<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Stop Watch! &#187; Konsentrasi</title>
	<atom:link href="http://psikologiolahraga.wordpress.com/category/konsentrasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com</link>
	<description>Kajian Psikologi Olahraga Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 27 Jan 2010 12:12:37 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='psikologiolahraga.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/69746abd8a01e77f202faf01827669f6?s=96&#038;d=http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Stop Watch! &#187; Konsentrasi</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://psikologiolahraga.wordpress.com/osd.xml" title="Stop Watch!" />
	<atom:link rel='hub' href='http://psikologiolahraga.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Berguru Mental Juara: Obrolan Bersama Chris John</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2010/01/27/berguru-mental-juara-obrolan-bersama-chris-john/</link>
		<comments>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2010/01/27/berguru-mental-juara-obrolan-bersama-chris-john/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 12:12:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gunturutomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anxiety]]></category>
		<category><![CDATA[Confidence]]></category>
		<category><![CDATA[Fokus]]></category>
		<category><![CDATA[Konsentrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi olahraga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://psikologiolahraga.wordpress.com/?p=175</guid>
		<description><![CDATA[Juara bukanlah bawaan, melainkan sebuah proses panjang yang berisi pengorbanan dan kedisiplinan. Itulah salah satu yang bisa dipetik dari perjalanan seorang juara dunia tinju kelas bulu, Chris John. Di dalam acara internal klub sepakbola, Pro Duta FC di Yogyakarta (26/01) Chris, begitu dia biasa disapa menceritakan panjang lebar perjalanannya menjadi seorang super champion.
Chris John mengawali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=175&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Juara bukanlah bawaan, melainkan sebuah proses panjang yang berisi pengorbanan dan kedisiplinan. Itulah salah satu yang bisa dipetik dari perjalanan seorang juara dunia tinju kelas bulu, Chris John. Di dalam acara internal klub sepakbola, Pro Duta FC di Yogyakarta (26/01) Chris, begitu dia biasa disapa menceritakan panjang lebar perjalanannya menjadi seorang super champion.<span id="more-175"></span></p>
<p>Chris John mengawali karir bertinju sejak usia sangat muda. Dia mengaku memperoleh bakat bertinju dari sang ayah yang juga merupakan seorang mantan petinju. Dari kecil Chris John kecil harus melewati hari-hari yang melelahkan sebagai seorang petinju cilik. “Awalnya memang dipaksa oleh Bapak saya, tapi lama-lama saya menikmati menjadi petinju,” ujarnya dengan senyum ramah jauh dari kesan sombong seorang juara dunia.</p>
<p>Mimpi Menjadi Juara<br />
Pertandingan pertama Chris dilakoni saat usia baru menginjak 15 tahun dan dia mengaku selalu belajar dari pertandingan demi pertandingan yang dilaluinya. Untuk menjadi juara seorang atlit harus mengorbankan banyak hal mulai dari tenaga, uang dan pikiran. Pengorbanan ini dianggap sebagai sebuah proses yang memang harus dilalui agar seseorang bisa menjadi juara dunia. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi jika seseorang ingin menjadi atlet.</p>
<p>Yang pertama, seseorang harus mempunyai mimpi untuk meraih yang terbaik. Chris John sejak muda sudah menetapkan mimpinya untuk menjadi seorang juara dunia. Impian menjadi juara ini tidak hanya sebatas imajinasi, tapi kemudian mampu mempengaruhi perilaku sehari-harinya. Dia rela untuk berlatih dengan keras demi mengejar mimpi yang dia miliki tersebut. Pada waktu masih muda, Chris selalu berlatih dari jam 4 sampai jam 6 sore tanpa pernah putus. “Walaupun hujan deras, jam 4 sampai jam 6 harus selalu latihan,” Demikian ujarnya. Hal ini dia lakukan demi meraih mimpi yang dia inginkan tersebut.</p>
<p>Kedua, seorang calon juara dunia harus mampu mencintai olahraga yang dia geluti. Olahraga adalah pekerjaan yang membutuhkan ketekunan dan kerja keras. Hanya orang-orang yang mencintai pekerjaannya yang akan mampu mendapatkan hasil yang terbaik. Chris John membuktikannya, meski awalnya dipaksa oleh ayahnya, namun pada akhirnya dia memahami bahwa dia juga mencintai olahraga tersebut. Kecintaan ditambah dengan keinginan untuk mewujudkan mimpi yang membuat dia menjadi sangat tekun berlatih.</p>
<p>Syarat berikutnya adalah menjadi seorang yang disiplin. Disiplin sangat diperlukan untuk mencapai apapun yang diinginkan, terlebih lagi dalam kasus seorang atlet. Kedisiplinan akan menentukan rajin atau tidak dalam berlatih. Menurut pengakuan Chris, kedisiplinannya memang ditanamkan sejak dia masik kanak-kanak, namun bukan berarti orang ang sdah remaja tidak mampu berdisiplin. Chris John memberi tips bahwa orang akan menjadi disiplin jika didorong oleh cita-cita dan keinginan yang kuat atas sesuatu. Kedisiplinannya lebih banyak dipengaruhi oleh cita-citanya untuk menjadi seorang juara dunia. Kedisiplinan juga dia terapkan tidak hanya pada saat menjelang pertandingan, tapi juga pada kehidupan sehari-hari. Chris John rela menyiapkan semua makanannya sendiri pada saat dia menjalani pemusatan latihan di Perth. Memasak sendiri merupakan salah satu cara agar makanan yang masuk tetap bisa di kontrol. “Pernah ada orang Indonesia yang membantu masak di Perth, tapi malah makanannya terlalu banyak lemak,” katanya santai.</p>
<p>Kerja keras adalah menjadi syarat berikut yang harus dijalani oleh seorang yang bercita-cita menjadi juara. Tanpa kerja keras, mimpi hanya akan tinggal menjadi imajinasi. Kerja keras terwujud dalam proses berlatih. Chris John mengaku selalu menambah porsi latihan sendiri yang tidak mengganggu program latihan dari pelatih. “Kalau latihan tambahan tapi besok malah kecapean dan tidak bisa berlatih kan justru merugikan.”<br />
Ramuan syarat-syarat itu yang diyakini oleh Chris John menjadi ramuan yang sangat ampuh untuk mewujudkan mimpinya menjadi juara dunia.</p>
<p>Mental Toughness<br />
Kekuatan mental juga menjadi bagian penting dalam proses menjadi juara dunia. Namun kekuatan mental ini menurutnya diperoleh seiring dengan jam terbang. Menurutnya, semakin banyak seseorang bertanding, maka akan semakin matang seseorang dalam menghadapi tekanan pertandingan. Dia mencontohkan bahwa di awal-awal karirnya, dia masih sering gugup ketika akan menjalani pertandingan, namun setelah sekan lama, dia menjadi mampu mengontrol rasa gugupnya tersebut. “Saya masih sering bolak-balik ke toilet sebelum bertanding, tapi saya lebih mampu mengontrolnya sekarang,” kata suami Megawati itu.</p>
<p>Fokus dan konsentrasi juga menjadi aspek penting untuk memenangkan pertandingan. Setiap orang tidak mungkin lepas dari masalah, tapi seorang Chris John mengaku mampu membedakan antara masalah dari luar ring dan masalah dari dalam ring. Di dalam hal ini, Chris John sebenarnya mampu menerapkan apa yang disebut dengan pemilihan fokus yang benar. Banyak atlet yang tidak mampu membedakan masalah dari luar pertandingan dan masalah dalam pertandingan sehingga sering permainan menjadi terganggu karena masalah dari luar tadi mempengaruhi penampilannya.</p>
<p>Masalah keluarga, teman, pacar adalah beberapa contoh masalah yang berasal dari luar pertandingan. Chris John mengaku pernah bertanding dalam kondisi tekanan masalah dari luar yang berat. “Waktu itu masih menghadapi tuntutan dari manajemen lama, pikiran saya berat karena terbayang akan menghadapi persoalan dengan kepolisian. Tapi saya ketika bertanding saya berhasil mengontrol fokus saya,” katanya.<br />
Menjaga motivasi adalah hal penting lainnya. Motivasi Chris John yang ingin selalu menjadi juara diakui menjadi salah satu pendorong yang sangat kuat. Selain itu, dia berpesan kepada para atlet muda untuk tetap menjaga level motivasi agar tetap tinggi. “Mungkin kehadiran orang-orang yang dicintai bisa menjadi salah satu motivator untuk tampil yang terbaik.”</p>
<p>Menjaga motivasi ini juga ternyata yang membuat dia mampu mengatasi rasa takutnya. Motivasi untuk menunjukkan yang terbaik akan membuat seseorang tidak hanyut dalam rasa takut yang akhirnya memunculkan perasaan kalah sebelum bertanding. Selain itu, dia juga mengatakan bahwa jangan terlalu berpikiran tentang rasa kecewa. Rasa kecewa hanya akan mengganggu pikiran kita. “Saya memilih untuk berlatih lebih keras agar tampil lebih maksimal daripada menyesali keputusan yang sudah tidak bisa diganggu-gugat,” Katanya ayah dua puteri ini.</p>
<p>Terakhir, Chris John berpesan kepada para atlet muda tentang makna uang dan prestasi. Menurut dia, ketika awal menjalani karir bertinju, dia sama sekali tidak berpikiran soal uang yang didapat, tapi dia selalu berpikiran untuk mencapai prestasi tertinggi. Menurut dia, prestasi akan membawa seseorang mendapat penghargaan yang tinggi, termasuk dalam hal uang. “Jika belum-belum yang dipikirkan adalah uang, maka ketika uang itu belum muncul maka seseorang tidak akan bisa bekerja keras,” katanya.</p>
<p>Chris John membuktikan bahwa denganketangguhan mental dan kesungguhan serta keinginan untuk selalu belajar dia bisa mencapai prestasi yang tertinggi. Sekali lagi, menjadi juara bukanlah faktor kebetulan dan bukan juga faktor bawaan, tapi merupakan sebuah proses panjang yang menyakitkan. Bagi atlet yang mampu menekan rasa sakit dan tetap teguh dengan cita-citanya maka dia akan mendapatkan hasil yang terbaik. Untuk para atlet muda, kira penting untuk kembali memikirkan apa yang mereka sudah lakukan. Jika memang ingin mendapatkan prestasi tertinggi, maka saran-saran dari Super Champion itu patut untuk dilakukan.</p>
<p>Guntur Utomo</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/psikologiolahraga.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/psikologiolahraga.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/psikologiolahraga.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/psikologiolahraga.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/psikologiolahraga.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/psikologiolahraga.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/psikologiolahraga.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/psikologiolahraga.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/psikologiolahraga.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/psikologiolahraga.wordpress.com/175/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=175&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2010/01/27/berguru-mental-juara-obrolan-bersama-chris-john/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e272e8ee5c941053642aac31afa73d5?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">gunturutomo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menguji Efektivitas Self Talk</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/08/11/menguji-efektivitas-self-talk/</link>
		<comments>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/08/11/menguji-efektivitas-self-talk/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 06:01:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gunturutomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anxiety]]></category>
		<category><![CDATA[Confidence]]></category>
		<category><![CDATA[Konsentrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi olahraga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://psikologiolahraga.wordpress.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[Review atas artikel:
Belief in Self Talk adn Dynamic Balance Performance
Kaori Araki, dkk.
Dalam banyak literatur, hubungan antara self talk dan penampilan sudah banyak dibahas. Hasilnya, Self talk memang membantu para atlet untuk tampil maksimal seiring dengan kemampuan atletis mereka. Penelitian-penelitian itu antara lain menemukan bahwa atlet-atlet olimpiade serta para pemain tim nasional menggunakan self talk sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=157&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Review atas artikel:<br />
Belief in Self Talk adn Dynamic Balance Performance<br />
Kaori Araki, dkk.</p>
<div id="attachment_158" class="wp-caption alignleft" style="width: 126px"><img class="size-full wp-image-158" title="st1" src="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/08/st1.jpg?w=116&#038;h=104" alt="Masukkan Energi Positif" width="116" height="104" /><p class="wp-caption-text">Masukkan Energi Positif</p></div>
<p>Dalam banyak literatur, hubungan antara self talk dan penampilan sudah banyak dibahas. Hasilnya, Self talk memang membantu para atlet untuk tampil maksimal seiring dengan kemampuan atletis mereka. Penelitian-penelitian itu antara lain menemukan bahwa atlet-atlet olimpiade serta para pemain tim nasional menggunakan self talk sebagai strategi pembangun motivasi (Hardy, Gammage, &amp; Hall, 2005), self talk untuk mempercepat penguasaan keterampilan (Landin &amp; Hebert, 1999), untuk mengontrol fokus perhatian (Gould, Eklund, &amp; Jakcson, 1992), dan untuk meningkatkan rasa percaya diri (Landin &amp; Hebert, 1983).<span id="more-157"></span></p>
<p>Definisi self talk sendiri adalah sebuah fenomena multidimensi yang berkaitan dengan verbalisasi yang dilakukan oleh atlet yang ditujukan pada diri mereka sendiri (Hardy, hall, &amp; Hardy, 2005). Secara sederhana self talk adalah berbicara pada dirinya sendiri. Hampir setiap saat seseorang melakukan apa yang disebut dengan self talk ini, baik dalam bentuk yang posisif maupun negatif. Self talk yang positif adalah ucapan-ucapan yang positif kepada diri sendiri sepert &#8220;kamu mampu mengatasi lawan&#8221;, &#8220;pecahkan rekormu sendiri&#8221;, dan sebagainya. Sedang self talk negatif adalah ucapan-ucapan yang mengandung unsur ketidakpercayaan diri seperti, &#8220;Duh, kok lawan tampil hebat ya?&#8221;, &#8220;Aku pasti kalah&#8221;, dan sebagainya.</p>
<p>Penelitian yang dilakukan oleh Araki, dkk., ini mencoba mencari tahu seberapa efektif self talk terhadap penampilan seorang atlet. Penelitan eksperimental ini dilakukan kepada 125 pelajar. Mereka harus mengisi dua buah questionnaire, yakni Belief in Self-Talk Questionnaire serta Type of Self-Talk Questionnaire. Kuesiner pertama bertujuan melihat seberapa besar keyakinan subjek terhadap teknik Self-Talk, sedang kuesioner kedua bertujuan untuk melihat jenis-jenis Self-Talk yang digunakan dan diberikan sebelum dan sesudah subjek melakukan aktivitas keseimbangan dalam alat yang bernama Stabilometer.</p>
<p>Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek yang mempunyai skor tinggi dalam Belief of Self Talk Questionnaire mampu menjaga keseimbangan dalam waktu yang lebih lama dibandingkan subjek yang tidak begitu tinggi dalam mengisi kuesioner serupa. Temuan lain adalah tipe-tipe self talk yang paling sering dipakai adalah kategori Fokus (85 %), kemudian Instruksional (65%), Motivasional (50%), menenangkan (49%), performance worry (26%), keraguan pada diri(15%), dan frustrasi (14%).</p>
<p>Dari penelitian tersebut bisa dilihat bahwa Self-Talk masih efektif untuk meningkatkan kualitas penampilan. Hal ini menguatkan bahwa Self-Talk menjadi salah satu metode yang harus dilatihkan kepada para atlet dalam mencapai prestasi yang tertinggi. Alasan dasarnya adalah Self-Talk mengajari seseorang untuk selalu waspada dan berpikiran positif terhadap diri sendiri. Ketika seorang atlet sudah mulai ragu dengan penampilannya, dan mulai mengatakan hal-hal yang negatif berkaitan dengan diri dan kemampuan dirinya, maka kemampuan potensial atlet tersebut dengan sendirinya akan berkurang. Efeknya, kepercayaan diri, motivasi akan menurun dan keraguan serta kecemasan akan meningkat.</p>
<p>Pemilihan tipe-tipe self talk juga sangat mempengaruhi penampilan. Untuk itulah, proses pengajaran self talk harus benar-benar terfokus sehingga bisa menambal kekurangan seorang atlet dalam hal kualitas mental. Seorang atlet yang mempunyai kecenderungan lemah dalam hal motivasi, maka dia harus diajarkan untuk melakukan self talk yang bersifat motivasional, begitu juga dengan atlet yang kurang dalam mengatasi kecemasan atau rasa kuatir, maka atlet tersebut harus banyak diajak untuk melatih self talk calming (menenangkan).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/psikologiolahraga.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/psikologiolahraga.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/psikologiolahraga.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/psikologiolahraga.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/psikologiolahraga.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/psikologiolahraga.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/psikologiolahraga.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/psikologiolahraga.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/psikologiolahraga.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/psikologiolahraga.wordpress.com/157/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=157&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/08/11/menguji-efektivitas-self-talk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e272e8ee5c941053642aac31afa73d5?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">gunturutomo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/08/st1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">st1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menguasai Perhatian!</title>
		<link>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/06/08/menguasai-perhatian/</link>
		<comments>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/06/08/menguasai-perhatian/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 10:21:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gunturutomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fokus]]></category>
		<category><![CDATA[Kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[Konsentrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Perhatian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://psikologiolahraga.wordpress.com/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Ada relasi yang sangat dekat antara perhatian(Atensi) dengan penampilan seorang atlet pada saat pertandingan. Sederhananya, jika seseorang mencoba untuk memusatkan perhatian pada lebih dari 2 rangsangan, maka kecenderungan yang muncul adalah penampilan akan terganggu. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya kemampuan dari manusia untuk memproses informasi secara bersamaan. Untuk itulah penting bagi seorang atlet atau pemain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=142&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_143" class="wp-caption alignleft" style="width: 130px"><img class="size-full wp-image-143" title="konsentrasi 2" src="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/06/konsentrasi-2.jpg?w=120&#038;h=89" alt="Fokuslah!" width="120" height="89" /><p class="wp-caption-text">Fokuslah!</p></div>
<p>Ada relasi yang sangat dekat antara perhatian(Atensi) dengan penampilan seorang atlet pada saat pertandingan. Sederhananya, jika seseorang mencoba untuk memusatkan perhatian pada lebih dari 2 rangsangan, maka kecenderungan yang muncul adalah penampilan akan terganggu. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya kemampuan dari manusia untuk memproses informasi secara bersamaan. Untuk itulah penting bagi seorang atlet atau pemain untuk berlatih memusatkan perhatian pada satu hal yang spesifik.<span id="more-142"></span></p>
<p>Menurut Galloti ,seorang ilmuwan yang sering melakukan penelitian di bidang atensi atlet, perhatian (atensi) adalah <em>Cognitive resources, mental effort, or concentration devoted to a cognitive process. </em> Artinya, perhatian merupakan proses kognitif yang bersifat aktif maupun pasif. Aktif berarti atlet atau seseorang harus mencoba untuk mengarahkan proses kognitifnya ke arah stimulus yang ingin diperhatikan, sedangkan tidak aktif memberi isyarat bahwa kondisi mental seseorang bisa mengarahkan perhatian ke arah sesuatu yang tidak disadari. Dalam bahasa sehari-hari atensi ini disebut juga dengan konsentrasi.</p>
<p>Proses latihan adalah sebuah proses agar para atlet mampu mengeksekusi gerakan-gerakan olahraganya secara otomatis. Sebagai contoh, seorang pemain bola basket tidak perlu lagi berfikir tentang posisi tangan yang benar pada saat melakukan dribel bola. Jika masih berpikir tentang bagaimana seharusnya posisi tangan atau kaki saat melakukan dribel, akan sangat mungkin gerakan menjadi tidak maksimal. Proses latihan memegang peranan penting dalam hal ini.</p>
<p>Setelah seorang pemain mampu untuk melakukan otomatisasi gerakan (khususnya gerakan-gerakan dasar), maka pemain dapat mencurahkan perhatian atau fokusnya kepada hal-hal yang bersifat taktis. Seorang pegolf tinggal memikirkan berapa kali dia harus memukul dalam satu <em>hole</em>, atau pemukul mana yang sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi. Kasus lain, pemain sepakbola seharusnya berpikir ke ruang sebelah mana dia harus bergerak setelah mengumpan dibanding bagaimana posisi kaki saat melakukan passing.</p>
<p>Yang menjadi persoalan adalah sumber gangguan (distraktor) ketika menjalani pertandingan biasanya bersifat heterogen dan jumlahnya cukup banyak. Sebut saja kondisi lawan, penonton, gedung tempat pertandingan, teriakan pelatih, atau kondisi diri sendiri. Jika situasi-situasi tersebut masih bergantian masuk ke dalam pikiran seseorang, maka bisa dikatakan bahwa atlet tersebut belum mampu mengontrol perhatiannya.</p>
<p><strong>Dimensi Perhatian</strong></p>
<p>Gaya perhatian masing-masing orang sangatlah berbeda. Hal ini tergantung kondisi emosi dan karakter masing-masing atlet. Gaya perhatian adalah kecenderungan seseorang melihat dan memperhatikan suatu stimulus yang bersifat konsisten untuk situasi dan kondisi yang berbeda-beda. Hal ini sangat berkaitan dengan sudut pandang yang diambil oleh seseorang dalam rangka memusatkan perhatiannya serta jenis-jenis stimulus yang diambil untuk diperhatikan. Dalam proses sehari-hari, gaya perhatian ini banyak dilihat dari titik perhatian (<strong>attentional focus</strong>).</p>
<p>Ada dua dimensi dalam titik perhatian ini. Yang pertama adalah Width (lebar perhatian). Lebar perhatian berkaitan dengan jumlah stimulus yang diambil untuk diperhatikan, bergerak mulai dari yang sempit (<strong>narrow</strong>) sampai yang longgar (<strong>broad</strong>). <strong>Narrow attentional focus</strong> adalah memfokuskan diri dengan satu spesifik stimulus. Sedangkan <strong>broad attentional focus</strong> adalah memfokuskan diri pada banyak stimulus. Dalam keadaan tertentu, kedua jenis ini harus dilakukan. Pada atlet bilyar, akan menguntungkan jika menggunakan <strong>narrow attentional focus</strong> karena pukulan yang harus dilakukan benar-benar membutuhkan gerak motorik yang sangat halus. Sebaliknya, seorang playmaker tim sepakbola harus mampu mengakomodasi <strong>broad attentional focus</strong> dalam rangka menciptakan kreasi-kreasi serangan.</p>
<p>Dimensi yang kedua adalah <strong>attentional direction</strong> (arah perhatian). Dimensi ini berkaitan dengan kemana perhatian diarahkan, apakah ke arah dalam diri (<strong>internal attentional focus</strong>) atau ke arah luar diri (<strong>external attentional focus</strong>). Ketika seorang atlet menggunkan fokus internal, maka dia akan memperhatikan segala sesuatu yang ada dalam dirinya. Sedang atlet yang cenderung menggunakan <strong>external attentional focus</strong> akan lebih mewaspadai dan memperhatikan stimulus yang berasal dari luar dirinya.</p>
<p><strong>Strategi Meningkatkan Konsentrasi</strong></p>
<p>Konsentrasi juga memerlukan latihan. Semakin orang mampu berkonsentrasi atau memusatkan perhatian pada satu hal yang paling penting, maka orang itu akan mempunyai kecenderungan untuk sukses dalam pertandingan. Berikut ini beberapa tips latihan yang bisa dilakukan:</p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li><strong>Mencari yang Harus di Perhatikan</strong></li>
</ul>
<p>Hal yang paling sulit dalam latihan konsentrasi adalah mencari tau apa yang seharusnya diperhatikan dalam situasi-situasi tertentu. Untuk itu, atlet harus menyiapkan sebuah buku catatan yang gunanya untuk mencatat apapun yang diperhatikan pada kondisi-kondisi khusus. Setelah beberapa hari, evaluasilah apa yang tertulis. Dari catatan-catatan tersebut serta evaluasi akan diperoleh jenis dan stimulus apa yang seharusnya diperhatikan untuk meningkatkan penampilan serta bagaimana meningkatkan jenis perhatian tersebut.</p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li><strong>Realistis</strong></li>
</ul>
<p>Konsentrasi yang efektif sangat menguras energi. Untuk itu perlu tetap selalu realistis agar tidak proses pemusatan perhatian menjadi efektif. Tidak perlu mengontrol semua hal yang masuk ke persepsi kita, tapi yang lebih penting adalah tahu kapan dan bagaimana memusatkan perhatian pada momen yang paling penting.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li><strong>Gunakan Kata Kunci</strong></li>
</ul>
<p>Kata kunci berkaitan dengan self talk. Kata kunci berguna untuk memancing respon-respon tertentu. Sebagai contoh, jika Anda ingin mengembalikan perhatian pada pekerjaan yang sedang dikerjakan, maka Anda bisa menggunakan kata-kata,”Ayo Fokus!”, atau “kembali ke pertandingan!” dan sebagainya. Jika seorang pemain golf atau bilyar terlalu berkonsentrasi pada ayunan tangan atau dorongan stik bilyar dibanding dengan placing bola, maka bisa digunakan kata “Main!”. Dan sebagainya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li><strong>Berlatih dalam Kondisi yang Menggangu</strong></li>
</ul>
<p>Seringkali lingkungan latihan sangat tenang dan tidak banyak hal yang mengganggu. Namun, ketika menghadapi pertandingan, situasi yang ada di latihan tersebut tidak bisa dijumpai. Untuk itu, pemain harus mencoba untuk berlatih dalam situasi dan kondisi yang mirip dengan suasana pertandingan. Jika pertandingan nanti akan disaksikan oleh banyak penonton yang bersorak-sorai, maka latihan harus dilakukan ditempat yang banyak orang yang mengganggu juga. Dengan latihan ditempat yang banyak gangguan, pemain akan belajar bagaimana memilih satu stimulus yang penting.</p>
<ul>
<li><strong>Berlatih Mengalihkan Perhatian</strong></li>
</ul>
<p>Ketika perhatian sudah tidak terkendali, pemain harus segera menyadarinya. Setelah menyadari, penting bagi pemain tersebut untuk segera memilih titik focus yang harus diambil. Atlet-atlet olahraga individual seringkali mengalami persoalan tidak mampu memilih konsentrasi yang tepat ini. Untuk itu, berlatih mengalihkan perhatian menjadi sesuatu yang vital.</p>
<ul>
<li><strong>Rutin</strong></li>
</ul>
<p>Melakukan kompetisi yang menekan sesering mungkin akan membantu atlet belajar memusatkan perhatian. Untuk itulah, kompetisi sangat dibutuhkan bagi para atlet agar kemampuan mentalnya juga meningkat. Tidak hanya kompetisi melawan pemain atau tim lain, dalam proses latihan, pelatih juga wajib menciptakan iklim kompetisi agar para pemain terbiasa berada dalam situasi yang menekan dan terbiasa memilih stimulus yang tepat untuk diperhatikan.</p>
<p style="text-align:right;"><strong>Guntur Utomo</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/psikologiolahraga.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/psikologiolahraga.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/psikologiolahraga.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/psikologiolahraga.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/psikologiolahraga.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/psikologiolahraga.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/psikologiolahraga.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/psikologiolahraga.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/psikologiolahraga.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/psikologiolahraga.wordpress.com/142/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=psikologiolahraga.wordpress.com&blog=1514174&post=142&subd=psikologiolahraga&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://psikologiolahraga.wordpress.com/2009/06/08/menguasai-perhatian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e272e8ee5c941053642aac31afa73d5?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">gunturutomo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://psikologiolahraga.files.wordpress.com/2009/06/konsentrasi-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">konsentrasi 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>