saatnya membuat perubahan!” atau “Kamu punya keahlian untuk menang!” adalah kalimat yang penting dalam rangka mengurangi kecemasan.</p>
<p style="padding-left:30px;">Ucapan-ucapan seperti itu sebenarnya untuk mengalihkan persepsi dari para pemain agar tidak selalu berfokus pada kelemahan. Fokus pada kelemahan akan menyebabkan mental menjadi drop. Dengan ucapan-ucapan pada diri sendiri seperti itu, maka gambaran positif akan muncul pada diri sendiri.</p>
<ul>
<li><strong>Berhenti Berpikir</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left:30px;">Para pemain harus mampu mengatakan berhenti berpikir pada diri sendiri ketika mulai membayangkan dan memikirkan hal-hal yang buruk. Pikiran-pikiran buruk akan menyebabkan turunnya moral dan merendahkan kepercayaan diri.</p>
<ul>
<li><strong>Imagery Training</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left:30px;">Imagery training adalah latihan visualisasi. Sederhananya, pemain harus membayangkan secara detil tiap kejadian yang mungkin terjadi dilapangan. Hal ini berguna untuk membuat gambaran yang lebih logis baik tentang kekuatan maupun kelemahan. Pembayangan tentang kekuatan berguna supaya bisa diaplikasikan dalam pertandingan, sedangkan tentang kelemahan berguna agar pemain mencari solusi atas kelemahan tersebut.</p>
<p style="padding-left:30px;">Banyak penelitian membuktikan bahwa imagery training ampuh untuk meningkatkan motivasi, optimisme sekaligus mengurangi kecemasan yang muncul. Teknik ini harus dilakukan di tempat yang nyaman sekaligus minim gangguan. Pemain harus berada dalam posisi yang paling nyaman dengan seluruh tubuh merasa rileks. Gambaran-gambaran yang dibuat juga harus detil hingga pada warna dan bau.</p>
<p style="padding-left:30px;">Untuk bisa menguasai teknik ini dengan baik, sebaiknya pertama-tama pemain dan pelatih harus mendapat pendampingan dari ahli sehingga proses imagery berjalan dengan benar. Setelah itu, pelatih yang memegang kendali. Catatan lain, latihan ini harus dilakukan secara berulang-ulang sehingga para pemain menjadi mahir menggunakan teknik ini.</p>
<p>Jika beberapa metode di atas bisa dilaksanakan oleh para pemain dan pelatih dalam menatap pertandingan, maka kecemasan bukan sesuatu yang meresahkan lagi. Sebaliknya, energi yang muncul seiring dengan rasa cemas tersebut bisa diubah menjadi kekuatan dan motivasi yang berguna untuk memenangkan sebuah pertandingan.</p>
<p style="text-align:right;"><strong>Guntur Utomo</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/psikologiolahraga.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/psikologiolahraga.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/psikologiolahraga.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/psikologiolahraga.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/psikologiolahraga.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/psikologiolahraga.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/psikologiolahraga.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/psikologiolahraga.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/psikologiolahraga.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/psikologiolahraga.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=128&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/05/01/teknik-atasi-kecemasan-bagi-pemain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e272e8ee5c941053642aac31afa73d5?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">gunturutomo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/05/gambar-kecemasan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kecemasan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Imagery Training itu?</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/03/18/apakah-imagery-training-itu/</link>
		<comments>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/03/18/apakah-imagery-training-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2009 11:09:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gunturutomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://psikologiolahraga.wordpress.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Imagery sering disebut dengan guided imagery, visualization, latihan mental, atau self hypnosis. Imagery adalah teknik yang biasa digunakan oleh psikolog olahraga untuk membantu seseorang memvisualisasikan atau melatih mental berkaitan dengan kegiatan yang akan dilakukan. Dalam konteks olahraga, imagery digunakan untuk membantu atlet membuat visualisasi yang lebih nyata berkaitan dengan pertandingan atau kompetisi yang akan dijalaninya.
Imagery [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=123&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_125" class="wp-caption alignleft" style="width: 94px"><img class="size-full wp-image-125" title="images3" src="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/03/images3.jpg?w=84&#038;h=91" alt="Membayangkan jadi Juara" width="84" height="91" /><p class="wp-caption-text">Membayangkan jadi Juara</p></div>
<p>Imagery sering disebut dengan guided imagery, visualization, latihan mental, atau self hypnosis. Imagery adalah teknik yang biasa digunakan oleh psikolog olahraga untuk membantu seseorang memvisualisasikan atau melatih mental berkaitan dengan kegiatan yang akan dilakukan. Dalam konteks olahraga, imagery digunakan untuk membantu atlet membuat visualisasi yang lebih nyata berkaitan dengan pertandingan atau kompetisi yang akan dijalaninya.<span id="more-123"></span></p>
<p>Imagery membantu atlet untuk menciptakan gambaran yang riil berkaitan dengan kesulitan dan masalah-masalah yang mungkin akan dihadapi oleh para atlet selama pertandingan. Seperti diketahui, atlet seringkali membuat gambaran yang tidak nyata baik tentang dirinya maupun tentang lawan yang akan dihadapi. Menganggap lawan lebih superior, kemampuan teknisnya masih rendah atau lingkungan pertandingan yang menekan seringkali muncul di benak para atlet ketika menyiapkan diri untuk sebuah pertandingan.</p>
<p>Efeknya, seringkali atlet merasa rendah diri dan akhirnya merasa cemas yang berlebihan. Jika berlanjut terus menerus, maka kecemasan tersebut akan mengganggu performa atlet tersebut. Kecemasan yang muncul sebelum bertanding akan mengurangi konsentrasi dan membuat penampilannya menurun.</p>
<p>Selain itu, Imagery juga dapat membantu atlet untuk meningkatkan motivasinya. Dengan gambaran diri yang jelas, maka atlet akan menyadari kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan dapat dia gunakan sebagai senjata untuk mengalahkan lawan, sedangkan kelemahan bisa menjadi evaluasi agar kekurangan-kekurangannya bisa ditutupi dengan teknik yang lain.</p>
<p>Imagery juga digunakan untuk membayangkan hasil akhir yang diharapkan. Dalam bahasa yang lain, atlet diajak untuk mempunyai pikiran yang positif mengenai dirinya dalam rangka menjalani kompetisi atau pertandingan yang akan dihadapi. Dengan pikiran yang positif, ketenangan, konsentrasi dan motivasi akan berada dalam posisi yang optimal.</p>
<p>Imagery bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Meningkatkan performa, konsentrasi hingga proses penyembuhan cedera bisa menggunakan proses imagery. Imagery bisa menjadi bagian dari proses latihan yang diberikan secara rutin dan berkala.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Panduan Imagery</strong></p>
<p>Jika baru pertama kali mempraktikkan teknik ini, akan lebih baik jika seorang atlet didampingi oleh seorang fasilitator yang terlatih. Tugas dari fasilitator ini adalah membantu atlet menjalani tahap demi tahap secara optimal. Selain itu, video atau rekaman atau catatan-catatan juga penting untuk membantu menentukan arah proses melakukan imagery training ini. setelah merasa nyaman dengan teknik ini, seorang atlet bisa mencobanya sendiri. Berikut ini tahap-tahap yang harus dilalui dalam menjalankan latihan imagery ini.</p>
<ol type="1">
<li>Duduklah di tempat yang nyaman dan tidak ada gangguan.</li>
<li>Nyamankan tubuh dengan mengambil nafas panjang dan      perlahan-lahan.</li>
<li>Tutup mata dan ciptakan gambaran yang jelas dan      meyakinkan. Gambaran ini bisa jadi merupakan gambaran dari peristiwa yang      pernah dialami atau bisa juga sesuatu yang diinginkan.</li>
<li>Jika tiba-tiba muncul gambaran lain yang mengganggu atau      tiba-tiba berfikir tentang sesuatu yang lain, segeralah sadari dan kembali      ke gambaran semula.</li>
<li>Fokuslah pada pernafasan jika kehilangan gambaran yang      diinginkan tadi.</li>
<li>Pertahankan sikap yang positif.</li>
<li>Bayangkan penglihatan, suara-suara, rasa, perasaan,      bahkan bau dari pengalaman.</li>
<li>Catatlah detil-detil dari gambaran tersebut sebaik      mungkin. Apa yang dipakai, siapa saja yang ada disana, apa yang didengar,      bagaimana perasaan Anda?</li>
<li>Jika sesi latihan imagery itu tidak berjalan sesuai keinginan,      maka bukalah mata dan segera memulainya lagi yang diawali dengan      pernafasan.</li>
<li>Selalu mengakhiri latihan Imagery dengan gambaran yang      positif.</li>
</ol>
<p>Imagery bisa dipadu dengan teknik yang lain seperti self talk. Jika dilakukan dengan teliti, maka imagery akan menjadi senjata yang ampuh untuk mencapai prestasi.</p>
<p style="text-align:right;"><strong>Guntur Utomo</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/psikologiolahraga.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/psikologiolahraga.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/psikologiolahraga.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/psikologiolahraga.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/psikologiolahraga.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/psikologiolahraga.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/psikologiolahraga.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/psikologiolahraga.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/psikologiolahraga.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/psikologiolahraga.wordpress.com/123/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=123&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/03/18/apakah-imagery-training-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e272e8ee5c941053642aac31afa73d5?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">gunturutomo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/03/images3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">images3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Motivasi Ekstrinsik menjadi Efektif</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/03/04/ketika-motivasi-ekstrinsik-menjadi-efektif/</link>
		<comments>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/03/04/ketika-motivasi-ekstrinsik-menjadi-efektif/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 03:55:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gunturutomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[sepakbola]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://psikologiolahraga.wordpress.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Seperti banyak diketahui bahwa motivasi ada yang berasal dari dalam diri, yang disebut dengan motivasi intrinsik dan ada yang berasal dari luar diri, yang biasa disebut dengan motivasi ekstrinsik. dalam tulisan sebelumnya sudah dibahas tentang motivasi intrinsik dan cara-cara menumbuhkannya di dalam diri atlet.
Sudah jamak jika para pelatih, penggurus atau manajer memberi iming-iming berupa bonus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=113&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_114" class="wp-caption alignleft" style="width: 96px"><img class="size-thumbnail wp-image-114" title="ex-motivation" src="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/03/ex-motivation.jpg?w=86&#038;h=96" alt="Mencipta Hadiah" width="86" height="96" /><p class="wp-caption-text">Mencipta Hadiah</p></div>
<p>Seperti banyak diketahui bahwa motivasi ada yang berasal dari dalam diri, yang disebut dengan motivasi intrinsik dan ada yang berasal dari luar diri, yang biasa disebut dengan motivasi ekstrinsik. dalam tulisan sebelumnya sudah dibahas tentang motivasi intrinsik dan cara-cara menumbuhkannya di dalam diri atlet.<span id="more-113"></span></p>
<p>Sudah jamak jika para pelatih, penggurus atau manajer memberi iming-iming berupa bonus bagi atletnya yang berprestasi. Seperti para atlet olimpiade Indonesia kemarin yang mendapat bonus 1 Milyar rupiah untuk peraih medali emas. Atau banyak tim sepakbola Indonesia yang menjanjikan bonus jika memenangi laga, khususnya ketika bertandang ke kandang lawan.</p>
<p>Bonus, hadiah atau semacamnya adalah bentuk-bentuk motivasi yang berasal dari luar diri individu. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah apakah bonus-bonus semacam ini efektif untuk mendongkrak motivasi para atlet? Bagaimana jika ternyata bonus yang diberikan kurang besar, apakah bonus masih akan efektif? Bagaimana mengubah motivasi ekstrinsik agar berjalan efektif dan mempunyai kekuatan untuk menggerakkan perilaku seseorang?</p>
<p>Pada tahun 1985, Deci and Ryan menerbitkan buku yang berjudul &#8220;Intrinsic Motivation and Self-Determination in Human Behavior&#8221;. Dalam bukunya, Deci dan Ryan memaparkan beberapa tipe motivasi eksternal dari yang sifatnya paling lemah ke sesuatu yang paling kuat. Berikut ini penjelasan tentang 4 tipe motivasi ekstrinsik:</p>
<p><strong>1. </strong><strong>External regulation.</strong></p>
<p>Regulasi eksternal mempunyai makna bahwa sebuah perilaku muncul dalam rangka mendapatkan benda-benda/sesuatu yang bersifat eksternal (medali, trofi) serta dalam rangka menghindari tekanan (tekanan sosial).  Bukti bahwa seorang atlet sedang berada dalam fase regulasi eksternal adalah ketika mereka mengatakan, &#8220;Saya akan pergi berlatih hari ini karena saya tidak ingin dicadangkan oleh pelatih pada pertandingan mendatang!&#8221;</p>
<p>Dalam ucapan ini tampak bahwa pemain tersebut datang ke latihan hanya karena dia takut tidak bermain di tim inti. Jadi motivasinya bukan karena memang dia membutuhkan latihan. Bagaimana seandainya sang pelatih sudah cinta mati kepadanya? Tentu saja dia akan sering mangkir latihan, karena toh nggak latihan saja dia tetap akan main di tim utama.</p>
<p>2. <strong>Introjected regulation.</strong></p>
<p>Dalam tipe kedua dari motivasi ekstrinsik ini pemain mulai menginternalisasi alasan-alasan dari perilakunya. Internalisasi alasan ini menggantikan kontrol dari luar seperti dalam external regulation.  Dia menggantikan kontrol eksternal dengan susaatu yang berasal dari dalam diri. Masih dalam konteks latihan, pemain yang mempunyai introjected regulatioan ini akan mengatakan, &#8220;Saya berlatih karena saya akan merasa bersalah seandainya tidak datang.&#8221;</p>
<p>Dengan kata lain, meskipun sumbernya masih berasal dari luar, tapi pemain sudah mulai menggunakan unsur yang berasal dari dalam dirinya, yakni rasa bersalah.  Tapi sekali lagi, bukan di dasarkan atas kebutuhan akan latihan yang berasal dari dalam dirinya.</p>
<p>3. <strong>Regulated through identification</strong></p>
<p>Setelah melewati proses internalisasi, seorang pemain mempunyai pilihan atas perilaku-perilaku yang akan dia lakukan. Perilaku-perilaku tersebut akan dibandingkan dan dinilai mana yang layak untuk dilakukan. dalam fase ini, motivasi eksrinsik telah bergerak ke arah regulated through identification, yakni munculnya perilaku-perilaku yang dinilai dan menjadi pilihan untuk dilakukan.  Pemain sudah bisa mengidentifikasi perilaku yang harus diambil.</p>
<p>Dalam ucapan, pemain yang sudah mempunyai motivasi ekstrinsik tipe ini akan mengatakan, &#8221; Saya memilih untuk berlatih karena berlatih akan membantuku tampil lebih baik untuk pertandingan mendatang.&#8221; Contoh itu menggambarkan bahwa pemain tersebut sudah mulai memiliki kesadaran akan pilihan didasarkan atas nilai atau sesuatu yang lebih baik.</p>
<p>4. <strong>Integrated</strong><strong> regulation</strong></p>
<p>Tipe keempat yang juga tipe paling tinggi berdasarkan teori self determinism adalah integrated regulation.  Dalam integrated regulation ini, pemain sudah memilih sebuah perilaku untuk dikerjakan yang bergerak dari motivasi eksternal ke tindakan yang terpilih.  Dalam kasus ini, pilihan yang diambil oleh seseorang dibuat berdasarkan fungsi-fungsi yang berhubungan dengan berbagai macam aspek dari diri seseorang.  Seorang atlet sudah memilih untuk tetap tinggal di rumah dibanding jalan-jalan bersama teman-teman, sehingga atlet tersebut akan siap menghadapi pertandingan esok hari.</p>
<p>Ada pilihan-pilihan aktivitas lain yang muncul bersamaan dengan aktivitas yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemain. Dalam tahap ini, berarti memang motivasi eksternal mencapai titik efektifnya karena selain menjadi pengatur perilaku atlet, motivasi eksternal ini juga sudah memberi kesadaran bagi seorang atlet akan perilaku yang seharusnya dia lakukan.</p>
<p align="right">Guntur Utomo</p>
<p align="right">Dari Berbagai Sumber</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/psikologiolahraga.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/psikologiolahraga.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/psikologiolahraga.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/psikologiolahraga.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/psikologiolahraga.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/psikologiolahraga.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/psikologiolahraga.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/psikologiolahraga.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/psikologiolahraga.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/psikologiolahraga.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=113&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/03/04/ketika-motivasi-ekstrinsik-menjadi-efektif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e272e8ee5c941053642aac31afa73d5?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">gunturutomo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/03/ex-motivation.jpg?w=86" medium="image">
			<media:title type="html">ex-motivation</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>